JAKARTA — Dua tahun pemerintahan Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka menjadi momentum untuk melihat bagaimana kepemimpinan keduanya dibicarakan publik. Di ruang digital, sentimen terhadap Prabowo masih didominasi respons positif. Namun, bukan berarti semua persoalan pemerintahan luput dari kritik.
Hasil pemantauan Sintesa Strategi Indonesia (SSI) menunjukkan, sentimen positif terhadap Prabowo mencapai 59,6 persen. Sementara itu, sentimen negatif tercatat 15,2 persen dan netral sebesar 25,2 persen.
Temuan tersebut berasal dari pemantauan percakapan di media sosial dan pemberitaan media online selama 1 Juni hingga 17 Oktober 2026. SSI mencatat lebih dari 5,1 juta percakapan media sosial, 43.271 konten, serta sekitar 1,22 miliar paparan konten digital.
Dalam laporan bertajuk Jelang Dua Tahun Pemerintahan Prabowo-Gibran: Skor 5 Segmen, Skor Kabinet & Future Confidence Index yang dirilis Senin (19/10/2026), SSI juga menemukan bahwa sikap mendukung Prabowo mencapai 64,6 persen. Adapun sikap kontra sebesar 9,3 persen dan netral 26,1 persen.
Angka ini menunjukkan bahwa percakapan yang mendukung Presiden masih lebih banyak dibandingkan yang menolak. Meski begitu, ada perbedaan menarik antara percakapan di media sosial dan pemberitaan media online.
Sentimen negatif di media sosial mencapai 17,7 persen. Angka ini lebih tinggi dibandingkan sentimen negatif dalam pemberitaan media online yang tercatat sebesar 5,9 persen.
Dengan kata lain, ruang media sosial memperlihatkan respons yang relatif lebih kritis terhadap Prabowo. Namun, kritik tersebut belum mengubah kecenderungan sentimen positif yang mendominasi keseluruhan data.
Pendidikan dan hukum
Gambaran berbeda terlihat ketika SSI memetakan percakapan berdasarkan lima bidang pemerintahan, yakni ekonomi, pendidikan, kesehatan, hukum, dan keamanan.
Pendidikan mencatat skor sentimen bersih tertinggi sebesar +79,2. Sebanyak 85,9 persen percakapan terkait sektor ini memiliki sentimen positif. Kesehatan menyusul dengan skor +75,5 dan proporsi sentimen positif 83,2 persen.
Sementara itu, sektor ekonomi mencatat skor +65,7 dan keamanan +76. Secara keseluruhan, kelima bidang tersebut memperoleh skor sentimen bersih gabungan +61,7.
Di antara lima bidang itu, hukum menjadi sektor yang paling banyak mendapat sentimen negatif. Proporsinya mencapai 28,1 persen, tertinggi dibandingkan empat bidang lainnya. Skor sentimen bersih sektor hukum tercatat +62,4.
Temuan ini memperlihatkan bahwa respons positif terhadap Presiden tidak otomatis berarti masyarakat memberikan penilaian serupa terhadap seluruh bidang pemerintahan.
Ada sektor yang percakapannya didominasi apresiasi, tetapi ada pula yang masih diwarnai kritik. Persoalan hukum menjadi salah satu catatan yang muncul dalam pemantauan SSI menjelang dua tahun pemerintahan Prabowo-Gibran.
Harapan terhadap masa depan
Selain mengukur sentimen terhadap Presiden, SSI mencoba membaca bagaimana percakapan digital menggambarkan keyakinan terhadap masa depan Indonesia melalui Future Confidence Index (FCI).
Indeks ini membandingkan dua kelompok percakapan. Pertama, sinyal peluang domestik yang mencakup lapangan kerja, kenaikan gaji, peningkatan daya beli, masa depan cerah, dan rumah terjangkau.
Kedua, sinyal tekanan yang meliputi PHK, keinginan meninggalkan Indonesia, penurunan daya beli, masa depan suram, serta mahalnya harga rumah. Hasilnya, selama periode pengamatan, SSI mencatat 45,88 juta sinyal peluang domestik. Jumlah tersebut lebih besar dibandingkan 38,21 juta sinyal tekanan dan keinginan keluar.
Rasio FCI tercatat sekitar 1,21. Artinya, secara kumulatif, percakapan yang berkaitan dengan peluang dan harapan masih lebih banyak dibandingkan percakapan yang mencerminkan tekanan.
Namun, ada perubahan dalam pemantauan pada Oktober. Sepanjang 1–17 Oktober 2026, sinyal tekanan mencapai 8,81 juta, sedikit lebih tinggi daripada sinyal peluang yang berada di angka 8,24 juta. Rasio keduanya turun menjadi sekitar 0,93.
Meski demikian, angka tersebut belum bisa menggambarkan keseluruhan kondisi Oktober karena pemantauan baru berlangsung hingga tanggal 17. Perubahan ini menjadi catatan tersendiri. Sebab, penilaian terhadap Presiden tidak selalu berjalan seiring dengan keyakinan seseorang terhadap masa depannya.
Dukungan terhadap pemerintah bisa saja tetap muncul, sementara kekhawatiran mengenai pekerjaan, penghasilan, daya beli, dan harga rumah juga menguat. Dengan demikian, sentimen politik dan persoalan yang dirasakan dalam kehidupan sehari-hari perlu dibaca sebagai dua dimensi yang berbeda.
Menteri yang tak muncul
SSI juga menyoroti seberapa sering nama pejabat pemerintahan muncul dalam percakapan digital yang berkaitan dengan Prabowo. Dari total 1,22 miliar paparan konten terkait kata kunci Prabowo, 11 nama pejabat dengan keterpaparan terbesar menyumbang 126,44 juta paparan atau sekitar 10,3 persen.
Nama Gibran Rakabuming Raka tercatat memiliki paparan terbesar, yakni 55,24 juta. Di bawahnya ada Teddy atau Letkol Teddy dengan 33,80 juta paparan, serta Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia dengan 18,08 juta paparan.
Nama lainnya yang masuk dalam daftar tersebut antara lain Sudaryono, Syahganda Nainggolan, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), Amran Sulaiman, Zulkifli Hasan, Prasetyo Hadi, Sugiono, dan Natalius Pigai.
Namun, banyaknya paparan tidak selalu berarti sentimen positif terhadap pejabat yang bersangkutan juga tinggi. Dalam kelompok dengan keterpaparan tinggi, Syahganda Nainggolan mencatat proporsi sentimen positif sebesar 65 persen. Bahlil berada di angka 57,4 persen, sedangkan Teddy 55 persen.
Pada kelompok keterpaparan menengah, Zulkifli Hasan mencatat sentimen positif 62,1 persen, disusul AHY sebesar 58,3 persen dan Amran Sulaiman sebesar 55,3 persen. SSI membagi keterpaparan pejabat menjadi tiga kelompok, yakni dominan, menengah, dan tidak signifikan. Mayoritas anggota kabinet berada di luar kelompok dengan keterpaparan dominan maupun menengah.
Meski demikian, temuan ini tidak serta-merta menunjukkan bahwa pejabat yang jarang disebut memiliki kinerja buruk atau tidak mendukung Presiden. Data tersebut lebih menggambarkan seberapa sering nama mereka muncul dalam percakapan yang berkaitan dengan Prabowo.
Bukan sekadar soal sentimen
Menjelang dua tahun pemerintahan Prabowo-Gibran pada 20 Oktober 2026, hasil pemantauan SSI memberikan gambaran yang tidak sepenuhnya hitam putih.
Di satu sisi, sentimen positif terhadap Prabowo masih mendominasi. Sinyal peluang dan harapan terhadap masa depan Indonesia juga lebih besar secara kumulatif. Namun, kritik terhadap sektor hukum dan meningkatnya sinyal tekanan pada periode Oktober menunjukkan bahwa masih ada persoalan yang perlu diperhatikan.
Pada akhirnya, persepsi terhadap seorang Presiden tidak selalu identik dengan penilaian terhadap seluruh kebijakannya. Begitu pula optimisme terhadap masa depan tidak otomatis menghapus kekhawatiran mengenai kondisi ekonomi dan kehidupan sehari-hari.
Bagi pemerintah, tantangannya bukan hanya menjaga sentimen positif terhadap Presiden, tetapi juga memastikan kebijakan yang dijalankan dapat menjawab persoalan yang dihadapi masyarakat.*
