ROMA – Pada hari itu, di perairan dekat Actium (Aktion/Aktio), pesisir barat Yunani, armada Octavianus berhadapan dengan kekuatan Marcus Antonius dan Cleopatra VII. Pertempuran laut tersebut berlangsung sebagai klimaks dari rangkaian panjang perang saudara Romawi. Namun akibat politiknya jauh melampaui kemenangan sebuah armada atas armada lainnya. Actium menjadi salah satu titik penentu yang mengakhiri Republik Romawi dan membuka jalan bagi lahirnya sistem kekuasaan yang kemudian dikenal sebagai Principate atau Principatus (latin), fondasi awal Kekaisaran Romawi.
Konsep penyebutan di mana Kaisar Octavianus Augustus (selanjutnya lebih populer disebut Augustus saja) dan para penerusnya berkuasa sebagai princeps (“warga pertama”). Bukan sebagai raja atau diktator secara formal, meskipun bentuk baru pemerintahan tersebut tetap monarki.

Octavianus membangun kekuasaannya dengan mempertahankan banyak institusi dan bahasa politik Republik. Menurut Millar (1997), tujuannya untuk menjaga ilusi pada publik bahwa sistem Republik masih ada, padahal kekuasaan sesungguhnya terkonsentrasi pada satu orang. Periode ini berakhir dengan munculnya Dominate atau Dominatus (sistem kekaisaran yang lebih absolut) pada masa Diocletianus (akhir abad ke-3 M)
Karena itu, Perang Actium tidak harus dibaca hanya sebagai kisah peperangan antara Octavianus melawan Antonius dan Cleopatra. Perang Actium adalah cerita tentang bagaimana sebuah republik yang telah lama dilanda perebutan kekuasaan, konflik elite, dan perang saudara akhirnya menemukan bentuk pemerintahan baru.
Suksesi Kepemimpinan Romawi: Dari Sekutu Menjadi Musuh
Akar konflik Actium dapat ditelusuri kembali hingga pembunuhan Julius Caesar pada 44 SM. Setelah Caesar tewas, Roma kembali terjerumus ke dalam perebutan kekuasaan. Octavianus, keponakan sekaligus anak angkat dan pewaris Julius Caesar, pada awalnya bukanlah tokoh yang paling dominan. Marcus Antonius justru memiliki pengalaman militer, jaringan politik, dan pengaruh yang jauh lebih besar.
Keduanya kemudian bergabung dengan Marcus Aemilius Lepidus dalam Triumvirat Kedua pada 43 SM. Aliansi tersebut secara formal dimaksudkan untuk menata kembali negara dan membalas dendam kematian Caesar. Dalam praktiknya, triumvirat menjadi pembagian kekuasaan di antara tiga orang kuat. Cassius Dio (1917–1925) menggambarkan periode tersebut sebagai masa ketika Roma secara formal belum menjadi monarki, tetapi kekuasaan republik telah kehilangan substansinya karena para pemimpin politik berusaha menguasai pemerintahan berdasarkan kekuatan masing-masing.
Lepidus akhirnya tersingkir. Marcus Antonius menguasai wilayah timur dan membangun hubungan semakin dekat dengan Cleopatra, penguasa Mesir dari dinasti Ptolemaios. Sementara itu, Octavianus memperkuat basisnya di wilayah barat, membangun hubungan dengan elite Roma, serta memperkuat kekuatan militernya.
Hubungan Antonius dengan Cleopatra kemudian menjadi senjata politik bagi Octavianus. Dalam propaganda politiknya, Antonius tidak lagi digambarkan semata-mata sebagai rival Romawi, tetapi sebagai seseorang yang telah terseret terlalu jauh ke dalam pengaruh seorang ratu asing. Bahkan perang yang sesungguhnya merupakan perebutan kekuasaan di antara elite Romawi dikonstruksi sedemikian rupa sehingga tampak sebagai perjuangan Roma melawan ancaman dari Mesir.
Sumber-sumber kuno sendiri perlu dibaca secara kritis karena sebagian besar narasi yang bertahan ditulis dari perspektif pihak yang menang. Plutarch (1920) misalnya, menggambarkan bagaimana Octavianus menggunakan surat wasiat Antonius dan hubungannya dengan Cleopatra sebagai bagian dari kampanye politik. Dokumen tersebut dibacakan di hadapan publik dan digunakan untuk memperkuat kesan bahwa Antonius telah menempatkan kepentingan Cleopatra dan anak-anak mereka di atas kepentingan Roma.
The Battle of Actium adalah Pertempuran yang Menentukan
Menjelang musim panas 31 SM, pasukan armada laut Antonius dan Cleopatra telah berkonsentrasi di kawasan Actium. Octavianus, dengan bantuan penting dari Marcus Vipsanius Agrippa, jenderal atau laksamana utama sekaligus sahabat dekatnya. Ia bukan hanya panglima militer, tetapi juga arsitek utama kemenangan Octavianus dalam Perang Actium. Cassius Dio mencatat bahwa pasukan Octavianus yang dikomandoi Agrippa bahkan membangun posisi yang memungkinkan mereka mengawasi dan memblokade kekuatan Antonius dari darat maupun laut.

Strategi lainnya yang digunakan Agrippa adalah memutus jalur suplai logistik dan peralatan tempur lawan, memaksa mereka bertempur di posisi sempit, lalu menggunakan kapal lebih ringan dan manuver cepat untuk mengalahkan armada besar namun lamban milik Antonius. Strategi tersebut akhirnya sangat mengganggu jalur pasokan logistik Antonius dan menguasai posisi strategis di sekitar kawasan tersebut. Antonius dan Cleopatra memang memiliki kapal-kapal besar yang kuat, sementara kekuatan Octavianus lebih mengandalkan kapal yang relatif lebih kecil dan lincah.
Pada 2 September 31 SM, kedua armada akhirnya bertempur. Angka mengenai jumlah kapal berbeda-beda dalam sumber kuno sehingga tidak sebaiknya diterima secara harfiah. Yang jelas, pertempuran tersebut melibatkan armada dalam skala sangat besar. Graham Shipley dkk. (2006) menggambarkan Perang Actium sebagai salah satu peristiwa penentu dalam transisi dari Republik menuju Principate, dengan lebih dari 600 kapal terlibat menurut tradisi sumber yang tersedia.
Pada tahap akhir pertempuran, sinyal kekalahan mendorong armada laut Cleopatra bergerak meninggalkan medan pertempuran dan Antonius mengikuti. Peristiwa tersebut kemudian menjadi salah satu episode paling terkenal dalam sejarah kuno Romawi. Namun gambaran bahwa Cleopatra sekadar panik dan melarikan diri perlu diperlakukan secara cermat. Kajian Adrian Goldsworthy (2010) dan Cristopher Pelling (2011) menunjukkan bahwa narasi mengenai “pelarian” Cleopatra sangat dipengaruhi oleh perspektif propaganda pemenang (Romawi).

Yang lebih pasti, keluarnya kapal-kapal Cleopatra dari medan perang menyebabkan Antonius ikut meninggalkan medan pertempuran, sehingga armadanya pun akhirnya mengalami kekalahan telak. Marcus Antonius dan Cleopatra melarikan diri ke Mesir. Setahun kemudian, Octavianus menguasai Alexandria, ibukota Mesir pada era tersebut. Antonius dan Cleopatra akhirnya mengakhiri hidup mereka pada 30 SM, dan Mesir kemudian dianeksasi ke dalam wilayah Kekaisaran Romawi.
Tetapi justru di sinilah makna historis Actium menjadi lebih besar. Kemenangan tersebut menghilangkan pesaing terakhir Octavianus untuk menjadi penguasa tunggal dunia Romawi. Cassius Dio bahkan mencatat bahwa 2 September 35 SM kemudian diperlakukan sebagai tanggal yang menandai saat Octavianus pertama kali memegang seluruh kekuasaan seorang diri.
Paradoks Perang Actium terlihat jelas di titik ini. Sebuah perang saudara melahirkan rezim yang kemudian menjual perdamaian sebagai legitimasi utama. Republik tidak mati dalam satu malam, karena institusinya tetap hidup. Senat tetap ada, Konsul tetap dipilih, dan hukum serta tradisi republik tetap digunakan. Tetapi pusat gravitasi kekuasaan telah berpindah. Senat warisan Republik Romawi memberikan berbagai kekuasaan luar biasa kepada Octavianus, serta memberinya gelar Augustus, yang secara harfiah berarti “yang terhormat” atau “yang diagungkan.” Nama Augustus tidak hanya menunjukkan kekuasaan politik tetapi juga menggambarkan kekuatan religius dan moral yang dikaitkan dengan pemimpin tertinggi Romawi.
Octavianus memahami bahwa kemenangan militer saja tidak cukup untuk mempertahankan kekuasaan. Ia tidak membubarkan Senat dan menyatakan dirinya raja. Istilah princeps atau “warga pertama” digunakannya sebagai bahasa politik untuk mempertahankan konsep Republik. Alison E. Cooley (2019) mengingatkan bahwa menyebut Octavianus Augustus sekadar sebagai “kaisar pertama” dapat menyederhanakan proses transformasi politik yang sebenarnya jauh lebih kompleks. Kekuasaan Augustus bertahan cukup lama karena bertumpu pada kombinasi kekayaan, dukungan tentara, hubungan dengan rakyat dan jaringan elite, legitimasi keagamaan, dan kemampuan mengendalikan narasi-narasi politik.

Kepemimpinan Principate Augustus menuju Kekaisaran Romawi (Pax Romana)
Sesudah Perang Actium, Augustus membangun narasi bahwa dirinya bukan penghancur Republik, melainkan pemulih ketertiban dan perdamaian. Monumen, ritual, permainan, arsitektur, dan tulisan sejarah kemudian digunakan untuk mengabadikan kemenangan tersebut. Di Actium sendiri, Augustus mendirikan Nicopolis, sebagai “Kota Kemenangan”, dan mengembangkan kultus Apollo Actius (gelar Dewa Apollo sebagai pelindung Actium).
Setelah kemenangan Octavianus, kuil Apollo di Actium diperluas dan menyelenggarakan festival Actia untuk memperingati kemenangan tersebut. Kultus Apollo Actius dijadikan simbol legitimasi agama dan politik, sebagai penegasan bahwa kemenangan Octavianus bukan sekadar hasil strategi militer Agrippa, tetapi juga dilihat sebagai kemenangan yang mendapat restu ketuhanan. Apollo Actius juga sekaligus menjadi menjadi lambang transisi dari Republik ke Kekaisaran, dengan Principate atau Kaisar Augustus sebagai pemimpin yang “diberkati dewa.”
Narasi itu kemudian menjadi bagian dari legitimasi pemerintahan Augustus. Menurut Coley (2009) dalam Res Gestae, Augustus menempatkan kemenangan dan tindakan politiknya dalam kerangka penyelamatan serta pemulihan dunia Romawi. Bahkan ia mencatat bahwa setelah kemenangannya, laut dibersihkan dari para perompak dan berbagai wilayah kembali berada di bawah keteraturan Romawi.

Periode inilah yang dikenal sebagai Pax Romana atau Roman Peace (“Perdamaian Romawi”), yakni periode sekitar 200 tahun (27 SM – 180 M) ketika Kekaisaran Romawi mengalami stabilitas politik, ekspansi wilayah, dan kemakmuran ekonomi di bawah kepemimpinan Augustus hingga Marcus Aurelius (161–180 M). Meskipun disebut “Perdamaian Romawi,” periode ini tetap diwarnai perang di perbatasan, tetapi relatif bebas dari perang saudara besar yang sebelumnya melanda Republik Romawi. Augustus berhasil mengemas kekuasaan monarki dalam simbol-simbol republik, sehingga transisi dari Republik ke Kekaisaran tampak lebih “halus.”
Perang Actium menjadi pintu masuk menuju Principate Augustus dan kemudian sistem kekaisaran yang bertahan lama, dengan berbagai perubahan dinasti dan institusional, selama berabad-abad. Periode dari Augustus hingga Antoninus bahkan kemudian dikenal sebagai salah satu fase paling stabil dalam sejarah politik Romawi, meskipun kekuasaan tetap terkonsentrasi pada keluarga-keluarga penguasa dan elite yang terhubung dengan mereka. Maka, 2 September 31 SM bukan hanya merujuk pada tanggal kemenangan Octavianus atas Antonius dan Cleopatra. Ia adalah tanggal ketika sebuah republik yang kelelahan oleh perang saudara mulai menemukan bentuk politik baru. Kekaisaran Romawi tidak lahir hanya dari satu pertempuran, tetapi Perang Actium membuat kemungkinan itu menjadi kenyataan politik.

Dari perairan Actium, Octavianus meraih kemenangan militer, lantas mendapatkan legitimasi politik sebagai basis untuk membangun Principate Augustus of Rome. Dan dari situlah kemudian lahir salah satu sistem kekuasaan paling panjang umur dalam sejarah dunia, Kekaisaran Romawi (dan Bizantium) yang bertahan 15 abad (27 SM – 1453 M)
Sumber:
Alison E. Cooley, Res Gestae Divi Augusti: Text, Translation, and Commentary. Cambridge University Press, Cambridge, 2009
Alison E. Cooley, “From the Augustan Principate to the Invention of the Age of Augustus,” The Journal of Roman Studies, Vol. 109, 2019, hlm. 71–87.
Adrian Goldsworthy, Antony and Cleopatra. Yale University Press, New Haven, 2010.
Cassius Dio. Roman History, Books 50–51, diterjemahkan oleh Earnest Cary, Harvard University Press, Cambridge, 1917–1925.
Christopher Pelling, “The Battle of Actium: A Reconsideration,” Classical Quarterly, Vol. 61, No. 2, 2011, hlm. 608–623.
Fergus Millar, The Emperor in the Roman World (31 BC–AD 337) Cornell University Press, Ithaca, 1977.
Plutarch. Antony. Dalam Plutarch’s Lives, Vol. IX, diterjemahkan oleh Bernadotte Perrin. Harvard University Press, Cambridge, 1920.
Alison Cooley. “Augustus, Roman Emperor, 63 BCE–14 CE.” Oxford Research Encyclopedia of Classics”. Oxford University Press, Oxford, 2015, diperbarui pada 2022. https://doi.org/10.1093/acrefore/9780199381135.013.979.
S. E. Finer. “The Roman Empire: The Principate.” Dalam The History of Government from the Earliest Times: Ancient Monarchies and Empires. Oxford University Press, Oxford, 1997, hlm. 528–567.
Graham Shipley, John Vanderspoel, David Mattingly, and Lin Foxhall, eds. The Cambridge Dictionary of Classical Civilization. Cambridge University Press, Cambridge, 2006.
Gwynaeth McIntyre. “Rome, History (Political, Military, Administrative), from Augustus to the Antonines (31 BCE–192 CE)”. Oxford Research Encyclopedia of Classics. Oxford University Press, Oxford, 2015, diperbarui pada 2022. https://doi.org/10.1093/acrefore/9780199381135.013.7130
