JAKARTA – Dalam setiap pemilu lima tahunan, rakyat Indonesia datang ke bilik suara dengan satu keyakinan, yaitu memilih masa depan. Namun, ada ironi yang terlalu lama dibiarkan; kita memilih, tetapi tidak pernah benar-benar punya pilihan.
Fenomena ini bukan sekadar kritik normatif. Dalam perspektif ilmu sosial, Clifford Geertz menyebutnya sebagai “deep play” yaitu sebuah permainan dengan taruhan tinggi yang secara rasional seharusnya tidak diikuti, tetapi tetap dijalankan karena sarat makna simbolik.
Geertz, dalam esainya Deep Play: Notes on the Balinese Cockfight, menunjukkan bahwa sabung ayam bukan sekadar perjudian, melainkan representasi struktur kekuasaan, status sosial, dan identitas kolektif. Ayam bukan hanya hewan, tetapi merupakan simbol pemiliknya.
Dengan melihat karakteristik sabung ayam, kita bisa menarik sebuah perumpamaan atau metafora bahwa; pemilu kita semakin menyerupai arena sabung ayam.
Rakyat duduk di pinggir gelanggang, menyaksikan dua “ayam politik” bertarung. Namun seperti dalam analisis Geertz, yang bertarung sebenarnya bukan ayam, melainkan representasi dari kekuatan sosial di belakangnya. Kandidat bukan aktor otonom; mereka adalah simbol dari jaringan kekuasaan partai.
Dan seperti dalam sabung ayam Bali, keterlibatan publik sering kali tidak lahir dari kepemilikan, melainkan dari mekanisme taruhan yang melahirkan emosi, loyalitas semu, bahkan polarisasi identitas.
Geertz menyebut praktik ini sebagai bentuk “cerita yang diceritakan masyarakat tentang dirinya sendiri”. Jika demikian, maka pemilu kita hari ini adalah cerita tentang keterasingan rakyat dari kekuasaan.*
Laksamana Sukardi, Politikus Senior.
