GEORGIA – Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump kembali menuai sorotan setelah melontarkan lelucon soal nama “Mohammad” saat berkampanye untuk pemilihan sela (midterm election) pada 3 November mendatang.
Dalam pidatonya di Georgia, Trump menyindir kepemimpinan Iran dengan mengatakan bahwa orang yang namanya tidak diketahui dari Timur Tengah bisa dipanggil “Mohammad”. Ia kemudian berpura-pura bertanya kepada sejumlah orang bernama Mohammad apakah mereka ingin menjadi presiden Iran. Namun, lelucon itu tak mendapat tanggapan dari para pendukungnya.
Komentar tersebut muncul di tengah meningkatnya kritik terhadap retorika Trump yang dinilai mengejek umat Islam, imigran, dan kelompok minoritas etnis. Selama masa kampanye, ia juga menyasar warga Amerika keturunan Somalia serta sejumlah politisi Muslim dari Partai Demokrat.
Council on American-Islamic Relations (CAIR), organisasi advokasi Muslim di AS, sebelumnya mengaitkan meningkatnya Islamofobia di negara itu dengan kebijakan imigrasi Trump dan penanganan aksi protes pro-Palestina selama masa jabatan keduanya.
Pernyataan Trump kembali memicu sorotan terhadap penggunaan identitas agama dan etnis sebagai bahan lelucon dalam politik Amerika, terutama di tengah menguatnya perdebatan mengenai diskriminasi terhadap kelompok minoritas.
Sumber:
REUTERS/ Steve Holland and Kanishka Singh. https://www.msn.com/en-us/news/other/trump-mocks-popularity-of-the-name-mohammad-common-among-muslims/ar-AA2epHFf
