3 days ago
2 mins read

Di Balik Gagalnya Kesepakatan AS-Iran 

Perundingan AS-Iran di Islamabad, Pakistan. (Foto: TRT)

ISLAMABAD – Amerika Serikat dan Iran gagal mencapai kesepakatan gencatan senjata setelah perundingan intensif di ibu kota Pakistan. Wakil Presiden AS, JD Vance, menyatakan Iran menolak syarat yang diajukan Washington, sementara pihak Iran menegaskan sejak awal tidak mengharapkan kesepakatan tercapai dalam pertemuan pertama.

Perundingan tingkat tinggi yang berlangsung selama 21 jam di Islamabad ini menjadi kontak paling signifikan antara kedua negara sejak Revolusi Islam Iran 1979.

“Kabar buruknya adalah kami belum mencapai kesepakatan, dan saya pikir itu lebih buruk bagi Iran daripada bagi Amerika Serikat,” kata Vance kepada wartawan pada Minggu, (12/4/2026) sebelum meninggalkan Islamabad.

Ia menambahkan, Iran memilih “tidak menerima syarat kami” dalam perundingan yang dimulai sejak Sabtu. Menurutnya, AS membutuhkan komitmen mendasar dari Teheran untuk tidak mengembangkan senjata nuklir.

“Kami perlu melihat komitmen tegas bahwa mereka tidak akan mengejar senjata nuklir dan tidak akan mencari sarana yang memungkinkan mereka dengan cepat mencapai senjata nuklir,” ujar Vance seperti dikutip Aljazeera.

Laporan dari Washington menyebut kehadiran Donald Trump yang mengutus Vance menunjukkan keseriusan AS dalam perundingan ini. Namun, kepergian Vance tidak serta-merta menandakan dialog telah berakhir, karena negosiasi masih bisa berlanjut secara tidak langsung.

Isu utama yang menjadi ganjalan antara lain penguasaan Selat Hormuz oleh Iran serta perbedaan tajam terkait program nuklir. AS tidak hanya meminta Iran menghentikan pengembangan senjata nuklir, tetapi juga tidak mengakses teknologi yang dapat mengarah ke sana—tuntutan yang dinilai sangat berat.

Di sisi lain, Kementerian Luar Negeri Iran menegaskan tidak realistis mengharapkan kesepakatan dalam satu pertemuan.

“Secara alami, sejak awal kita tidak boleh mengharapkan mencapai kesepakatan dalam satu sesi. Tidak ada yang memiliki ekspektasi seperti itu,” ujar juru bicara kementerian, Esmaeil Baghaei.

Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, yang memimpin delegasi Teheran, menyatakan pihaknya telah mengajukan inisiatif ke depan, namun AS belum mampu membangun kepercayaan.

“AS telah memahami logika dan prinsip Iran, dan sekarang saatnya bagi mereka untuk memutuskan apakah mereka dapat memperoleh kepercayaan kami atau tidak,” tulisnya.

Dari Teheran, laporan menyebut pembicaraan kali ini tidak hanya berfokus pada isu nuklir, tetapi juga mencakup berbagai aspek lain seperti keamanan regional dan Selat Hormuz, yang semakin memperumit negosiasi.

Di tengah proses diplomasi, publik Iran dilaporkan tidak terlalu optimistis terhadap gencatan senjata dua minggu yang dimulai pekan lalu. Faktor utama yang disebut adalah rendahnya tingkat kepercayaan terhadap AS, mengingat pengalaman negosiasi sebelumnya yang tidak menghasilkan solusi jangka panjang.

Selain pembebasan aset yang dibekukan di luar negeri, Iran juga menuntut kendali atas Selat Hormuz, kompensasi perang, serta gencatan senjata di seluruh kawasan, termasuk Lebanon. Namun, sekutu AS, Israel, menolak menghentikan serangan terhadap kelompok Hezbollah.

Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, menegaskan operasi militer terhadap Iran masih berlanjut.

“Israel di bawah kepemimpinan saya akan terus melawan rezim teror Iran dan proksinya,” katanya.

Sementara itu, Pakistan mendorong kedua pihak untuk tetap mempertahankan gencatan senjata dan melanjutkan dialog demi mencapai perdamaian yang berkelanjutan.

Menteri Luar Negeri Pakistan, Ishaq Dar, menyampaikan apresiasi atas kepercayaan kedua negara terhadap peran mediasi Pakistan.

“Kami berharap kedua pihak melanjutkan dengan semangat positif untuk mencapai perdamaian yang berkelanjutan dan kemakmuran bagi seluruh kawasan dan sekitarnya,” kata Ishaq.

Perang antara AS dan Israel melawan Iran yang dimulai pada 28 Februari telah menewaskan lebih dari 2.000 orang serta merusak berbagai wilayah militer dan sipil. Konflik ini juga memicu krisis energi global, terutama setelah Iran memperketat kontrol di Selat Hormuz—jalur vital bagi sekitar 20 persen pasokan minyak dan gas dunia.

Upaya diplomasi yang dimediasi Oman sebelumnya disebut sudah “hampir mencapai kesepakatan”, namun pecahnya perang menggagalkan momentum tersebut.

Menteri Luar Negeri Oman, Badr Albusaidi, menyerukan perpanjangan gencatan senjata.

“Keberhasilan mungkin memerlukan konsesi yang menyakitkan dari semua pihak, tetapi itu tidak sebanding dengan penderitaan akibat kegagalan dan perang,” ujarnya.

Hingga kini, perundingan di Islamabad masih menyisakan ketidakpastian, sementara eskalasi militer di kawasan terus berlangsung, termasuk serangan terbaru Israel di Lebanon selatan yang menewaskan sedikitnya enam orang.*

Komentar

Your email address will not be published.

Go toTop

Jangan Lewatkan

Kemhan Tegaskan Kerja Sama RI–AS Perkuat Pertahanan Nasional

JAKARTA — Pemerintah memastikan kerja sama pertahanan dengan Amerika Serikat

Gencatan Iran-AS-Israel, Harapan Damai Masih Rawan

JAKARTA — Ketegangan geopolitik di Timur Tengah memasuki babak baru
toto slot situs togel situs togel
toto slot
slot88