JAKARTA – Ada satu hal yang sering kita anggap biasa, padahal menentukan hampir semua keputusan dalam hidup, yaitu kemampuan berpikir.
Mulai dari memilih informasi yang layak dipercaya, menilai janji politik, menghitung pengeluaran rumah tangga, hingga memutuskan apakah sebuah unggahan di media sosial benar atau sekadar manipulasi. Semuanya membutuhkan pikiran yang bekerja, bukan sekadar bereaksi atau bersifat reaktif.
Setiap 21 Oktober, komunitas di berbagai negara memperingati Celebration of the Mind Day atau Hari Perayaan Pikiran. Peringatan ini terinspirasi dari hari kelahiran Martin Gardner (1914–2010), penulis dan pemopuler (trendsetter) matematika asal Amerika Serikat yang dikenal luas melalui kolom Mathematical Games di majalah Scientific American. Selama sekitar 25 tahun, Gardner memperkenalkan teka-teki, permainan matematika, paradoks, dan ilusi kepada pembaca umum, membuktikan bahwa gagasan ilmiah yang rumit pun bisa dijelajahi dengan cara menyenangkan (Yam, 2021).
Gagasan tersebut kemudian dikembangkan oleh Gathering 4 Gardner Foundation melalui kegiatan yang mempertemukan anak-anak, orang dewasa, pendidik, dan penggemar sains untuk bermain, berdiskusi, serta mengeksplorasi matematika dan logika.
Dalam konteks keterkinian, kalangan generasi Z (Gen Z), yang lahir di era masifnya teknologi digital, kerap memandang matematika sebagai pelajaran yang kering, membosankan, dan tidak relevan dengan kehidupan mereka.
“Aku paling malas dengan pelajaran Matematika. Ribet dan Susah banget!” Kalimat ini mungkin sudah tidak asing lagi di telinga para guru dan orangtua. Ketakutan terhadap matematika atau yang dalam istilah psikologi disebut “math anxiety” ternyata bukan hanya dialami oleh sebagian kecil anak, melainkan fenomena yang sangat umum terjadi di era modern yang ditingkahi disrupsi teknologi dan masifnya akses media sosial (Richardson dan Suinn, 1972; Ashcraft, 2002).
Yang mengkhawatirkan, ketakutan dan perasaan tertekan terhadap angka-angka dan rumus-rumus ini sering muncul sejak anak masih duduk di bangku sekolah dasar. Tanpa solusi yang tepat, akan terbawa hingga mereka dewasa.
Namun, apa jadinya jika matematika disajikan dengan cara yang lebih menarik, interaktif, dan relevan dengan dunia yang mereka huni? Apakah jika ramuan pembelajaraanya tepat, bakal mengubah rasa malas, sebal hingga benci tersebut menjadi rasa suka dan bahkan “ketagihan”? Apakah mungkin?

Bayangkan matematika sebagai sebuah game favorit yang penuh strategi, tantangan, dan kejutan, yang dapat membantu Gen-Z mengembangkan kemampuan berpikir kritis, memecahkan masalah, dan saling berkolaborasi.
Berpikir bukan monopoli orang pintar
Pesan penting dari peringatan ini sebenarnya sederhana, bahwa berpikir kritis bukan kemampuan eksklusif ilmuwan, matematikawan, atau orang yang memiliki gelar akademik tinggi. Berpikir kritis merupakan kebiasaan yang bisa dilatih siapa saja.
Sebuah tamsil sederhana. Sebuah unggahan di media sosial menyebutkan harga beras akan melonjak dua kali lipat mulai pekan depan. Kita bisa langsung panik, meneruskannya ke grup keluarga, lalu ikut memperbesar kepanikan. Namun, kita juga bisa berhenti sejenak untuk merenungkan tentang siapa yang menyampaikan informasi itu? Adakah data resmi? Apakah ada media kredibel yang melaporkannya? Pertanyaan-pertanyaan kecil ini dapat membedakan respons yang masuk akal dari reaksi yang spontan.
Di sinilah relevansi Hari Perayaan Pikiran terasa semakin kuat. UNESCO dan berbagai organisasi pendidikan telah lama menekankan pentingnya kemampuan literasi informasi dan media, termasuk kecakapan mengevaluasi sumber, memeriksa bukti, serta mengenali informasi menyesatkan (Grizzle dkk., 2021).

Di tengah membanjirnya konten digital, perkembangan kecerdasan buatan (AI), dan DFK (disinformasi, fitnah dan kebencian), kemampuan menghasilkan informasi semakin mudah diperoleh. Namun, memastikan kebenarannya memang membutuhkan usaha lebih besar.
Dari teka-teki ke persoalan nyata
Secara konseptual, latihan berpikir dapat dimulai dari tiga kebiasaan, mulai dari merumuskan pertanyaan yang tepat, menguji asumsi dengan bukti, hingga bersedia mengubah kesimpulan ketika fakta baru muncul, sebagaiman dikonsepsikan John Dewey (1910) dan Peter Facione (2023). Dua ilmuwan tersebut mendefinisikan berpikir reflektif sebagai “active, persistent, and careful consideration” terhadap suatu keyakinan berdasarkan alasan dan bukti yang mendukungnya, sehingga mendorong individu untuk menguji asumsi serta meninjau ulang kesimpulan yang telah dibuat.
Keduanya juga menegaskan bahwa berpikir reflektif dan kritis mensyaratkan kemampuan merumuskan masalah atau pertanyaan, menguji keyakinan melalui bukti yang relevan, serta merevisi kesimpulan berdasarkan temuan baru. Tentu saja ini bukan rumus baku yang menjamin seseorang selalu benar, tetapi lebih merupakan kerangka berpikir sederhana untuk mengurangi kesalahan penalaran.
Contoh empirisnya dapat ditemukan di ruang kelas. Guru tidak hanya meminta murid menghafal rumus, tetapi juga mengajak mereka membandingkan dua cara penyelesaian soal, menjelaskan alasan di balik jawaban, dan menguji apakah hasilnya masuk akal. Intinya adalah belajar memahami berbasis analisa, bukan sekadar menghafal.
Dalam kehidupan sehari-hari, prinsip serupa bisa diterapkan ketika membandingkan harga barang, membaca klaim kesehatan, atau menilai program pemerintah berdasarkan data dan fakta, bukan semata-mata slogan, retorika atau jargon.
Gardner sendiri menunjukkan bagaimana pendekatan tersebut dapat menjangkau masyarakat luas. Melalui kolomnya, permainan seperti Conway’s Game of Life dan beragam teka-teki matematika diperkenalkan kepada pembaca yang belum tentu memiliki latar belakang matematika formal. Karya-karya itu turut menginspirasi generasi pembaca untuk mengeksplorasi matematika dan sains lebih jauh (Mulcahy dan Richards, 2014).

Tentu, berpikir kritis bukan berarti mencurigai segala sesuatu atau menganggap pendapat sendiri paling benar. Skeptisisme yang sehat tetap membutuhkan bukti, keterbukaan, dan kesediaan mengakui kekeliruan. Facione sendiri menekankan bahwa berpikir kritis mensyaratkan evaluasi berbasis bukti, keterbukaan pikiran (open-mindedness), dan self-regulation. Tanpa itu, sikap kritis bisa berubah menjadi sinisme semata.
Pada akhirnya, Hari Perayaan Pikiran bukan sekadar perayaan matematika, teka-teki, atau kecerdikan manusia. Ini juga pengingat bahwa kualitas keputusan kita sangat bergantung pada kualitas pertanyaan yang berani kita ajukan.
Mungkin kita tidak perlu menunggu peringatan tahunan untuk melatihnya. Saat menerima kabar yang mengejutkan, membaca klaim yang terlalu meyakinkan, atau menghadapi persoalan yang tampak rumit, sepatutnya kita berhenti sebentar dan bertanya: apa buktinya?
Sebab, pikiran yang baik bukan pikiran yang selalu memiliki jawaban. Melainkan pikiran yang tidak berhenti mencari alasan yang masuk akal.
E.S. Raharjo. Tim redaksi Total Politik
Referensi:
Alton Grizzle, Carolyn Wilson & Dorothy Gordon (ed.), Media and Information Literate Citizens: Think Critically, Click Wisely! UNESCO, Paris, 13 April 2021.
Colm Mulcahy dan Dana Richards, “Math Games of Martin Gardner Still Spur Innovation,” Scientific American, 1 Oktober 2014.
Frank C. Richardson dan Richard M. Suinn, “The Mathematics Anxiety Rating Scale: Psychometric Data,” Journal of Counseling Psychology, Vol. 19, No. 6, 1972, hlm. 551-554.
Gathering 4 Gardner Foundation, “About Celebration of Mind.” https://www.gathering4gardner.org/celebration-of-mind/.
John Dewey, How We Think, D.C. Heath and Company, Boston, 1910, hlm. 6-9.
Mark H. Ashcraft, “Math Anxiety: Personal, Educational, and Cognitive Consequences,” Current Directions in Psychological Science, Vol. 11, No. 5, 2002, hlm. 181-185
Peter A. Facione, Critical Thinking: What It Is and Why It Counts, Insight Assessment, Millbrae, California, 2023, hlm. 5-7.
Philip Yam, “Profile: Martin Gardner, the Mathematical Gamester (1914–2010),” Scientific American, 22 Mei 2010. https://www.scientificamerican.com/article/profile-of-martin-gardner/.
