1 month ago
2 mins read

Harga Pangan di Gaza Melonjak di Tengah Eskalasi Perang

Seorang pria salat di samping truk-truk yang membawa bantuan kemanusiaan dan bahan bakar yang berbaris di perbatasan Rafah untuk menyeberang ke Jalur Gaza. (Foto: Aljazeera)

GAZA — Dampak perang regional yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran mulai terasa langsung di dapur warga Gaza, Palestina. Harga pangan melonjak tajam dalam beberapa hari terakhir, memicu kepanikan warga yang bergegas ke pasar untuk membeli makanan sebelum stok semakin menipis.

Di berbagai pasar di Gaza City, warga terlihat berusaha mengamankan kebutuhan pokok. Kekhawatiran merebak bahwa barang yang tersedia hari ini bisa saja hilang dari pasaran esok hari.

Jurnalis Hani Mahmoud yang melaporkan dari Gaza City mengatakan eskalasi konflik regional berdampak langsung pada rantai pasokan di wilayah yang sudah lama bergantung pada bantuan kemanusiaan tersebut.

“Eskalasi terbaru ini dirasakan secara paling nyata melalui menyusutnya pasokan dan semakin ketatnya akses di penyeberangan perbatasan,” ujarnya kepada Aljazeera.

Ketergantungan Gaza terhadap jalur perbatasan menjadi faktor utama. Hampir seluruh kebutuhan dasar—mulai dari makanan, bahan bakar, obat-obatan hingga barang pokok lainnya—masuk melalui jalur darat dari Israel dan Mesir.

Ketika akses tersebut ditutup atau dibatasi, dampaknya langsung terasa di pasar, rumah sakit hingga sistem distribusi air bersih.

Israel menutup seluruh akses perbatasan Gaza pada 28 Februari saat serangan militer terhadap Iran dimulai. Penutupan ini menghentikan aliran bantuan kemanusiaan serta memblokir evakuasi medis bagi pasien yang membutuhkan perawatan di luar wilayah.

Belakangan Israel membuka kembali perbatasan Karem Shalom untuk masuknya bantuan secara bertahap. Namun aksesnya masih sangat terbatas. Sementara itu, perbatasan Rafah yang menghubungkan Gaza dengan Mesir masih tetap ditutup.

Direktur regional Mediterania Timur dari World Health Organization, Hanan Balkhy, mengatakan jumlah bantuan yang masuk masih jauh dari kebutuhan.

Menurutnya, hanya sekitar 200 truk bantuan yang masuk setiap hari, sementara wilayah Gaza membutuhkan sekitar 600 truk per hari untuk memenuhi kebutuhan penduduknya.

Ia juga menyebut sekitar 18.000 orang, termasuk anak-anak yang terluka dan pasien penyakit kronis, masih menunggu evakuasi medis keluar dari Gaza.

Harga Sayuran Meroket
Di tingkat pasar, dampak krisis terlihat dari lonjakan harga bahan pangan. Harga tomat yang sebulan lalu sekitar 1,5 dolar AS per kilogram kini hampir mencapai 4 dolar AS. Harga mentimun dan kentang juga mengalami kenaikan signifikan.

Lonjakan harga tersebut membuat makanan segar semakin sulit dijangkau oleh banyak keluarga yang penghasilannya sudah terpuruk akibat perang dan pengungsian berkepanjangan.

“Orang-orang tidak lagi mampu membeli sayur dan buah karena harganya terlalu mahal akibat perang antara Israel dan Iran,” tutur seorang warga.

Menurut Mahmoud, para pedagang dan pembeli menggambarkan situasi yang sama di hampir semua pasar: barang semakin sedikit masuk, stok cepat habis, dan harga terus naik.

Sejumlah kebutuhan pokok seperti minyak goreng, tepung, hingga makanan kaleng bahkan mulai menghilang dari rak toko di beberapa wilayah Gaza City.

Pada 6 Maret, United Nations Office for the Coordination of Humanitarian Affairs (OCHA) menyatakan penutupan perbatasan akibat eskalasi konflik regional telah memicu kenaikan harga berbagai barang di Gaza.

OCHA juga memperingatkan jumlah truk bantuan yang masuk saat ini terlalu sedikit untuk menjaga stabilitas pasokan. Banyak barang habis terjual hanya dalam beberapa hari.

Sistem Bantuan Terancam Lumpuh
Tekanan krisis tidak hanya terasa di pasar, tetapi juga mulai memengaruhi sistem layanan dasar. OCHA menyebut penutupan perbatasan memaksa otoritas di Gaza melakukan pembatasan penggunaan bahan bakar yang tersisa.

Akibatnya, sejumlah kegiatan kemanusiaan seperti pengangkutan sampah menggunakan kendaraan terpaksa dihentikan. Produksi air bersih juga dikurangi, sementara rumah sakit dan pusat layanan kesehatan mulai menjalankan prosedur darurat.

Kondisi ketahanan pangan Gaza sendiri masih sangat rapuh. Sistem pemantauan kelaparan global Integrated Food Security Phase Classification sebelumnya menyatakan Gaza sempat keluar dari kondisi kelaparan massal setelah meningkatnya akses bantuan selama gencatan senjata antara Israel dan Hamas.

Namun lembaga tersebut juga memperingatkan bahwa konflik baru atau terhentinya bantuan bisa dengan cepat membalikkan situasi. Peringatan serupa disampaikan World Food Programme. Lembaga ini menilai kemajuan rapuh dalam ketersediaan pangan di Gaza dapat runtuh jika akses bantuan tidak dipertahankan.

Meski pembukaan kembali Karem Shalom memberikan sedikit harapan, WFP memperingatkan tanpa koridor kemanusiaan yang stabil mereka mungkin terpaksa mengurangi jatah makanan bagi jutaan warga.

Dengan akses yang masih terbatas, keluarga-keluarga di Gaza kini menghadapi ketidakpastian besar tentang apakah persediaan makanan pokok dapat bertahan dalam beberapa hari ke depan.*

Komentar

Your email address will not be published.

Go toTop

Jangan Lewatkan

Iran Tetap Jadi Penghalang Proyek ‘Israel Raya’

Israel ingin memperluas pengaruhnya di Timur Tengah. Kegagalannya mengalahkan Iran

Barghouti Minta Dunia Lindungi Tahanan Palestina

PALESTINA – Seruan agar dunia internasional lebih serius melindungi tahanan Palestina
toto slot situs togel situs togel
toto slot
slot88