JAKARTA — Program mentorship kepemimpinan perempuan Saraswati Fellowship resmi menggelar Wisuda Angkatan Pertama pada Minggu (22/2/2026). Acara ini menandai kelulusan 30 fellows perdana yang telah menyelesaikan rangkaian pembinaan intensif selama tiga bulan, sekaligus menjadi tonggak lahirnya generasi baru pemimpin perempuan muda Indonesia.
Saraswati Fellowship digagas oleh Rahayu Saraswati Djojohadikusumo, yang menekankan pentingnya ekosistem pendampingan berkelanjutan bagi perempuan muda berdaya saing. Sejumlah tokoh nasional dan pemimpin industri lintas sektor turut hadir sebagai bentuk dukungan terhadap inisiatif tersebut.
Hadir sebagai Keynote Speaker, Shinta Kamdani (CEO Sintesa Group sekaligus Ketua Umum APINDO) yang juga merupakan Super Mentor program. Kepala BP BUMN Dony Oskaria menyampaikan motivational speech. Turut menjadi panelis Moon Nguyet Phillips dan Ferry Malvinas, Partner Boston Consulting Group. Acara juga dihadiri perwakilan pemerintah, pimpinan lembaga, direksi BUMN, perusahaan swasta, serta organisasi nirlaba dan masyarakat.
Sejak diluncurkan pada Juli 2025, Saraswati Fellowship menarik lebih dari 400 pendaftar dari berbagai daerah di Indonesia. Melalui seleksi tertulis dan wawancara ketat, terpilih 30 perempuan muda sebagai peserta angkatan pertama, terdiri dari 15 mahasiswi tingkat akhir dan 15 perempuan mid-career dengan latar belakang 11 sektor industri dan 14 jurusan akademik.
Membangun “Visual Reference” Pemimpin Perempuan
Dalam sambutannya, Rahayu Saraswati—akrab disapa Sara—menyampaikan bahwa Saraswati Fellowship hadir sebagai respons atas realitas sosial: banyak perempuan muda memiliki kapasitas, namun belum memiliki peta navigasi menuju kepemimpinan.
“Program ini dirancang untuk membuka akses terhadap mentor, sumber daya, jaringan, dan ruang pengembangan kepemimpinan. Kita bimbing mereka agar Indonesia memiliki lebih banyak figur perempuan pemimpin di masa depan,” ujar Sara.
Ia menegaskan pentingnya visual reference bagi generasi penerus. “Anak-anak muda membutuhkan contoh konkret bahwa perempuan bisa. Saraswati Fellowship mempersiapkan lebih banyak visual reference itu,” tambahnya.
Senada, Dony Oskaria menyebut wisuda ini sebagai simbol optimisme. “Peran perempuan sangat penting, bukan hanya membangun keluarga, tetapi juga bangsa. Momentum ini menandai terbukanya kesempatan yang semakin luas bagi perempuan,” katanya.
Sementara itu, Shinta Kamdani menilai pemilihan Museum Nasional sebagai lokasi wisuda sarat makna. “Di tempat ini, sejarah sedang dibentuk. Kita merayakan 30 calon arsitek peradaban baru Indonesia,” ujarnya.
Bekal Teknis dan Soft Skills
Sara menegaskan, Saraswati Fellowship tidak hanya berfokus pada peningkatan kapasitas teknis, tetapi juga membekali peserta dengan soft skills dan kesiapan menghadapi dunia nyata. Ia mengapresiasi para fellows Angkatan 1 dan seluruh pihak pendukung.
“Program ini tidak mungkin berjalan tanpa dukungan banyak pihak. Terima kasih kepada para Super Mentor, strategic partners, dan semua yang percaya pada mimpi ini,” ungkapnya.
Wisuda Angkatan 1 menjadi langkah awal perjalanan panjang Saraswati Fellowship. Ke depan, program ini akan memasuki persiapan Angkatan 2 serta menghadirkan kolaborasi baru lintas mitra untuk memperluas dampak.
“Saraswati Fellowship tidak berhenti di sini. Ini adalah awal babak baru. Pintu kolaborasi kami buka selebar-lebarnya agar manfaatnya semakin besar,” tutup Sara.
Saraswati Fellowship merupakan program mentorship kepemimpinan perempuan yang berkomitmen membangun ekosistem pendampingan jangka panjang dan inklusif bagi perempuan muda Indonesia, dengan fokus pada pengembangan karakter, kapasitas, dan jejaring sebagai bekal kepemimpinan masa depan.*
