MADINAH — Perjalanan panjang 13 tahun berakhir di satu titik: Madinah. Bagi Nur Hari, jemaah haji asal Batang, Jawa Tengah, momen itu tak sekadar kedatangan—melainkan puncak penantian yang tak pernah ia bayangkan akan benar-benar terjadi.
Ia masih mengingat betul detik pertama menginjakkan kaki di Tanah Suci. Bukan langkah yang ia ambil, melainkan sujud.
“Setelah menunggu 13 tahun, akhirnya saya dipanggil ke sini. Saya sangat bersyukur. Begitu turun dari pesawat, saya langsung sujud syukur,” tuturnya.
Sujud itu ia lakukan di bandara. Bukan tanpa alasan. Selama ini, Hari hanya melihat Tanah Suci dari layar televisi. Kini, ia berdiri langsung di sana. Air mata tak mampu ia bendung begitu tubuhnya diruapi panasnya udara Madinah untuk pertama kali. Ia tak hanya menangis, namun terus menerus mengucap syukur atas kehadirannya di Kota Sang Nabi.
Perasaan itu berlanjut saat pertama kali ia masuk Masjid Nabawi. Hari menyebutnya sederhana, tapi penuh makna. Namun, pengalaman paling menggetarkan datang saat ia berhasil masuk Raudhah. Bukan sekali, tapi melalui beberapa kali percobaan di tengah kepadatan jemaah. Hari berhasil masuk Raudhah hingga empat kali sejak pertama kali tiba Madinah lima hari lalu.
“Di hadapan makam Rasulullah, emosi saya pecah. Saya menangis, shalat, berdoa, dan menangis lagi,” ucapnya sembari menitikkan air mata.
Bagi Hari, perjalanan ini bukan hanya soal dirinya. Ia membawa banyak titipan doa dari kampung halamannya di Batang. Sanak kerabat yang datang saat syukuran jelang keberangkatannya ke Tanah Suci, hampir semua menitipkan doa. Ia menyebut dirinya seperti membawa hajat banyak orang. Setiap doa yang ia panjatkan di Tanah Suci, bukan hanya untuk dirinya sendiri.
Perjalanan menuju haji juga bukan hal instan. Sejak mendaftar pada 2012, ia dan istrinya menabung bertahap hingga akhirnya bisa melunasi biaya perjalanan. Di balik itu, ada disiplin ibadah yang ia jaga selama di rumah.
“Saya dan istri istiqamah melakukan shalat tahajud dan shalat duha. Memanjatkan doa pada Allah agar dimudahkan dalam perjalanan menuju rumah-Nya dan makam kekasih-Nya,” ungkap Hari sembari menghapus butiran air mata dengan sapu tangan.
Tak sekadar perjalanan fisik
Bagi lelaki 63 tahun ini, haji bukan sekadar perjalanan fisik, tapi panggilan. Ia percaya, tidak semua orang yang mampu akan sampai ke Tanah Suci. Ada faktor yang tak bisa dijelaskan selain kehendak Allah.
“Tidak semua bisa terpanggil. Walaupun kaya dan mampu, belum tentu bisa ke sini. Haji memang benar-benar panggilan,” ujarnya.
Di Madinah, kakek satu cucu itu merasakan pengalaman yang berbeda dari bayangannya. Apa yang dulu ia kira berat, justru terasa ringan. Ia menikmati setiap momen—dari ibadah di masjid hingga aktivitas sederhana sehari-hari. Bahkan hal kecil seperti makanan pun ia terima apa adanya.
“Alhamdulillah, saya tak pernah mengeluh soal makanan ataupun hal-hal sepele lainnya. Saya percaya ini adalah bagian dari ibadah. Karena itu, saya tak mau ibadah ini dikotori oleh hal-hal seperti itu,” katanya.
Hari juga mengapreasi kinerja petugas haji yang begitu sigap membantu dan melayani jemaah di Tanah Suci. Dalam pandangannya, petugas haji telah melakukan tugas mereka sebaik mungkin demi kenyamanan jemaah. Perkara ada kekurangan, itu hal biasa dan tak perlu dipermasalahkan. Menurut Hari, yang terpenting adalah fokus beribadah demi mencari ridha-Nya.
Kini harapannya sederhana: pulang membawa perubahan—ke arah yang lebih baik, tentu saja. Ia juga berharap bisa menjaga nilai ibadah setelah pulang, bukan sekadar membawa status haji.
“Yang saya inginkan dari haji ini adalah keberkahan,” ucapnya. “Mudah-mudahan setelah ini saya bisa menjaganya.”
Di Tanah Suci, Hari menemukan satu hal yang selama ini hanya ia lihat dari jauh: bahwa panggilan itu nyata. Dan ketika datang, tak ada yang bisa menahannya.*
