17 hours ago
3 mins read

‘Sepiring Indonesia’ di Kota Nabi

Kepala Chef Meez Mary, Abdurrahman (kanan). (Foto: Chairul Akhmad)

MADINAH — Menjelang hiruk-pikuk kedatangan jemaah haji Indonesia di Kota Madinah, ada satu bagian dari sekian banyaknya unsur pendukung pelaksanaan haji yang bekerja dalam senyap namun menentukan: dapur. Tak sekadar mengurus logistik, tetapi bagaimana menghadirkan rasa Indonesia di Tanah Suci. 

Di antara puluhan perusahaan katering yang melayani konsumsi jemaah haji, Dapur Meez Mary menjadi salah satu simpul di Madinah. Ia mengolah ribuan porsi masakan setiap hari dengan standar yang tak bisa ditawar: harus terasa seperti di rumah.

Di dalam bangunan megah di jantung Kota Sang Nabi, yang terdiri dari sejumlah ruang, chef dan para pekerja seolah tiada henti bergerak menyajikan masakan terbaik demi kepuasaan jemaah.

Kepala Chef Meez Mary, Abdurrahman, menuturkan dapurnya telah mematangkan seluruh persiapan jauh sebelum jemaah tiba. Mulai dari pemilihan bahan baku, rempah-rempah, hingga menu harian disusun untuk menjawab kebutuhan lidah Indonesia.

“Kami sudah siapkan semua, termasuk rempah-rempah dan sambalnya. Juga yang lainnya seperti lauk-pauk dan daging. Insya Allah untuk kedatangan jemaah kloter pertama, persiapan kita sudah maksimal,” ujarnya saat ditemui di Madinah, Minggu (19/4/2026).

Bagi Abdurrahman, kunci utama bukan sekadar memasak dalam jumlah besar, melainkan menjaga konsistensi rasa. Asin, pedas, dan manis harus tetap “Indonesia”, meski dimasak di dapur industri dengan skala ribuan porsi.

Menu yang dihadirkan pun tidak tunggal. Dapur ini meracik keberagaman Nusantara dalam satu siklus konsumsi—menggabungkan cita rasa dari berbagai daerah.

“Menunya memang dari berbagaai daerah, ada dari Kalimantan, Sulawesi, Sumatera, Jawa maupun Sunda,” tutur pria asli Cianjur itu.

“Dari rendang hingga ayam woku, dari olahan daging khas daerah hingga menu rumahan, semuanya disusun untuk menjaga kedekatan rasa dengan jemaah. Namun di atas semua itu, ada satu menu yang tak tergantikan: tempe,” sambungnya.

Tempe termasuk salah satu menu favorit jemaah haji Indonesia. Dan di dapur Meez Mary, tempe bukan sekadar pelengkap. Ia adalah simbol. Bahkan diproduksi sendiri untuk memastikan kualitas dan kontinuitas pasokan.

“Favoritnya, makanan khas Indonesia itu tempe. Makanya diprioritaskan menu tempe itu dalam satu menu itu ada lima menu berbahan tempe. Dan tempe ini kita produksi sendiri setiap hari,” ujarnya.

Keputusan menjadikan tempe sebagai salah satu menu prioritas bukan tanpa alasan—permintaan jemaah menjadi faktor penentu. Dan untuk menjaga autentisitas rasa, dapur ini juga mendatangkan langsung rempah-rempah dari Indonesia. Contohnya lengkuas, daun jeruk, daun salam, pala, kencur, kunyit, jahe, asam, hingga santan.

Di sisi lain, kata Abdurrahman, penggunaan bumbu pasta menjadi solusi efisiensi produksi tanpa mengorbankan kualitas rasa. Sistem ini memastikan setiap dapur tetap menghasilkan cita rasa yang seragam.

Produksi tempe di Dapur Meez Mary. (Foto: Chairul Akhmad)

Dapur ramah lansia
Isu lain yang tak kalah penting adalah layanan bagi jemaah lansia. Namun pendekatan yang diambil kini lebih adaptif, tidak lagi berbasis angka, melainkan kebutuhan riil di lapangan. Menu lansia seperti nasi tim dan bubur ayam, senantiasa dihadirkan demi kenyamanan jemaah. Evaluasi dari musim haji sebelumnya menunjukkan, tidak semua lansia menginginkan menu khusus. Karena itu, fleksibilitas menjadi kunci.

Di balik operasional dapur ini, skala produksi berjalan dalam angka besar. Ia melayani puluhan ribu porsi dalam satu musim. Namun kerja besar ini nyaris tak terlihat, tersembunyi di balik sistem yang bekerja tanpa henti. Bagi jemaah, dampaknya sederhana tapi bermakna: sepiring nasi hangat, sambal, dan tempe yang mengobati rindu.

Pemilik Meez Mary, Mohammad Sadiq, menyebut perjalanan dapurnya kini memasuki tahun keenam. Dan kini makin menguat, terutama sejak dipercaya menangani konsumsi jemaah Indonesia.

“Setelah pandemi Covid sampai sekarang, kami bekerja sama dengan misi haji Indonesia. Alhamdulillah, Meez Mary melayani para jemaah dengan amanah dan keikhlasan, karena kami menggunakan bumbu Indonesia dan beras Indonesia,” tuturnya. 

“Dan sebagian besar masakan kami adalah masakan Indonesia. Kami juga memiliki satu tim penuh dari Indonesia,” ia menambahkan.

Kekuatan dapur ini, menurut Sadiq, juga terletak pada sumber daya manusia yang didominasi tenaga kerja dari Indonesia.

“Sekitar 25 karyawan kami dari Indonesia, dari berbagai daerah seperti Banten, Bogor, dan Cianjur,” ungkapnya.

Tak hanya saat musim haji, operasional Meez Mary berjalan sepanjang tahun untuk melayani jemaah umrah dalam jumlah besar. Untuk jemaah umrah, Meez Mary melayani sekitar 2.500-3.000 jemaah setiap hari, terutama dari Indonesia dan Malaysia. 

Tak hanya dari Indonesia, Meez Mary juga didukung oleh koki dari berbagai negara, mulai Uzbekistan, Irak, Mesir, hingga Pakistan. Dapur ini mampu menghadirkan beragam masakan global. Namun satu hal tetap dijaga: prioritas pada cita rasa Indonesia.

“Semua jenis masakan bisa kami sajikan, semuanya lengkap. Namun khusus musim haji, kami bekerja sama dengan misi haji Indonesia untuk melayani jemaah sebaik mungkin,” tandas Sadiq.

Bagi lelaki ramah dan murah senyum ini, menghadirkan ‘sepiring Indonesia’ di Kota Nabi adalah tugas mulia yang tak sekadar soal rasa, tetapi juga tentang merawat rindu jemaah di Tanah Suci.*

Komentar

Your email address will not be published.

Go toTop

Jangan Lewatkan

Standar Ketat Konsumsi Jemaah di Madinah

MADINAH — Layanan konsumsi bagi jemaah haji Indonesia di Madinah dipastikan

118 Hotel di Madinah Siap Tampung Jemaah Haji Indonesia

MADINAH – Seksi Akomodasi Daerah Kerja (Daker) Madinah memastikan sebanyak
toto slot situs togel situs togel
toto slot
slot88