PURWAKARTA – Kita selama ini membayangkan kecerdasan buatan (artificial intelligence/ AI) sebagai sesuatu yang rumit dan super-canggih berada di balik layar komputer atau telepon pintar. Begitu pertanyaan diketik, dalam hitungan detik mesin atau aplikasi AI langsung menjawab, dengan catatan koneksi internet stabil dan kencang. Semuanya tampak serba virtual, kilat dan instan. “Jos jis” kalau kata Gen Z dan “Mantul” atau “GOKS” untuk generasi awal penggunaan X atau Twitter dan Youtube.
Padahal di belakang satu jawaban AI terdapat bangunan fisik yang sangat besar. Ada ribuan bahkan jutaan prosesor, sistem kelistrikan, jaringan transmisi, generator cadangan, sistem pendinginan, instalasi pengolahan air, dan infrastruktur konstruksi. Semakin padat komputasinya, semakin besar panas yang harus dibuang. Itulah sebabnya ekspansi AI melahirkan persoalan baru dalam hubungan antara digitalisasi teknologi dan sains, dengan sumber daya energi dan air.

Laporan Lawrence Berkeley National Laboratory untuk Departemen Energi Amerika Serikat dari Sherabi dkk. (2024) memperkirakan konsumsi listrik pusat data AS meningkat tajam dan dapat mencapai sekitar 6,7 sampai 12 persen konsumsi listrik nasional pada 2028. Pertumbuhan tersebut antara lain didorong oleh “rakusnya” daya konsumsi oleh mesin AI dan peningkatan kebutuhan komputasi lainnya.
Air menjadi bagian dari persoalan karena panas dari server harus dipindahkan dan dibuang. Salah satu cara yang telah lama digunakan adalah pendinginan evaporatif (evaporative cooling), yang menggunakan mekanisme penguapan air untuk membawa panas keluar dari sistem.
Masalahnya bukan semata-mata jumlah air yang digunakan industri pusat data secara nasional, namun lokasi. Sebuah pusat data mungkin hanya menyumbang sebagian kecil konsumsi air dalam skala nasional. Tetapi jika fasilitas itu berada di wilayah yang suplai airnya terbatas, dampaknya dapat menjadi jauh lebih besar secara lokal.

Kajian terbaru di AGU Advances oleh Privette dkk (2026) menekankan persoalan tersebut. Dampak lokal pusat data dapat signifikan meskipun konsumsi air sektor data center secara nasional relatif kecil. Peneliti juga menyoroti rendahnya transparansi mengenai konsumsi air aktual berbagai fasilitas. Dengan kata lain, ukuran persoalannya bukan hanya berapa banyak air yang dikonsumsi, tetapi juga air yang dikonsumsi di mana, kapan, dari sumber apa, dan dengan mengorbankan kebutuhan siapa.
Oleh karenanya, konteks tersebut membuat rencana pembangunan pusat data (data center) AI Campus 2 alias CGK4 di Waduk Jatiluhur, Jawa Barat, menjadi relatif sensitif. Berdasarkan laporan Bisnis.com (22/9/2026) dan BDx Data Centers (22/9/2026), groundbreaking pembangunan fasilitas tersebut dimulai dengan kapasitas hingga 640 Megawatt (MW) dan pasokan jaringan 845 Megavolt Ampere (MVA). Fase awal dirancang sebesar 120 MW dan ditargetkan mulai beroperasi pada awal 2027. Lokasinya berada sekitar lima kilometer dari Waduk Jatiluhur.
Namun, perkembangan terbaru menunjukkan adanya penundaan proyek. Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, pada akhir September 2026 mengumumkan bahwa pembangunan data center tersebut ditangguhkan sementara, sebagaimana dilaporkan Kumparan (30/9/2026). Alasan utama penundaan adalah kekhawatiran terhadap dampak ekologis Waduk Jatiluhur, khususnya pada pasokan air irigasi dan kebutuhan domestik di kawasan metropolitan. Dedi menegaskan bahwa proyek tidak boleh berjalan tanpa kajian transparan mengenai efektivitas penggunaan air (Water Usage Effectiveness/WUE), skenario kemarau panjang, serta mekanisme prioritas alokasi air bagi masyarakat dan sektor pertanian.
Jadi, polemik tidak semestinya berhenti pada pertanyaan apakah kebutuhan Indonesia terhadap infrastruktur AI sudah sangat urgen atau belum. Pertanyaan yang lebih mendasar adalah di mana sebaiknya infrastruktur itu dibangun, sumber daya apa yang menopangnya, siapa yang menanggung biaya atau dampak ekologisnya, dan siapa yang memperoleh manfaat ekonominya.

Pusat data memang tidak otomatis menjadi ancaman bagi sumber daya air, karena teknologi pendinginan terus berkembang pesat. Teknologi seperti direct-to-chip liquid cooling, closed-loop cooling, dry cooling, serta penggunaan air daur ulang atau reclaimed water dapat mengurangi kebutuhan air operasional data center, meskipun besarnya penghematan bergantung pada desain pendinginan, kondisi iklim, dan sumber air yang digunakan (Microsoft, 2024). Karena itu, kapasitas listrik 640 MW tidak dapat begitu saja diterjemahkan menjadi angka konsumsi air tertentu tanpa mengetahui desain teknis fasilitasnya.
Namun, justru karena terdapat segala ketidakpastian itulah standar transparansi harus diperketat. Air Waduk Jatiluhur bukan sumber daya yang berdiri sendiri. Sistemnya menopang irigasi pertanian, air baku metropolitan, energi, pengendalian air, dan kepentingan ekologis di banyak wilayah di Jawa Barat.
Menurut laporan Antara (1/4/2026) dan Kementerian Pekerjaan Umum (2025, 2026), daerah irigasi Waduk Jatiluhur melayani sekitar 237.790 hektare lahan pertanian dan disebut berkontribusi sekitar 10 persen produksi beras nasional. Sistem sanitasi Waduk Jatiluhur juga berhubungan dengan pasokan air baku kawasan metropolitan. Pada 2026, sekitar 92 persen pasokan air baku Perumda Air Minum (PAM) Jaya dilaporkan berasal dari luar Jakarta, dengan Waduk Jatiluhur sebagai salah satu sumber utama. Pemerintah bahkan tengah mengembangkan Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) Jatiluhur II untuk memasok Jakarta, Bekasi, dan Bogor.
Dengan demikian, persoalannya bukan sekadar berapa banyak air yang digunakan sebuah data center, tetapi air itu diambil dari mana, kapan digunakan, dan apa konsekuensinya terhadap pengguna lain.

Dus, kapasitas 640 MW tidak sama dengan konsumsi air tertentu. Menurut Privette dkk. (2026), teknologi pendinginan menentukan kebutuhan tersebut. Sistem sirkulasi tertutup (closed-loop) dapat mensirkulasikan cairan pendingin berulang kali dan menekan penggunaan air operasional. Karena itu, publik membutuhkan data yang komprehensif, bukan asumsi secara sepotong-potong.
Berapa kebutuhan air ketika fasilitas berkapasitas 120 MW, dan kemudian bertambah mencapai 640 MW? Berapa banyak kebutuhan rata-rata air dan puncak konsumsinya, dan apakah hanya akan menyedot debit air Waduk Jatilihur saja? Bagaimana pengelolaannya ketika terjadi kemarau panjang dan air Jatiluhur berkurang drastis? Pertanyaan-pertanyaan tersebut seharusnya menjadi bagian dari informasi yang harus dibagi atau diketahui oleh publik sebelum proyek berkembang lebih jauh.
Pertaruhan Kredibilitas dan Akuntabilitas Tata Kelola
Indonesia tidak harus memilih bahwa tidak ada trade-off kebutuhan antara AI dan lingkungan. Yang dibutuhkan adalah pembangunan yang berbasis pada kepercayaan dan pertanggungjawaban. Keberhasilan proyek tidak cukup diukur dari megawatt kapasitas komputasi, nilai investasi, atau lapangan kerja. Ketiganya dapat berjalan berdampingan jika perusahaan mampu membuktikan bahwa setelah ekosistem AI tumbuh, ada jaminan bahwa sistem pendinginannya efisien, sumber airnya jelas, penggunaan airnya terukur, dan kebutuhan domestik air bersih serta irigasi lahan tetap terlindungi secara berkelanjutan.
Karena itu, Waduk Jatiluhur membutuhkan manajemen anggaran air sebelum anggaran AI. Pemerintah perlu membuka data mengenai efektivitas penggunaan air atau Water Usage Effectiveness (WUE), sumber air, kebutuhan puncak, skenario kemarau, kualitas air buangan, serta mekanisme prioritas alokasi ketika terjadi tekanan pasokan.
Server dapat dimatikan, data bisa dipindahkan, dan investasi pun mampu berpindah lokasi. Tetapi ketika sebuah ekosistem sumber daya air dan infrastruktur jaringannya mengalami kerusakan serius, memulihkannya tidak sesederhana memindahkan sebuah pusat data.
E.S. Raharjo & Anantama Tyo. Tim Redaksi Total Politik
Referensi:
Arman Shehabi, Sarah Josephine Smith, Alex Hubbard, Alexander Newkirk, Nuoa Lei, Md. Abu Bakar Siddik, Billie Holecek, Jonathan G. Koomey, Eric J. Masanet, dan Dale A. Sartor, 2024 United States Data Center Energy Usage Report, Lawrence Berkeley National Laboratory, Berkeley, California, 2024, https://doi.org/10.71468/P1WC7Q.
BDx Data Centers, “BDx Breaks Ground on 640MW AI Data Center in West Java, Backed by 845MVA of Secured Grid Power,” 22 September 2026, https://www.bdxworld.com/bdx-breaks-ground-on-640mw-ai-data-center-in-west-java-backed-by-845mva-of-secured-grid-power/.
E&E News, “Musk Promised His Data Center Would Reuse Water. That’s Now Stalled,” 2026.
Pernita Hestin Untari/ TODO, “BDx Mulai Bangun Data Center AI 640 MW di Jatiluhur”, Bisnis.com, 22 September 2026. https://teknologi.bisnis.com/read/20260922/84/2006055/bdx-mulai-bangun-data-center-ai-640-mw-di-jatiluhur
National Public Radio/CapRadio, “How Memphis Became a Battleground over Elon Musk’s xAI Supercomputer,” 2024.
Reuters, “In Silicon Valley, AI Data Center Boom Meets Local Resistance,” 17 September 2026.
Reuters, “Texas Governor Abbott Halts All State-Issued Permits for Data Centers Until Grid Audit Is Complete,” 21 September 2026.
The Jakarta Post, “Singapore’s BDx Launches 640MW Data Center Project in West Java,” 22 September 2026.
Kementerian Pekerjaan Umum, Direktorat Jenderal Sumber Daya Air, “Tingkatkan Luas Tanam dan Indeks Pertanaman di Jawa Barat: Dirjen SDA Dampingi Menteri PU Tinjau Rehabilitasi Saluran Induk Tarum Utara D.I Jatiluhur,” 2025.
Balai Besar Wilayah Sungai Citarum, Direktorat Jenderal Sumber Daya Air, Kementerian Pekerjaan Umum, “Menjaga Keberlangsungan Bendungan Jatiluhur: Infrastruktur Penyokong Swasembada Pangan di Jawa Barat,” 2026.
Mario Sofia Nasution & Syaiful Hakim, “PAM Jaya Dinilai Mampu Penuhi Kebutuhan Air Saat Kemarau Ekstrem,” AntaraNews, 1 April 2026.
Kementerian Pekerjaan Umum, Direktorat Jenderal Pembiayaan Infrastruktur, “SPAM Ir. H. Djuanda/Jatiluhur II,” 2026, https://simpulkpbu.pu.go.id/proyek/spam-ir-h-djuandajatiluhur-ii-4-4.
Microsoft, “Sustainable by Design: Next-Generation Datacenters Consume Zero Water for Cooling,” Microsoft Cloud Blog, Desember 9, 2024, https://www.microsoft.com/en-us/microsoft-cloud/blog/2024/12/09/sustainable-by-design-next-generation-datacenters-consume-zero-water-for-cooling/
Raymond Tan, “How is AI changing storage and data centres?”, ITnews Asia, 27 Oktober 2025, https://www.itnews.asia/news/how-is-ai-changing-storage-and-data-centres-621320
Republik Indonesia, Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2019 tentang Sumber Daya Air, Pasal 8, Jakarta, 2019, https://peraturan.go.id/id/uu-no-17-tahun-2019.
Republik Indonesia, Peraturan Pemerintah Nomor 30 Tahun 2024 tentang Pengelolaan Sumber Daya Air, Jakarta, 2024, https://peraturan.go.id/id/pp-no-30-tahun-2024.
Meta, “Advancing Water Stewardship at Our Data Center Communities,” 17 Desember 2025, diperbarui 26 Juni2026.
Microsoft, “Inside the World’s Most Powerful AI Datacenter,” September 18, 2025.
Vega Maarijil Ula & Abisatya Mardhani, “Proyek Data Center AI Jatiluhur Dihentikan Sementara, Perizinan Belum Kelar”, KumparanNews, 30 September 2026, https://kumparan.com/kumparannews/proyek-data-center-ai-jatiluhur-dihentikan-sementara-perizinan-belum-kelar-28Hf4IlfIQR/full.
