1 month ago
2 mins read

Putra Khamenei Naik Takhta: Iran Kirim Sinyal Keras ke AS-Israel

Mojtaba Khamenei, pemimpin tertinggi Iran yang baru. (Foto: Aljazeera)

DOHA – Ketegangan geopolitik di Timur Tengah memasuki babak baru. Iran resmi menunjuk Mojtaba Khamenei sebagai Pemimpin Tertinggi baru, hanya beberapa hari setelah ayahnya, Ali Khamenei, wafat dalam serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel.

Penunjukan ini bukan sekadar pergantian kepemimpinan. Banyak analis menilai keputusan tersebut sebagai pesan politik keras dari Teheran kepada Washington dan Tel Aviv: sistem Republik Islam Iran tetap berdiri meskipun pemimpinnya diserang.

Mojtaba Khamenei (56) kini memikul tanggung jawab besar memimpin Iran melewati krisis terbesar sejak berdirinya republik itu pasca Revolusi Iran.

Penunjukan itu diumumkan para ulama pada Minggu (8/3/2026). Dukungan langsung mengalir dari elite politik hingga militer, termasuk dari organisasi militer paling berpengaruh di Iran, Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC).

Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, Ali Larijani, langsung menyerukan persatuan nasional di tengah perang yang terus berkobar.

Sementara Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, menyebut dukungan terhadap pemimpin tertinggi baru sebagai “kewajiban agama sekaligus kewajiban nasional”.

Figur Berpengaruh di Balik Layar
Berbeda dengan banyak pemimpin politik lain, Mojtaba Khamenei tidak pernah mengikuti pemilu atau mencalonkan diri dalam jabatan publik. Namun di lingkaran elite kekuasaan Iran, ia dikenal sebagai sosok yang sangat berpengaruh selama puluhan tahun.

Ia memiliki hubungan dekat dengan IRGC dan dianggap sebagai salah satu tokoh kunci dalam struktur kekuasaan internal Iran.

Dalam beberapa tahun terakhir, namanya bahkan semakin sering disebut sebagai kandidat paling kuat untuk menggantikan ayahnya.

Jurnalis Ali Hashem menyebut Mojtaba sebagai “penjaga gerbang” bagi ayahnya selama bertahun-tahun. Menurut Hashem, arah kebijakan Mojtaba kemungkinan tidak akan jauh berbeda dari ayahnya, terutama dalam hubungan dengan Amerika Serikat dan Israel.

“Dia mengadopsi posisi ayahnya terhadap Amerika Serikat dan Israel. Jadi kita mungkin akan melihat pemimpin yang konfrontatif. Kecil kemungkinan moderasi,” ujarnya sebagaimana dilansir Aljazeera.

Namun Hashem menambahkan, jika perang berakhir dan Mojtaba berhasil mempertahankan kekuasaan, masih terbuka kemungkinan Iran mencari jalur kebijakan baru di masa depan.

Sinyal Perlawanan Iran
Pengamat Timur Tengah dari American University of Beirut, Rami Khouri, menilai pengangkatan Mojtaba menunjukkan kesinambungan kekuasaan di Iran.

Namun lebih dari itu, ia melihat keputusan tersebut sebagai bentuk perlawanan simbolik terhadap tekanan Barat.

“Iran seakan mengatakan kepada Amerika dan Israel: kalian ingin menghancurkan sistem kami? Maka yang muncul justru figur yang lebih keras daripada pemimpin sebelumnya,” kata Khouri.

Anggota Majelis Ahli Iran, Heidari Alekasir, bahkan menegaskan calon pemimpin dipilih mengikuti pesan mendiang Khamenei: pemimpin Iran seharusnya “dibenci musuh, bukan dipuji”.

Ia juga menyinggung pernyataan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, yang sebelumnya menyebut Mojtaba sebagai kandidat yang ‘tidak dapat diterima’. “Bahkan Setan Besar sudah menyebut namanya,” kata Alekasir.

Trump Ikut Campur, Iran Menolak
Ketegangan semakin meningkat setelah Trump menyatakan Washington ingin memengaruhi siapa yang menjadi pemimpin tertinggi Iran.

Ia bahkan mengatakan siapa pun yang memimpin Iran tanpa persetujuan Amerika Serikat tidak akan bertahan lama.

Pernyataan itu langsung ditolak keras oleh pejabat Iran. Ketua Parlemen Mohammad Bagher Ghalibaf bahkan menyindir tajam komentar tersebut di platform X.

Menurutnya, masa depan Iran tidak akan ditentukan oleh kekuatan asing. “Nasib Iran tercinta hanya akan ditentukan oleh bangsa Iran sendiri, bukan oleh geng Jeffrey Epstein,” tulisnya.

Langit Teheran Menghitam
Penunjukan pemimpin baru terjadi di tengah situasi perang yang semakin intens. Langit ibukota Iran, Teheran, diselimuti asap hitam setelah Israel menyerang lima fasilitas minyak di sekitar kota pada malam sebelumnya. Serangan itu memicu kebakaran besar dan memperparah ketegangan di kawasan.

Memasuki hari kesembilan perang, IRGC menyatakan mereka masih memiliki persediaan senjata yang cukup untuk melanjutkan serangan drone dan rudal selama enam bulan.

Juru bicara IRGC, Ali Mohammad Naini, mengatakan Iran sejauh ini baru menggunakan rudal generasi awal. Dalam waktu dekat, Iran disebut siap menggunakan rudal jarak jauh yang lebih canggih.

Di sisi lain, Trump kembali membuka kemungkinan pengiriman pasukan darat Amerika ke Iran, meskipun tetap mengklaim perang hampir dimenangkan.

Sejumlah analis memperingatkan konflik ini masih jauh dari kata selesai. Bahkan pejabat Amerika Serikat dan Israel memperkirakan perang bisa berlangsung setidaknya satu bulan—atau lebih lama lagi.*

Komentar

Your email address will not be published.

Go toTop

Jangan Lewatkan

Iran Tetap Jadi Penghalang Proyek ‘Israel Raya’

Israel ingin memperluas pengaruhnya di Timur Tengah. Kegagalannya mengalahkan Iran

Barghouti Minta Dunia Lindungi Tahanan Palestina

PALESTINA – Seruan agar dunia internasional lebih serius melindungi tahanan Palestina
toto slot situs togel situs togel
toto slot
slot88