Jakarta – Saraswati Fellowship meluluskan 30 peserta angkatan kedua atau Batch II dalam acara Graduation yang digelar di Museum Nasional, Jakarta Pusat, Sabtu (7/11/2026). Program mentorship kepemimpinan perempuan yang diinisiasi Rahayu Saraswati Djojohadikusumo di bawah naungan Shandri Foundation itu telah berlangsung selama tiga bulan.
Sejak penyelenggaraan Batch I hingga Batch II, Saraswati Fellowship mencatat hampir 1.000 pendaftar. Pada angkatan kedua, program ini melibatkan 11 Super Mentors dari delapan sektor dan industri untuk memperluas perspektif serta kapasitas kepemimpinan para peserta.
Inisiator Saraswati Fellowship, Rahayu Saraswati Djojohadikusumo atau Sara, mengatakan Indonesia memiliki banyak perempuan dengan kapasitas dan potensi besar. Namun, menurut dia, potensi tersebut membutuhkan dukungan lingkungan dan kesempatan yang memadai agar dapat berkembang.
Dalam sambutannya, Sara turut menyampaikan penghargaan kepada sejumlah perempuan yang dinilainya menjadi teladan, termasuk Menteri Luar Negeri RI periode 2014–2024 Retno Marsudi, Ketua Umum APINDO Shinta Widjaja Kamdani, serta ibunya, Anie Hashim Djojohadikusumo.
“Indonesia tidak kekurangan perempuan hebat. Di antara mereka, hadir di tengah kita Ibu Retno Marsudi dan Ibu Shinta Kamdani. Ada pula sosok yang mungkin tidak dikenal secara langsung oleh banyak orang, tetapi namanya tidak asing bagi sebagian orang. Izinkan saya menyampaikan rasa hormat dan cinta saya kepada ibu kandung saya, Ibu Anie Hashim Djojohadikusumo,” ujar Sara.
Wakil Ketua Komisi VII DPR RI itu mengatakan, Saraswati Fellowship dibentuk untuk memperluas akses perempuan muda terhadap mentor, sumber daya, dan ruang pengembangan kepemimpinan.
Menurut Sara, banyak perempuan muda Indonesia memiliki potensi besar, tetapi belum memperoleh kesempatan yang setara untuk mengembangkan kemampuan mereka.
“Saya sangat menyadari bahwa perempuan hebat lahir dari support system dan lingkungan yang mendukung pertumbuhannya. Untuk itulah Saraswati Fellowship hadir, yaitu untuk menciptakan kesempatan dan membangun support system tersebut sebagai respons terhadap realitas sosial,” katanya.
Sara juga menekankan pentingnya menghadirkan lebih banyak figur perempuan yang dapat menjadi contoh bagi generasi berikutnya. Menurut dia, keberadaan sosok-sosok tersebut dapat menunjukkan bahwa perempuan mampu mengambil peran dan memberikan kontribusi di berbagai bidang.
Dia menambahkan, upaya memperluas keterwakilan perempuan tidak bisa hanya mengandalkan dukungan antarsesama perempuan. Keterlibatan laki-laki juga diperlukan untuk mendorong perubahan.
“Kita membutuhkan lebih banyak pihak dan pemangku kepentingan yang terlibat untuk menjadi jembatan dan bagian dari perubahan itu. Bukan hanya women support women, tetapi juga men support women,” ucap Sara.
Dia menyebut keterlibatan laki-laki dalam program tersebut tercermin dari komposisi Super Mentors Saraswati Fellowship. Salah satunya Dony Oskaria, COO BPI Danantara sekaligus Kepala BP BUMN, yang berhalangan hadir dalam acara kelulusan tersebut.
Retno Marsudi Dorong Perubahan Sistem
Salah satu Super Mentor Saraswati Fellowship, Retno Marsudi, menyatakan dukungannya terhadap program pengembangan kepemimpinan perempuan tersebut. Mantan Menteri Luar Negeri RI itu mengatakan, dirinya menerima ajakan menjadi mentor setelah menghadiri Graduation Batch I.
Retno mengaku tidak membutuhkan waktu lama untuk menerima tawaran Sara karena menilai program tersebut memiliki tujuan penting dalam meningkatkan kapasitas perempuan.
“Tanpa berpikir dua kali, saya langsung mengatakan yes. Saya pribadi sangat mendukung program yang mendorong peningkatan kapasitas dan perkembangan perempuan, women support women,” kata Retno.
Meski demikian, Retno mengingatkan bahwa peningkatan kapasitas individu perempuan saja tidak cukup untuk memperluas kesempatan kepemimpinan. Menurut dia, perubahan juga harus dilakukan terhadap sistem yang selama ini membatasi ruang perempuan untuk menduduki posisi strategis.
“Kita tidak bisa hanya meminta perempuan untuk terus meningkatkan kapasitas dirinya. Kita juga harus mengubah sistem dan membuka lebih banyak ruang bagi perempuan untuk memimpin,” ujarnya.
Retno menilai semakin banyak perempuan perlu ditempatkan pada posisi pengambilan keputusan. Dengan demikian, perempuan memiliki kesempatan lebih besar untuk memengaruhi kebijakan, mengubah sistem, dan memperbaiki keadaan.
Kepada para peserta yang baru lulus, Retno berpesan agar tidak menjadikan latar belakang sebagai batas dalam menentukan masa depan. Dia juga mendorong para fellows untuk membuka kesempatan bagi perempuan lain ketika kelak berhasil mencapai posisi yang lebih baik.
“Ketika kalian nanti sudah berhasil, bukalah pintu bagi perempuan-perempuan lainnya. That is what this fellowship is all about,” tuturnya.
Shandri Foundation Siapkan Tiga Batch pada 2027
Sementara itu, Chair Shandri Foundation, Andika Prasetya, menyampaikan komitmen yayasan untuk memperluas akses pengembangan kapasitas dan mentorship bagi generasi muda Indonesia melalui Saraswati Fellowship.
Andika mengatakan, pihaknya ingin mempertemukan tokoh-tokoh inspiratif dengan anak muda yang memiliki semangat untuk berkembang dan membawa perubahan.
Pada 2027, Shandri Foundation berencana menyelenggarakan tiga batch Saraswati Fellowship dengan melibatkan lebih banyak tokoh dan mentor.
“Kami ingin terus menjadi basis dukungan yang mempertemukan tokoh-tokoh inspiratif dengan anak-anak muda yang memiliki semangat untuk berkembang dan membawa perubahan,” ujar Andika.
Selain memperluas penyelenggaraan fellowship, yayasan tersebut juga berencana memperkenalkan Seed Program. Program ini akan berfokus pada pengembangan investasi dan pemagangan virtual bagi mahasiswa tingkat akhir.
Menurut Andika, program tersebut disiapkan untuk membantu mahasiswa mempersiapkan diri memasuki dunia kerja di tengah perkembangan teknologi, termasuk kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).
Acara Graduation Batch II turut dihadiri sejumlah Super Mentor, di antaranya Retno Marsudi, Shinta Widjaja Kamdani, Farina Situmorang, Ferro Ferizka Aryananda, dan Tamara Gondo.
Sejumlah pejabat publik dan pemimpin industri juga hadir, termasuk Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Stella Christie, Anthony Sondakh, Andhi Anggoro, serta Anie Djojohadikusumo.
Menutup acara, Sara menegaskan bahwa kelulusan angkatan kedua bukan menjadi akhir perjalanan Saraswati Fellowship. Program tersebut akan melanjutkan persiapan Batch III dengan target memperluas jangkauan dan meningkatkan skala manfaat bagi perempuan muda Indonesia di berbagai daerah.
Saraswati Fellowship merupakan program mentorship kepemimpinan perempuan yang bertujuan membangun ekosistem pendampingan jangka panjang dan inklusif. Program ini berfokus pada pengembangan karakter, kapasitas, serta jejaring perempuan muda sebagai bekal menjadi pemimpin masa depan.*
