MADINAH — Satu per satu jemaah haji Indonesia bersiap meninggalkan Tanah Suci melalui Bandara Amir Muhammad bin Abdul Aziz (AMAA), Madinah. Di antara mereka, tersimpan cerita tentang penantian panjang, doa-doa yang dipanjatkan di tempat mustajab, hingga pelayanan petugas haji yang membantu mereka menuntaskan ibadah dengan nyaman.
Bagi sebagian jemaah, perjalanan pulang bukan sekadar kembali ke rumah. Mereka membawa kenangan yang akan terus tersimpan sepanjang hidup.
Baharuddin Labarang Lasalareng, misalnya. Jemaah asal Sulawesi Tengah yang tergabung dalam Kloter BPN 09 itu mengaku bahagia bisa segera kembali pulang. Ia bersyukur akhirnya dapat menunaikan ibadah haji setelah menunggu sejak 2013.
“Saya sangat bersyukur sekali bisa menjalankan ibadah haji tahun ini. Kami telah mendaftar sejak 2013, jadi kami menunggu sekitar 13 tahun untuk bisa berangkat haji,” ujarnya, saat ditemui di ruang tunggu bandara.
Menurut Baharuddin, seluruh rangkaian ibadah yang dijalani tahun ini memberikan pengalaman spiritual yang luar biasa. Kesempatan mengunjungi Masjidil Haram dan Masjid Nabawi menjadi momen yang selama ini hanya ia impikan.
Namun ada satu pengalaman yang paling membekas dalam ingatannya: mencium Hajar Aswad.
“Alhamdulillah waktu melakukan tawaf atau umrah di Makkah, saya dan istri berkesempatan mencium Hajar Aswad. Ini adalah pengalaman yang sangat luar biasa. Tidak semua orang bisa mendapatkan kesempatan untuk mencium Hajar Aswad,” katanya.
Baharuddin dan istrinya bergantian mencium Hajar Aswad secara berurutan.
Berdoa di Multazam dan Raudah
Selain mencium Hajar Aswad, Baharuddin juga mendapatkan kesempatan berdoa di Multazam, salah satu tempat yang diyakini mustajab untuk memanjatkan doa.
Di tempat itu, ia mendoakan kedua orang tua, anak-anak, serta memohon ampunan dan keberkahan bagi keluarganya.
“Dan saya juga berdoa agar kami sekeluarga bisa kembali lagi berkunjung ke Tanah Suci ini dalam rangka melakukan ibadah umrah di kemudian hari,” tuturnya.
Kesempatan beribadah di Raudah juga menjadi pengalaman yang sulit dilupakan. Baharuddin mengaku sangat terharu saat berada di dekat makam Rasulullah SAW.
“Saya sangat terharu bisa berkunjung ke makam Rasulullah SAW. Perasaan yang tak bisa saya ucapkan dengan kata-kata,” ujarnya.
Di Raudah, ia kembali memanjatkan banyak doa karena tempat tersebut diyakini sebagai salah satu lokasi terbaik untuk bermunajat kepada Allah SWT.
Pengalaman lain yang membuat Baharuddin takjub adalah ketika melihat langsung Maqam Ibrahim, batu yang menyimpan jejak telapak kaki Nabi Ibrahim AS saat membangun Ka’bah.
“Saya akhirnya bisa melihat secara langsung bekas tapak kaki beliau. Ternyata kaki beliau itu besar ya, karena bekas tapak kakinya terlihat sangat besar,” ujarnya.
Sementara itu, seluruh rangkaian puncak ibadah haji di Arafah, Muzdalifah, dan Mina menurutnya berlangsung lancar tanpa kendala berarti.
Madinah yang tenang
Cerita berbeda disampaikan Marwah Nandini, jemaah Kloter BPN 09 lainnya. Menjelang kepulangan ke Indonesia, ia mengaku merasakan dua perasaan sekaligus: bahagia karena akan bertemu keluarga, namun sedih harus meninggalkan Tanah Suci.
“Senang tapi sedih. Senang kita kembali bersama keluarga. Sedih meninggalkan tanah suci. Moga bisa kembali lagi ke sini,” harapnya.
Selama berada di Madinah, Marwah mendapat kesempatan masuk ke Raudah sebanyak dua kali. Ia memanfaatkan momen tersebut untuk berdoa bagi dirinya sendiri dan keluarga.
Menurut Marwah, suasana Madinah memberikan kesan berbeda dibandingkan Makkah.
“Di Makkah itu sepertinya semua serba cepat dan sibuk. Di Madinah itu lebih tenang,” kata jemaah yang berdomisili di Kota Palu itu.
Lokasi hotel yang dekat dengan Masjid Nabawi membuatnya lebih mudah beribadah. Ia cukup berjalan kaki untuk menuju masjid setiap hari.
Petugas haji dinilai sigap
Selain pengalaman spiritual, Marwah juga memberikan apresiasi terhadap pelayanan petugas haji Indonesia selama musim haji tahun ini.
Menurutnya, petugas hadir dan sigap membantu berbagai kebutuhan jemaah, termasuk mereka yang sakit atau memiliki keterbatasan fisik.
“Jemaah yang sakit dilayani dengan baik. Demikian pula jemaah yang tak bisa jalan, disediakan kursi roda. Pokoknya petugas haji tahun ini bagus sekali,” ujarnya.
Ia juga menilai layanan konsumsi berjalan lancar, baik selama berada di hotel maupun saat fase puncak ibadah haji.
“Makanan juga semua aman. Layanan makanan di hotel maupun saat wukuf di Arafah dan mabit di Mina bagus sekali. Makanan berlebih,” katanya.
Kini, menjelang kepulangan ke Indonesia, koper Marwah telah terisi berbagai oleh-oleh untuk keluarga dan tetangga di kampung halaman. “Macam-macam yang dibawa, mulai kurma, coklat, hingga mainan buat anak-anak,” tutupnya.*
