MADINAH – Mimpi menuju Tanah Suci sering kali lahir dari perjalanan panjang. Ada pula yang membawa kisah yang tak sekadar tentang keberangkatan, tetapi juga kehilangan. Bagi Mulia Dahlik Mustofa—jemaah haji asal Mendo Barat, Bangka Belitung—perjalanan hajinya adalah tentang penantian panjang, kebahagiaan, dan luka yang belum sepenuhnya sembuh.
Di sela menunggu rombongan yang masih melaksanakan shalat sunah ihram dan miqat di Bir Ali, Mulia bercerita dengan suara tenang. Sesekali ia tersenyum, tetapi pada bagian tertentu, nada bicaranya berubah pelan. Ada kesedihan yang masih terasa.
Ini adalah pengalaman pertamanya menjejakkan kaki di Tanah Suci. “Walaupun belum sepenuhnya dilaksanakan, alhamdulillah sangat memuaskan. Terutama dalam pelayanan haji Indonesia,” katanya membuka percakapan.
Baginya, perjalanan ibadah kali ini terasa begitu berkesan, termasuk pelayanan petugas yang menurutnya sigap membantu jemaah dengan berbagai kondisi. Mulia datang dengan kondisi kesehatan yang membuat kakinya mudah sakit. Namun hal itu tak luput dari perhatian petugas.
“Dengan kondisi saya seperti ini, petugas harus siap menyiapkan kursi roda untuk saya. Walaupun kursi roda itu tidak saya inginkan, tapi mereka siap menyediakan karena posisi kaki saya sakit,” tuturnya.
Bahkan sebelum diminta, petugas lebih dulu menawarkan bantuan. Hal sederhana, tetapi bagi seorang jemaah yang tengah menempuh perjalanan ibadah jauh dari rumah, perhatian kecil seperti itu terasa besar artinya. “Layanan dari petugas haji Indonesia sangat memuaskan,” tegasnya.
Doa panjang di Raudhah
Namun di balik urusan teknis perjalanan, ada kebahagiaan lain yang jauh lebih dalam. Setelah penantian bertahun-tahun, akhirnya ia benar-benar tiba di tempat yang selama ini hanya hadir dalam doa.
“Sangat bahagia karena diimpikan oleh semua orang untuk pergi ke Tanah Suci ini,” katanya.
Perjalanan ini juga bukan perjalanan singkat menuju titik keberangkatan. Mulia mengaku menunggu sekitar 13 tahun hingga akhirnya tiba waktunya berangkat.
Dan meski belum melihat Ka’bah saat wawancara berlangsung, ada pengalaman lain yang sudah lebih dulu mengguncang hatinya: berziarah ke kawasan Raudhah, tempat yang selama ini hanya ia lihat dari televisi dan dengar dari pembicaraan orang.
“Yang paling mengesankan bagi saya, bisa melihat makam Nabi kita, Nabi Muhammad. Rasulullah SAW. Dan bisa ke Raudhah,” ungkapnya.
Di tempat yang sering disebut taman surga itu, Mulia tak hanya datang sekali. Ia datang dua kali. Dan di sana, ia larut dalam doa-doa panjang. “Saya bisa melaksanakan beberapa shalat di sana. Itulah yang sangat membuat saya bahagia.”
Saat ditanya apa yang dipanjatkannya, Mulia menjawab tanpa ragu. “Banyak, terutama untuk diri sendiri, keluarga, masyarakat desa, dan untuk semua masyarakat supaya bisa menginjakkan kakinya ke Tanah Suci.”
Doanya tidak berhenti untuk dirinya sendiri. Ia membawa nama keluarga, kampung halaman, hingga orang-orang lain yang mungkin masih menyimpan mimpi pergi haji.
Dia yang telah pergi
Tetapi di antara semua doa yang dipanjatkan, ada satu sosok yang agaknya paling sering hadir di dalam hatinya: suaminya. Di bagian inilah suara Mulia mulai terdengar berbeda.
Ia bercerita bahwa biaya keberangkatan haji berasal dari hasil kebun lada keluarga. Bertahun-tahun hasil panen dikumpulkan hingga cukup untuk biaya perjalanan. Namun saat impian itu hampir tiba, takdir berkata lain.
“Suami saya tidak bisa pergi. Dia meninggal sebelum keberangkatan, setelah penyetoran terakhir.”
Kalimat itu meluncur pelan. Sederhana. Tapi menyimpan kehilangan yang berat. Mereka semula merencanakan perjalanan itu bersama. Menjadi tamu Allah berdua. Menjalani ibadah yang sudah lama dipersiapkan bersama. Namun pada akhirnya, Mulia harus melangkah sendiri.
Ketika ditanya apa yang dirasakannya, jawabannya singkat, tetapi begitu dalam. “Sangat sedih. Ingin rasanya waktu diulang kembali supaya bisa berangkat sama-sama ke Tanah Suci.”
Barangkali, di antara jutaan langkah kaki jemaah yang berjalan di Tanah Suci tahun ini, ada langkah-langkah yang membawa kerinduan seperti milik Mulia: berjalan sendiri, tetapi sesungguhnya sedang membawa seseorang di dalam hati.
Kini ia tetap melanjutkan perjalanan itu. Melangkah perlahan. Mendoakan orang-orang yang dicintainya. Dan mungkin, di setiap doa yang dipanjatkan di Tanah Suci, terselip harapan sederhana: semoga suatu hari nanti dipertemukan kembali.*
