LEBANON – Lebanon dan Israel kembali duduk di meja perundingan. Kali ini, pembicaraan digelar di Roma dengan fokus membahas implementasi kesepakatan kerangka yang dimediasi Amerika Serikat untuk mengakhiri perang di Lebanon.
Bagi Beirut, agenda utama dalam perundingan dua hari tersebut adalah mendorong penarikan pasukan Israel dari wilayah Lebanon selatan. Namun, di tengah masih berlanjutnya serangan dan perbedaan sikap kedua pihak, peluang tercapainya kemajuan dalam waktu dekat dinilai masih terbatas.
Menurut pejabat Lebanon kepada Reuters, delegasi kedua negara mulai menggelar pertemuan di Kedutaan Besar Amerika Serikat di Roma pada Selasa. Pemindahan lokasi perundingan dari Washington ke ibu kota Italia disebut memberi ruang yang lebih mudah bagi masing-masing delegasi untuk berkonsultasi langsung dengan pemerintah mereka selama proses negosiasi berlangsung.
Presiden Lebanon Joseph Aoun telah memberikan arahan kepada delegasi negaranya agar menuntut penarikan segera pasukan Israel dari dua wilayah yang telah ditetapkan di Lebanon selatan sebelum memasuki pembahasan lanjutan dengan delegasi Israel.
Sehari sebelumnya, Menteri Luar Negeri Italia Antonio Tajani mengatakan negaranya menawarkan diri menjadi tuan rumah perundingan sebagai bagian dari upaya melanjutkan proses menuju gencatan senjata yang nyata di Lebanon.
“Kami juga sangat senang bahwa Roma dapat menjadi tempat berlangsungnya pertemuan ini. Dengan demikian, ibu kota kami menjadi ibu kota perdamaian,” kata Tajani menjelang pertemuan Uni Eropa di Brussel.
Besepakatan belum berjalan mulus
Perundingan di Roma merupakan tindak lanjut dari kesepakatan yang dicapai dalam pertemuan di Washington pada 26 Juni. Kesepakatan itu menyerukan penghentian perang Israel di Lebanon, pelucutan senjata kelompok-kelompok bersenjata yang diyakini merujuk kepada Hizbullah, pengerahan tentara Lebanon ke wilayah selatan, serta penarikan bertahap pasukan Israel.
Namun implementasinya masih menghadapi hambatan. Serangan Israel masih terus berlangsung, sementara Hizbullah menolak kesepakatan tersebut, termasuk upaya pelucutan senjatanya. Di sisi lain, Israel menyatakan pasukannya akan tetap berada di Lebanon selatan selama Hizbullah masih memiliki persenjataan.
Sejak konflik kembali pecah pada 2 Maret, diplomasi yang dipimpin Amerika Serikat tetap berjalan meski mendapat penolakan dari Hizbullah yang didukung Iran.
Dalam kesepakatan antara Amerika Serikat dan Iran pada pertengahan Juni, kedua negara sepakat menghentikan pertempuran di seluruh front, termasuk perang Israel di Lebanon. Meski demikian, Israel tetap memandang konfliknya dengan Hizbullah sebagai isu keamanan nasional dan melanjutkan operasi militernya.
Beirut dorong penarikan bertahap
Saat ini, militer Israel menguasai kawasan yang disebut sebagai “zona penyangga” sejauh sekitar 10 kilometer dari perbatasan Israel di sepanjang wilayah Lebanon selatan. Israel menyebut zona tersebut diperlukan untuk melindungi wilayah utaranya dari serangan Hizbullah.
Presiden Aoun berharap pertemuan di Roma menghasilkan langkah konkret di lapangan, terutama dimulainya penarikan pasukan Israel agar tentara Lebanon dapat segera ditempatkan di wilayah selatan.
Salah seorang pejabat Lebanon mengatakan delegasi negaranya akan mengusulkan skema penarikan pasukan Israel secara bertahap, satu zona demi satu zona. Mekanisme itu merupakan bagian dari proyek “zona percontohan”, di mana Hizbullah akan melucuti persenjataannya, pasukan Israel mundur, dan tentara Lebanon masuk secara bergantian ke setiap wilayah.
Kesepakatan 26 Juni menetapkan dua zona sebagai titik awal pelaksanaan rencana tersebut. Pekan lalu, seorang pejabat Amerika Serikat mengatakan Komando Pusat Militer AS (CENTCOM) telah berkoordinasi dengan Lebanon dan Israel untuk memulai proyek tersebut.
Menurut sumber Reuters, delegasi militer Amerika Serikat juga telah berada di Lebanon pada akhir pekan lalu guna membahas secara rinci rencana implementasi bersama Angkatan Darat Lebanon.
Korban terus bertambah
Di tengah proses diplomasi, operasi militer Israel masih berlangsung. Militer Israel disebut telah memaksa warga Lebanon meninggalkan rumah mereka dan melakukan peledakan terkendali terhadap sejumlah desa. Israel menyatakan langkah tersebut dilakukan untuk menghancurkan infrastruktur, termasuk terowongan bawah tanah yang digunakan Hizbullah.
Kementerian Kesehatan Lebanon mencatat lebih dari 4.000 warga Lebanon tewas dan lebih dari satu juta orang mengungsi sejak perang berlangsung pada Maret. Di pihak Israel, sedikitnya 32 personel militer dan empat warga sipil dilaporkan tewas akibat serangan Hizbullah sejak Israel memulai operasi militernya.*
