MADINAH – Di tengah proses pemulangan jemaah haji Indonesia dari Madinah menuju Tanah Air, perhatian petugas haji masih tertuju pada satu kelompok yang menjadi prioritas utama penyelenggaraan haji tahun ini: jemaah lansia dan penyandang disabilitas.
Bagi para petugas, melayani jemaah lansia bukan sekadar menjalankan tugas. Ada pengalaman batin yang sulit dilupakan, terutama ketika melihat senyum, air mata, hingga ucapan terima kasih tulus dari para tamu Allah yang telah menyelesaikan ibadah hajinya.
Kepala Sektor 3 Daker Madinah, Irfan Darmawansa, mengatakan kondisi jemaah lansia dan disabilitas yang tiba di Madinah dari Makkah justru menunjukkan perkembangan yang menggembirakan.
“Ketika menerima data dari Makkah, ada sejumlah jemaah yang tercatat menggunakan kursi roda. Namun saat tiba di Madinah, banyak yang ternyata sudah bisa berjalan sendiri. Alhamdulillah kondisi mereka rata-rata sehat,” kata Irfan, Sabtu (20/6/2026).
Menurutnya, perubahan tersebut bisa jadi dipengaruhi kondisi psikologis jemaah yang merasa lega setelah berhasil menuntaskan rangkaian ibadah haji di Armuzna.
Irfan menjelaskan, pelayanan kepada jemaah lansia dimulai sejak mereka turun dari bus. Petugas telah lebih dahulu menerima data jemaah yang membutuhkan bantuan khusus. Kursi roda, pendamping, hingga kamar hotel sudah dipersiapkan sebelum rombongan tiba.
“Kami prioritaskan lansia dan disabilitas untuk turun lebih dulu. Dari bus langsung kami antar ke kamar masing-masing. Tim lansia dan disabilitas (Landis) sudah siaga sejak awal,” ujarnya.
Tidak hanya itu, petugas juga membantu mengangkat koper dan barang bawaan jemaah hingga masuk ke dalam bus saat proses kepulangan.
“Kalau melihat jemaah lanjut usia membawa tas atau barang bawaan, pasti langsung kami bantu. Fokus kami memang kepada jemaah lansia,” tegasnya.
Bukan sekadar slogan
Menurut Irfan, perhatian terhadap lansia dan disabilitas menjadi fokus utama seluruh petugas sejak awal operasional haji.
Ia menyebut jumlah petugas yang menangani layanan lansia dan disabilitas bahkan diperbanyak dibanding tim lainnya. Setiap hari mereka melakukan visitasi ke hotel-hotel untuk memastikan kondisi kesehatan jemaah tetap terpantau.
“Kami terus mengecek kondisi mereka. Apa pun yang dibutuhkan akan kami bantu. Bahkan jika ada kloter yang kekurangan pendamping kursi roda, petugas kami siap turun membantu,” ujarnya.
Soliditas antarpetugas juga menjadi kunci keberhasilan pelayanan. “Koordinasi dengan sektor lain dan tim kesehatan sangat cepat. Tidak ada istilah ini jemaah siapa atau itu jemaah siapa. Semua bergerak bersama,” katanya.
Kisah yang membuat petugas menangis
Di balik rutinitas pelayanan, ada momen-momen yang membekas di hati para petugas. Irfan mengaku pernah mendampingi seorang jemaah lansia yang selama berada di Madinah belum pernah sekalipun mengunjungi Masjid Nabawi karena keterbatasan fisik.
Ketika petugas mengetahui hal itu, mereka segera mengantar jemaah tersebut menggunakan kursi roda hingga bisa berziarah dan beribadah di Masjid Nabawi.
“Itu yang membuat kami terharu. Keikhlasan petugas bertemu dengan doa dan rasa syukur jemaah. Kadang kami ikut menangis,” ungkapnya.
Bagi Irfan, program Haji Ramah Lansia memberikan pelajaran hidup yang sangat berharga. Menurutnya, para petugas seolah sedang belajar merawat orang tua mereka sendiri melalui pelayanan kepada para jemaah lansia di Tanah Suci.
“Kadang kami jadi berpikir, belum tentu kami melayani orang tua sendiri sebaik ini. Di sini kami dipaksa belajar mengurus orang tua. Ini pengalaman yang sangat berharga,” katanya.
Ia berharap pengalaman tersebut menjadi bekal untuk semakin berbakti kepada orang tua setelah kembali ke Indonesia.
Pulang demi bertemu cucu
Kesan positif terhadap pelayanan petugas datang dari Suwani (69), jemaah Kloter JKG 25 asal Kramat Jati, Jakarta Timur.
Perempuan yang telah menunggu keberangkatan haji sejak 2013 itu mengaku bersyukur akhirnya bisa menunaikan rukun Islam kelima meski harus menggunakan kursi roda akibat penyakit Hernia Nukleus Pulposus (HNP) atau biasa disebut saraf kejepit, yang ia derita selama dua tahun terakhir.
“Alhamdulillah, saya bersyukur sekali bisa berhaji,” ujarnya.
Selama menjalani ibadah haji, Suwani mengaku mendapatkan pelayanan yang memuaskan dari para petugas. “Kalau ada laporan, langsung dibantu. Petugasnya sabar. Pokoknya tidak ada yang mengecewakan,” tuturnya.
Ia juga merasa tenang karena selalu mendapatkan pendampingan selama berada di Tanah Suci. Meski demikian, kerinduan kepada keluarga mulai tak terbendung menjelang kepulangan ke Indonesia. “Sudah kangen cucu,” ucapnya sambil tersenyum.
Yang tak ternilai
Bagi Irfan dan rekan-rekannya, keberhasilan pelayanan tidak diukur dari laporan atau angka statistik.
Ada satu hal yang menurutnya jauh lebih berharga. “Ketika jemaah berkata, ‘Terima kasih ya Nak’, sambil memegang tangan petugas, itu tidak bisa diukur dengan apa pun. Itulah kebanggaan terbesar kami sebagai petugas,” tuturnya.
Ucapan sederhana itu menjadi hadiah paling berharga setelah berbulan-bulan melayani para tamu Allah di Tanah Suci.
“Kalau soal tugas, itu memang kewajiban kami. Tapi ketika jemaah menangis dan mengucapkan terima kasih dengan tulus, itu yang paling membekas di hati,” kata Irfan.
Bagi para petugas, mungkin itulah makna sebenarnya dari pelayanan haji ramah lansia: menghadirkan rasa aman, nyaman, dan kemanusiaan bagi mereka yang telah menghabiskan sebagian besar hidupnya untuk menunggu panggilan Allah ke Tanah Suci.*
