Selama ini, Selat Hormuz kerap dipandang hanya sebagai jalur sempit distribusi minyak dunia. Namun realitasnya jauh lebih kompleks: kawasan ini adalah titik kegagalan tunggal (single point of failure) bagi sistem produksi global yang saling terhubung.
Nama “Hormuz” sendiri berasal dari Hormoz, istilah Persia Tengah merujuk pada Ahura Mazda—dewa dalam ajaran Zoroastrian yang melambangkan kebijaksanaan, cahaya, dan keteraturan kosmis. Fakta etimologis ini menunjukkan bahwa wilayah ini sejak awal bukan sekadar jalur dagang, tetapi ruang yang “disakralkan” oleh peradaban kuno.
Ironisnya, tempat yang dinamai atas simbol keteraturan justru kini menjadi titik paling rentan bagi ketertiban global. Dengan panjang 167 km dengan lebar tersempit 39 km, sekitar 30.000 kapal melintas setiap tahun. Mereka tidak hanya mengangkut seperlima minyak dunia dan gas alam cair, tetapi juga komoditas vital lain—dari pupuk urea, aluminium, helium untuk semikonduktor, hingga bahan petrokimia untuk industri farmasi.
Dengan kata lain, Selat Hormuz bukan sekadar chokepoint energi, melainkan “katup aorta” produksi global. Jika katup ini gagal, seluruh sistem ekonomi dunia ikut kolaps.
Perebutan Kendali Ribuan Tahun
Sejak abad ke-11, kawasan ini telah menjadi pusat perebutan pengaruh. Seorang pemimpin Arab, Muhammad Diramku, mendirikan Kerajaan Hormuz di pesisir Iran dan memahami bahwa kekuatan terletak pada penguasaan jalur antarperadaban.
Memasuki abad ke-15, Hormuz menjelma menjadi pusat perdagangan global. Pedagang dari Mesir, China, Jawa, Bengal, hingga Zanzibar berkumpul di satu pelabuhan. Penjelajah seperti Marco Polo bahkan mengunjungi wilayah ini dua kali, sementara armada Dinasti Ming di bawah Laksamana Zheng He menjadikannya titik akhir pelayaran.
Siapa pun yang menguasai “gerbang” ini, menguasai arus perdagangan—dan menarik keuntungan.
Dominasi berganti dari Portugis di bawah Afonso de Albuquerque, ke Persia di era Shah Abbas I, hingga Inggris. Bahkan pada 1951, Inggris pernah memblokade selat ini untuk menekan Perdana Menteri Iran Mohammad Mosaddegh, yang berujung pada kudeta 1953.
Selat Hormuz kembali menjadi pusat konflik saat perang Iran-Irak (1980–1988), ketika ratusan kapal diserang, meski aliran minyak tetap berjalan—dengan biaya risiko yang melonjak.
Rantai Produksi Global
Anggapan bahwa Selat Hormuz hanya jalur energi terbukti keliru. Sekitar 60 persen lalu lintasnya memang terkait minyak dan gas, tetapi sisanya mencakup komoditas krusial lain.
Lebih dari 30 persen perdagangan amonia dunia, hampir 50 persen urea, dan 20 persen diamonium fosfat—semua bahan utama pupuk—melewati selat ini. Sekitar 50 persen sulfur global untuk industri logam juga dikirim melalui jalur yang sama.
Tak hanya itu, sepertiga pasokan helium dunia—yang vital bagi teknologi semikonduktor dan MRI—serta hampir 10 persen aluminium global juga bergantung pada Hormuz. Bahkan suplai pangan negara-negara Teluk sangat tergantung pada jalur ini.
Artinya, gangguan di Hormuz bukan hanya soal energi, tetapi bisa memicu krisis berantai di sektor pertanian, manufaktur, hingga teknologi tinggi.
Lebih dari 100 juta penduduk di kawasan Teluk menghadapi kerentanan serius. Arab Saudi mengimpor lebih dari 80 persen kebutuhan pangannya, sementara Qatar mencapai 85 persen. Ketika jalur fisik tertutup, kekayaan finansial tidak cukup menjamin ketahanan pangan.
Blokade Tanpa Armada
Krisis yang dimulai pada akhir Februari menjadi ujian baru bagi sistem global. Untuk pertama kalinya, Selat Hormuz benar-benar terhenti—dan berpotensi diikuti oleh Selat Bab al-Mandeb jika kelompok Houthi ikut meningkatkan tekanan.
Jika itu terjadi, dua dari tiga chokepoint maritim utama dunia akan lumpuh bersamaan. Berbeda dengan krisis sebelumnya—seperti penutupan Terusan Suez atau pandemi Covid-19—kali ini yang terganggu adalah “arteri utama” perdagangan global.
Masalahnya bukan hanya serangan fisik, tetapi juga reaksi sistem keuangan. Dalam 48 jam sejak konflik, perusahaan asuransi maritim global mencabut perlindungan risiko perang di kawasan Teluk. Tanpa asuransi, kapal komersial praktis tidak bisa beroperasi.
Akibatnya muncul “blokade bayangan”: jalur secara fisik terbuka, tetapi tertutup secara hukum dan finansial. Perdagangan global mengalami semacam “serangan jantung”.
Upaya mencari jalur alternatif pun terganggu. Serangan drone terhadap pelabuhan di Oman seperti Salalah dan Duqm memaksa penghentian operasi. Jalur pengganti justru diserang saat dibangun.
Alarm bagi Dunia
Krisis ini membuka kelemahan mendasar sistem global: ketergantungan berlebihan pada satu titik geografis. Selama ini, konsentrasi jalur dianggap efisiensi biaya, bukan risiko sistemik. Kini, dunia dihadapkan pada kenyataan pahit.
Komunitas internasional didesak untuk memperlakukan Selat Hormuz sebagai infrastruktur kritis global—dengan jaminan keamanan multilateral, cadangan strategis yang mencakup pupuk dan logam, serta diversifikasi jalur logistik.
Dunia telah melihat dampak ketika Hormuz “gagal”. Penutupan berikutnya bukan lagi kejutan—melainkan ujian apakah sistem global benar-benar telah belajar. Satu titik geografis tunggal, yang menyandang nama dewa ketertiban, masih memegang kekuatan untuk mengguncang tatanan dunia.*
Dr. Mohammed Al-Hashemi, Direktur Strategi, Kinerja, dan Kemitraan di Qatar Leadership Centre.
*Artikel ini bersumber dari Aljazeera.com.
