MADINAH — Sektor 4 Madinah menjadi salah satu titik tersibuk dalam operasional penyelenggaraan haji Indonesia tahun ini. Tak hanya menerima kedatangan jemaah dari Tanah Air, sektor ini juga bersiap mendorong ribuan jemaah menuju Makkah.
Kepala Sektor 4 Madinah, Mualim Tamim M, mengatakan hingga saat ini pihaknya telah menangani 18 kedatangan jemaah dan tujuh keberangkatan atau pendorongan menuju Makkah.
“Persiapan untuk menyambut kedatangan ini kita sudah mengambil kunci yang dipersiapkan bagaimana supaya jemaah haji ini cepat beristirahat,” ujar Tamim, Kamis (7/5/2026).
Begitu turun dari bus, jemaah langsung diarahkan masuk ke lift menuju lantai dan kamar masing-masing. Nomor kamar, kata dia, sudah ditentukan berdasarkan manifest yang diterima petugas.
“Di masing-masing lantai kita sudah siapkan banyak petugas untuk mengarahkan ke kamar masing-masing sehingga diharapkan para jemaah haji ini tidak mengalami kelelahan setelah sekian lama menempuh perjalanan dari tanah air ke tanah suci,” katanya.
Namun di balik kelancaran itu, Sektor 4 menghadapi tantangan yang tak kecil. Wilayah ini menjadi sektor dengan hotel terbanyak di Madinah.
“Sektor 4 Madinah adalah sektor yang paling banyak hotel karena di sini ada 26 hotel dan tambahan satu hotel jadi 27 hotel,” ujar Tamim.
Banyaknya hotel membuat persoalan ‘pecah hotel’ hingga ‘pecah sektor’ kerap terjadi. Dalam istilah operasional haji, pecah hotel terjadi ketika anggota rombongan menginap di hotel berbeda, sedangkan pecah sektor berarti jemaah tersebar di wilayah sektor berbeda yang jaraknya lebih jauh.
“Kalau pecah hotel saja akan kita antarkan secepatnya dan biasanya pecah hotel ini berdekatan hotelnya. Tapi kalau sudah pecah sektor maka pastinya hotel ini akan jauh,” katanya.
Meski begitu, Tamim memastikan jemaah tak perlu khawatir. Pihak sektor telah menyiapkan kendaraan khusus untuk mengantar jemaah langsung ke hotel tujuan.
“Kita ada mobil yang disediakan oleh pihak dakar dan juga disiapkan oleh pihak kita sektor. Sehingga kalau ada pecah hotel dan pecah sektor itu lalu kita dengan secara langsung tidak berhenti di hotel yang dituju tapi langsung diantarkan ke hotel yang bersangkutan,” jelasnya.
Menurut Tamim, tantangan lain datang dari pola kedatangan jemaah di bandara. Ia menyebut susunan rombongan yang tidak sesuai urutan membuat proses penempatan kamar menjadi lebih lambat.*
“Hal ini disebabkan bandara dituntut untuk percepatan atau akselerasi kenaikan para jemaah haji menuju kota Madinah,” ujarnya.
Akibatnya, petugas harus memilah ulang jemaah berdasarkan rombongan sebelum diarahkan ke kamar masing-masing.
“Kalau tidak sesuai dengan rombongannya maka kita akan memilah dan memilih lagi bagaimana jemaah itu sesuai rombongan sehingga akan langsung menuju lantai yang ditempati jemaah masing-masing,” kata Tamim.
Menjelang gelombang berikutnya, ia berharap proses penyusunan manifest dan jadwal keberangkatan bisa lebih rapi dan minim perubahan mendadak.
“Harapan dari kita gelombang dari bandara ke Madinah adalah lebih teratur lagi ketika menyusun manifest dan tidak ada perubahan-perubahan jadwal,” tuturnya.
Dengan data yang lebih stabil, petugas sektor mengaku bisa mempersiapkan konfigurasi kamar hingga distribusi kunci hotel sejak dua atau tiga hari sebelum kedatangan jemaah.
“Sehingga kita tinggal mengarahkan jemaah haji untuk langsung ke kamarnya masing-masing untuk beristirahat,” pungkasnya.*
