JAKARTA – Tentara Republik Demokratik Kongo (DRC) menggagalkan kudeta terhadap pemerintahan Presiden Felix Tshisekedi, Minggu (19/5/2024).
Pada Minggu dini hari, para pelaku kudeta menyerbu istana kepresidenan, Palais de la Nation, di pusat Ibu Kota Kinshasa.
Selain itu, mereka juga melakukan serangan dekat rumah seorang anggota parlemen, Vital Kamerhe, yang kemungkinan besar dipilih untuk menjadi ketua parlemen dalam waktu dekat.
Sekurang-kurangnya tiga orang terbunuh dalam upaya kudeta itu. Dan 50 orang lainnya ditangkap. Termasuk tiga warga negara Amerika Serikat (AS).
Pemerintahan Kongo telah mengidentifikasi Christian Malanga, seorang politikus Kongo dari AS sebagai pemimpin kudeta tersebut. Juru Bicara (Jubir) pemerintah, Sylvain Ekenge mengungkapkan bahwa ia terbunuh dalam upaya kudetanya.
“Malanga telah secara definitif dinetralkan selama penyerangan di Palais de la Nation, seorang Aboubacar dinetralisir selama penyerangan di kediaman Vital Kamerhe (dan) yang lainnya—sekitar 50 orang termasuk tiga warga negara Amerika—ditangkap dan saat ini sedang menjalani interogasi oleh pihak berwenang layanan khusus Angkatan Bersenjata,” jelas Ekenge.
Keterlibatan Amerika
Malanga pernah mengupayakan kudeta yang gagal pada 2017. Kini ia mengancam presiden yang baru dan berteriak untuk “Zaire Baru!”
“Kita, para militant sudah lelah. Kita tidak bisa membiarkan terus Tshisekedi dan Kamerhe, mereka telah melakukan banyak hal bodoh di negara ini,” ujar Malanga dalam video yang tayang beriringan dengan waktu upaya kudeta terjadi.
Di antara tiga warga AS yang ditangkap oleh pihak berwenang DRC adalah anak Malanga. Selain itu, mereka juga menangkap Benjamin Zalman-Polun, pemegang paspor AS, yang diketahui sebagai pengusaha ganja sekaligus rekan bisnis Malanga.
Duta Besar (Dubes) AS ke DRC, Lucy Tamlyn, mengungkapkan rasa kejut dan prihatin. Ia menegaskan pihaknya akan bekerja sama dengan pihak berwenang di DRC selama investigasi tindakan kriminal, yaitu kudeta itu, berlangsung. Dan akan membuat warga-warga AS yang terbukti terlibat bertanggungjawab atas tindakan-tindakannya.
Blunder
Analis merasa heran dengan kudeta yang diupayakan oleh Malanga. Tindakan tersebut terkesan amatiran dan berakhir dengan matinya Malanga sendiri.
Profesor di Catholic University of Congo, Albert Malukisa Nkuku, menilai serbuan kelompok pelaku kudeta tidak strategis.
“Alih-alih menyerang tempat-tempat yang strategis seperti dua bandara di Kinshasa, kamp-kamp militer, dan RTNC (stasiun penyiaran nasional), operasi komando Malanga ditujukan kepada sasaran-sasaran yang tidak dipertaruhkan untuk mengulingkan kekuasaan,” katanya.
“Mengapa mereka memulai serangan di kediaman Vital Kamerhe dan kehilangan banyak amunisi sebelum berakhir di Palace of the Nation?” tanya Albert.
Terlebih, Albert menekankan presiden-presiden DRC jarang berdiam di istana kepresidenan karena ancaman terhadap keamanan mereka.* (Bayu Muhammad)
Baca Juga:
Presiden Baru Taiwan Dilantik, Minta Beijing Hentikan Intimidasi
