MADINAH — Jemaah haji asal Semarang yang tergabung dalam Kloter SOC 25 mengikuti rangkaian city tour seputar Madinah, Sabtu (2/5/2026/) pagi. Sebanyak delapan bus disiapkan oleh pihak penyelenggara untuk mengangkut 360 jemaah yang menginap di Hotel Al-Shofwat al-Madinah tersebut.
Ada tiga tujuan utama city tour kali ini, yaitu kebun kurma, Masjid Quba dan Jabal Uhud. Seluruh jemaah tampak antusias mengikuti kegiatan ini. Apalagi bagi mereka yang pertama kali menginjakkan kaki di Kota Suci Madinah. Pengalaman ini akan sangat berharga bagi mereka.
Di setiap bus telah disiapkan seorang guide (pemandu) yang memberikan informasi tentang Madinah dan tempat-tempat bersejarah di dalamnya. Para pemandu ini biasanya adalah mahasiswa-mahasiswa Indonesia yang sedang menuntut ilmu di Madinah.
Jemaah asal Semarang bernama Diana Rahmawati, terlihat antusias mengikuti rangkaian city tour ini. Ia tak kuasa menahan haru dan bahagia karena penantian panjangnya untuk beribadah haji akhirnya tercapai.
“Ini ketiga kalinya saya berada di Madinah. Dulu saya sudah pernah umrah dua kali. Nuansa haji dan umrah memang beda,” tutur perempuan yang tergabung dalam Kloter SOC 25 itu.
Bagi Diana, perjalanan ini bukan sekadar ibadah, tetapi juga penantian panjang yang akhirnya terwujud.
Kunjungan pertama rombongan jemaah SOC 25 adalah kebun kurma. Di tempat ini, selain dapat membeli kurma dan beragam oleh-oleh haji lainnya dengan harga miring, jemaah juga dapat menikmati keteduhan kebun kurma.
“Kita bisa melihat produk-produk kurma, kemudian aneka kacang-kacangan khas Arab. Selain kurma, ada juga bermacam-macam perhiasan yang lucu dan unik bergambar unta. Pokoknya senang sekali bisa mencicipi aneka macam jenis kurma,” tuturnya.
Usai berwisata di kebun kurma, jemaah kemudian dibawa menuju Masjid Quba untuk ziarah dan shalat sunah. Masjid Quba adalah salah satu situs penting dalam sejarah Islam. Di tempat ini, Diana merasakan pengalaman spiritual yang kuat.
“Alhamdulillah bisa shalat dua rakaat di Masjid Quba, dan banyak berdoa. Masya Allah, ternyata ini masjid yang pertama kali dibangun oleh Rasulullah. Saya jadi terharu di sana,” ujarnya.
Di masjid ini, Diana mendoakan seluruh keluarganya di tanah air dengan sepuasnya. Sebagai ibu rumah tangga, Diana mengaku perjalanan ini adalah hasil penantian panjang selama lebih dari satu dekade. Penantian itu sempat tertunda oleh pandemi, namun kesabaran akhirnya terbayar.
Kini, di tengah aktivitas ibadah dan adaptasi di Tanah Suci, satu harapan terus ia panjatkan.
“Semoga nanti prosesi haji bisa lancar. Amin,” harapnya.*
