Sebelum berangkat ke Arab Saudi, ada satu keputusan besar yang lebih dulu ia selesaikan. Ia memberanikan diri mendaftarkan anak-anaknya ke sekolah dan pesantren. Seluruh biaya pendidikan itu ia tuntaskan sebelum keberangkatan.
Bagi Azis, meninggalkan keluarga selama dua bulan bukan perkara mudah. Ia tinggal jauh dari keluarga besar di Sumenep maupun Magelang. Sementara di rumah, ada istri dan tiga anak kecil yang harus ditinggalkan. “Itu pengorbanan terbesar,” katanya pelan.
Ada rasa bersalah setiap kali membayangkan anak-anaknya tumbuh tanpa kehadirannya selama berbulan-bulan. Tetapi di sisi lain, ia tahu tugas ini juga bagian dari jalan hidup yang harus dijalani.
Sebelum berangkat, Azis membayangkan ibadah haji sebagai momentum untuk memperbanyak ibadah pribadi. Namun setelah benar-benar berada di Tanah Suci, pandangannya berubah.
Sebagai petugas, ia merasa ibadah terbesar justru hadir lewat pelayanan kepada jemaah. “Melayani dhuyufur rahman,” katanya tegas dan singkat.
Ia tetap berusaha istiqamah menjaga shalat berjamaah bila memungkinkan. Tetapi di sela-sela tugas yang padat, ia mulai memahami bahwa membantu jemaah yang kesulitan juga merupakan bentuk ibadah yang sangat besar.
Dan di situlah ia mulai benar-benar merasakan bahwa haji memang ibadah fisik. Tubuh lelah. Tenaga terkuras. Cuaca panas menjadi tantangan harian yang tidak mudah dihadapi.
“Beradaptasi dengan cuaca panas,” jawabnya saat ditanya tantangan terbesar selama bertugas.
Saat miqat
Di antara seluruh pengalaman di Tanah Suci, ada beberapa momen yang membuat Azis tak mampu menahan tangis. Momen pertama terjadi saat mengambil miqat di Yalamlam.
Ketika melafalkan talbiyah, tubuhnya mendadak merinding. Air mata jatuh begitu saja tanpa bisa ditahan. “Saya tiba-tiba menangis,” ungkapnya.
Tangisan itu kembali datang ketika ia melihat para jemaah lansia tiba di Tanah Suci. Ia melihat bagaimana tubuh-tubuh renta itu tetap bersemangat menjalankan ibadah meski langkah mereka sudah tidak lagi kuat. Pemandangan itu membuat hatinya tersentuh.
Namun momen paling emosional terjadi saat ia membantu mendorong kursi roda seorang ibu dari pelataran Masjidil Haram menuju Terminal Syib Amir.
Di tengah perjalanan, ia mendadak teringat ibunya di rumah. “Saya ingat ibu saya yang tidak bisa berjalan sempurna karena stroke,” tuturnya.
Dan lagi-lagi, air mata itu jatuh.
Tak sekadar menuju Ka’bah
Bagi Azis, pengalaman di Tanah Suci perlahan mengubah cara pandangnya tentang hidup. Ia merasa semakin yakin bahwa manusia sebaiknya hidup untuk memberi manfaat kepada orang lain.
“Mungkin semakin meyakini kalau kita harus jadi orang yang bermanfaat,” ujarnya.
Ia sadar dirinya masih punya banyak kekurangan dan dosa. Tetapi Makkah memberinya semangat spiritual baru untuk terus memperbaiki diri.
Tidak ada target muluk yang ia pasang sepulang dari haji nanti. Tidak ada janji besar yang ingin diumumkan. “Saya mengalir saja.”
Namun di balik kalimat sederhana itu, ada satu harapan yang terus ia jaga: tetap istiqamah berbuat baik dan membantu sesama.
Karena di Tanah Suci, Abdul Azis belajar satu hal penting. Bahwa haji bukan sekadar perjalanan menuju Ka’bah. Melainkan perjalanan pulang untuk menemukan kembali hati yang selama ini mungkin terlalu sibuk mengejar dunia.*
