KAIRO – Di tengah fokus Israel pada konflik dengan Iran, Hamas memulai serangkaian konsultasi di Kairo untuk mengatasi kebuntuan fase kedua perjanjian gencatan senjata di Gaza.
Fase lanjutan kesepakatan yang semestinya dimulai pertengahan Januari itu hingga kini tertunda. Faktor utama yang menghambat antara lain eskalasi perang di kawasan, termasuk konflik Iran yang mengalihkan fokus politik dan militer Israel.
Para analis menilai, Hamas kini mencari formulasi baru untuk menghidupkan kembali kesepakatan, menghentikan dugaan pelanggaran Israel, serta merespons krisis kemanusiaan akibat blokade di Gaza.
Bahas Rafah hingga Integrasi Keamanan
Dalam pertemuan di Kairo, pejabat Hamas berdialog dengan intelijen Mesir dan utusan Perserikatan Bangsa-Bangsa, Nikolay Mladenov. Qatar juga disebut tetap berperan sebagai mediator dalam proses gencatan senjata. Delegasi Hamas dipimpin Nizar Awadallah dengan melibatkan pejabat senior Ghazi Hamad.
Asharq Al-Awsat melaporkan, sejumlah isu strategis dibahas, mulai dari dugaan pelanggaran Israel, rencana integrasi anggota Hamas ke dalam kepolisian Palestina, operasional perbatasan Rafah, hingga pembentukan komite Gaza yang akan mengambil alih kendali wilayah.
Sumber internal menyebut isu perlucutan senjata Hamas juga sempat masuk agenda, namun pembahasan lanjutan akan menunggu penempatan aparat kepolisian Palestina dan pasukan stabilisasi internasional di Gaza.
“Board of Peace” Turun Tangan
Di sisi lain, keterlibatan Amerika Serikat mulai terlihat melalui inisiatif Presiden Donald Trump. Tiga sumber menyebut utusan dari “Board of Peace”—badan internasional bentukan Trump—telah bertemu Hamas di Kairo.
Pertemuan tersebut menjadi yang pertama terungkap ke publik sejak pecahnya perang Iran. “Board of Peace” ditugaskan mengawasi Gaza pascaperang sekaligus menjaga stabilitas kesepakatan.
Tak lama setelah pertemuan, Israel mengumumkan rencana membuka kembali penyeberangan Rafah—satu-satunya jalur pejalan kaki antara Gaza dan Mesir—yang sebelumnya ditutup sejak eskalasi konflik Iran. Sejumlah pihak menilai keputusan itu berkaitan langsung dengan pertemuan di Kairo.
Hamas Ancam Mundur
Namun, situasi tetap rapuh. Hamas disebut memperingatkan kemungkinan menarik diri dari kesepakatan jika Israel terus memberlakukan pembatasan baru di Gaza selama konflik Iran berlangsung.
Sejak 28 Februari, Israel menutup perbatasan Gaza dengan alasan keamanan. Meski distribusi bantuan sempat dibuka terbatas, akses Rafah baru akan dibuka kembali setelah evaluasi keamanan. Di sisi lain, pembahasan perlucutan senjata Hamas—yang menjadi inti fase berikutnya dari rencana Trump—masih tertunda akibat dinamika perang.
“Board of Peace” disebut diwakili Aryeh Lightstone, staf utusan khusus AS Steve Witkoff. Pertemuan lanjutan dijadwalkan berlangsung pekan ini, meski belum dipastikan kehadiran Lightstone dalam pertemuan awal.
Di tengah upaya diplomasi, militer Israel tetap melancarkan serangan ke Gaza. Pada Minggu, serangan dilaporkan menewaskan 12 orang, termasuk sembilan anggota kepolisian. Seorang pejabat Palestina menilai Israel memanfaatkan perang Iran untuk menghindari kewajiban dalam kesepakatan yang difasilitasi Washington, meski klaim tersebut dibantah Israel.
Rencana Trump untuk Gaza sendiri bertumpu pada kesediaan Hamas melucuti senjata sebagai imbalan amnesti—langkah yang dinilai krusial untuk membuka jalan rekonstruksi dan penarikan pasukan Israel. Namun hingga kini, belum ada kepastian apakah isu sensitif tersebut akan benar-benar dibahas dalam pertemuan lanjutan di Kairo.*
