MADINAH – Di satu sudut Kota Madinah, aroma soto daging, bakso, dan berbagai hidangan Nusantara menyeruak dari sebuah restoran bernama The Java Signature. Tempat itu menjadi salah satu tujuan jemaah Indonesia yang rindu masakan kampung halaman setelah berhari-hari menjalani ibadah di Tanah Suci.
Tak hanya jemaah haji dan umrah, warga Indonesia yang bermukim di Madinah juga menjadikan restoran yang terletak di kawasan as-Salam Garden ini sebagai tempat berkumpul dan melepas kangen akan makanan khas tanah air.
Namun, sedikit yang mengetahui bahwa pemilik restoran itu pernah hidup dalam keterbatasan yang nyaris membuatnya menyerah. Sebelum dikenal sebagai pengusaha kuliner di kota Nabi, Muhammad Umar hanyalah anak kampung dari Cilacap yang tumbuh dalam keluarga buruh tani.
Perjalanannya menuju Madinah tidak dimulai dari ruang bisnis atau sekolah kuliner. Semuanya berawal dari sawah.
Mimpi besar anak buruh tani
Umar lahir dan besar di lingkungan sederhana di Cilacap, Jawa Tengah. Ayah dan ibunya bekerja sebagai buruh tani, menggarap sawah milik orang lain untuk memenuhi kebutuhan keluarga.
“Orang tua saya tak punya sawah, jadi mereka bekerja sebagai buruh tani. Saya kerap membantu mereka bekerja di sawah,” kenangnya.
Kondisi ekonomi keluarga membuat Umar sejak kecil akrab dengan kerja keras. Ia bahkan pernah bekerja dengan upah harian yang nilainya nyaris tak terbayangkan oleh generasi sekarang. “Saya juga pernah mendapat upah sebesar Rp 1.250 sehari,” ujarnya.
Pengalaman hidup itu membentuk cara pandangnya terhadap uang dan kesuksesan. Baginya, tidak ada jalan pintas. Semua harus dijalani tahap demi tahap.
Menemukan jalan di pesantren
Selepas sekolah, Umar memilih melanjutkan pendidikan di pesantren. Keputusan itu menjadi salah satu titik penting dalam hidupnya.
Di pesantren, ia bukan hanya belajar ilmu agama. Di sana pula ia mulai mengenal dunia dapur. “Di pesantren kan santri sering masak ramai-ramai,” katanya.
Aktivitas memasak yang awalnya sekadar bagian dari kehidupan santri perlahan berubah menjadi ketertarikan yang serius. Ia mulai memerhatikan proses memasak, meracik bumbu, hingga memahami karakter berbagai jenis makanan.
Saat menempuh pendidikan pesantren, Umar juga menghadapi berbagai ujian hidup. Pernah suatu ketika tas berisi pakaian dan perlengkapannya hilang saat perjalanan menuju tempat belajar.
Ia sempat berpikir untuk menyerah. Namun seorang guru memberikan nasihat yang tidak pernah ia lupakan. “Kalau enggak lanjut, kamu gagal jadi orang baik.”
Kalimat sederhana itu membuatnya bertahan.
Mengadu nasib di Jakarta
Pertengahan 1990-an menjadi babak baru dalam hidup Umar. Ia memutuskan merantau ke Jakarta tanpa bekal yang memadai.
Saat itu, tujuan utamanya sangat sederhana. “Yang penting kerja dapat makan, dapat tidur. Gaji enggak mikirin.”
Ia berpindah-pindah pekerjaan. Mulai membantu warteg (Warung Tegal), menjadi pekerja dapur, hingga tinggal di tempat kerjanya demi menghemat pengeluaran.
Jakarta menjadi sekolah kehidupan yang sesungguhnya bagi Umar. Ia belajar bahwa bertahan hidup di kota besar membutuhkan mental yang kuat.
Ia juga belajar memahami berbagai karakter manusia dari lingkungan tempatnya bekerja. Dari satu warung ke warung lain, dari satu restoran ke restoran berikutnya, kemampuan memasaknya terus berkembang.
Di tengah perjuangan membangun masa depan, Umar memutuskan menikah. Keputusan itu diambil ketika kondisi ekonominya masih jauh dari kata mapan. Mahar pernikahannya hanya Rp 15 ribu. “Bahkan surat nikah pun pakai bekas foto SMP,” katanya sambil tertawa mengenang masa itu.
Sebagian keluarga istrinya sempat meragukan pilihan tersebut. Umar masih menganggur dan belum memiliki pekerjaan tetap. “Tadinya keluarga istri ada yang enggak suka karena saya nganggur,” tuturnya.
Namun sang istri memilih percaya. Bagi Umar, pernikahan bukan soal kesiapan materi semata. “Menurut saya, orang yang tak punya pun bisa berumah tangga kalau memang mau.”
Keyakinan itulah yang membuat rumah tangga mereka mampu bertahan hingga sekarang.

