JAKARTA – Indonesia memasuki fase penting dalam pembangunan industri energi bersih, dan pemerintah menempatkan industri baterai sebagai fondasi utama untuk memperkuat posisi nasional dalam transisi menuju ekonomi rendah karbon.
Fasilitas hilirisasi telah tumbuh di berbagai daerah melalui pembangunan smelter, pabrik prekursor, dan pabrik sel baterai yang menunjukkan ambisi Indonesia untuk bergerak dari pemasok bahan mentah menuju pemain yang memiliki nilai tambah lebih tinggi. Kekuatan utama Indonesia terletak pada cadangan mineral penting seperti nikel, mangan, dan kobalt.
Produksi nikel nasional bahkan telah mencapai porsi dominan dalam pasar dunia, sehingga Indonesia memiliki posisi strategis untuk memasuki rantai nilai global baterai dan kendaraan listrik. Namun industri ini tetap menghadapi dilema, karena teknologi baterai modern bergantung pada litium, sedangkan Indonesia belum memiliki cadangan litium komersial sehingga ketergantungan pada impor tidak dapat dihindari dan menimbulkan risiko terhadap stabilitas biaya dan pasokan.
Ambisi Indonesia untuk memimpin produksi baterai rendah karbon juga menghadapi tantangan besar dari arah kebijakan global. Banyak negara memperkuat standar keberlanjutan, sedangkan produksi baterai memiliki jejak emisi tinggi akibat penggunaan energi fosil dalam proses manufaktur.
Berbagai analisis menegaskan bahwa porsi emisi dari proses produksi baterai dapat mencapai tingkat signifikan dalam jejak karbon kendaraan listrik, sehingga dekarbonisasi energi nasional menjadi kebutuhan mendesak jika Indonesia ingin bersaing dalam pasar yang semakin ketat.
Persepsi Keliru Ekspansi Tambang Nikel
Strategi hilirisasi nikel yang dijalankan sejak 2012 memang berhasil menarik investasi smelter dan memperkuat produksi nikel olahan. Namun, sebagian besar nikel tersebut masih terserap oleh industri baja tahan karat.
Situasi ini menimbulkan persepsi keliru bahwa seluruh ekspansi tambang nikel terkait langsung dengan kendaraan listrik, padahal hubungan tersebut tidak sekuat yang sering dibayangkan. Persepsi publik tetap perlu dikelola dengan baik, karena opini negatif terhadap tambang dapat memengaruhi dukungan terhadap pengembangan industri baterai.
Sementara itu, dinamika pasar global menunjukkan perubahan signifikan dalam penggunaan teknologi baterai. Baterai LFP tumbuh pesat karena menawarkan biaya lebih rendah dan keamanan tinggi, sehingga banyak produsen di Asia memilih teknologi tersebut. Indonesia cenderung mendorong baterai NMC karena bergantung pada nikel, tetapi pasar domestik justru dibanjiri kendaraan listrik berbasis LFP yang masuk melalui skema insentif fiskal tanpa diferensiasi standar kimia baterai. Ketidakharmonisan antara arah kebijakan industri dan dinamika pasar menciptakan tekanan pada ekosistem baterai, terutama karena Indonesia belum memiliki regulasi teknis yang mengatur pilihan teknologi secara jelas.
Kesenjangan paling terasa muncul pada sektor midstream yang berperan penting sebagai penghubung antara penambangan dan produksi sel baterai. Kapasitas prekursor dan komponen antara masih terbatas. Beberapa proyek besar seperti Dragon dan Titan berpotensi memperkuat sektor ini, namun proyek tersebut membutuhkan arah kebijakan yang konsisten agar mampu memberikan kontribusi nyata dalam membangun rantai pasok yang terintegrasi. Tanpa penguatan midstream, Indonesia sulit memanfaatkan potensi penuh dari sumber daya mineral yang dimiliki.
Isu lingkungan menjadi dimensi yang tidak terpisahkan dari perkembangan industri baterai. Penambangan nikel menimbulkan dampak ekologis terhadap wilayah pesisir dan daratan. Proses produksi yang intensif energi juga meningkatkan emisi karbon. Jika Indonesia ingin memasuki pasar global yang semakin ketat, negara perlu memastikan standar lingkungan yang kuat melalui pengawasan, transparansi, dan mekanisme penegakan yang efektif.
Peluang Industri Daur Ulang Baterai
Di sisi lain, peluang besar muncul dari perkembangan industri daur ulang baterai yang berpotensi menjadi sumber baru bagi nikel, kobalt, dan litium ketika kendaraan listrik bekas mencapai masa akhir penggunaan. Indonesia belum memiliki regulasi menyeluruh untuk daur ulang baterai, padahal sektor ini dapat memperkuat kemandirian pasokan sekaligus mengurangi tekanan terhadap penambangan baru.
Indonesia membutuhkan peta jalan komprehensif yang mencakup seluruh siklus hidup baterai, mulai dari mineral hingga daur ulang. Peta jalan tersebut harus menentukan pilihan teknologi yang ingin dikembangkan, arah investasi yang ingin dituju, dan standar keberlanjutan yang harus dipenuhi oleh seluruh pelaku industri. Dengan strategi yang kuat dan konsisten, Indonesia memiliki peluang besar untuk menjadi salah satu pemain penting dalam industri baterai global.
Gentur Naru, Media & Strategic Communication Specialist Kadin Indonesia Institut.
