GAZA – Warga Jalur Gaza menghadapi krisis kemanusiaan yang kian kompleks, seiring terbatasnya akses terhadap fasilitas sanitasi yang layak di tengah konflik berkepanjangan. Selain kebutuhan pangan dan air bersih, ketersediaan toilet dan kamar mandi kini menjadi persoalan mendesak yang mengancam kesehatan serta martabat masyarakat.
Sejak awal perang hampir tiga puluh bulan lalu, pembatasan masuknya perlengkapan sanitasi, termasuk dudukan toilet, memperburuk kondisi di lapangan. Di saat yang sama, serangan yang terus berlangsung telah merusak ribuan rumah dan menghancurkan fasilitas sanitasi yang ada.
Akibatnya, banyak warga terpaksa mengandalkan solusi darurat dengan sumber daya terbatas. Sebagian membangun toilet sederhana dari puing-puing bangunan, seperti semen dan batu, sementara lainnya menggunakan kontainer logam atau memodifikasi kursi menjadi toilet seadanya. Namun, upaya tersebut belum mampu memenuhi standar kesehatan dan kebersihan yang layak.
Warga setempat, Ibrahim Ayesh, menyebut situasi ini sebagai kondisi yang belum pernah terjadi sebelumnya. Ia menyoroti lonjakan harga perlengkapan sanitasi yang drastis, di mana dudukan toilet yang sebelumnya seharga sekitar 60 shekel kini melonjak hingga 1.000–1.600 shekel untuk barang bekas, bahkan bisa mencapai lebih dari 2.200 shekel dengan perlengkapan pemasangan.
Kondisi serupa diungkapkan Mahmoud Al-Dali, yang mengatakan bahwa banyak keluarga, khususnya yang tinggal di tenda atau bangunan rusak, terpaksa menggunakan ruang yang sama untuk mandi dan sanitasi. Situasi ini meningkatkan risiko penyebaran penyakit, terutama di lingkungan dengan keterbatasan air bersih dan ruang.
“Biaya tinggi dan keterbatasan ruang membuat banyak keluarga tidak mampu membangun fasilitas terpisah. Dampaknya, penyakit kulit dan infeksi menular semakin meluas,” ujarnya.
Di kamp pengungsian, persoalan ini juga berdampak pada aspek psikologis dan keamanan. Mohammad Abu Safi menggambarkan kehidupan di kamp sebagai salah satu fase terberat, terutama karena minimnya privasi. Ia bahkan menceritakan pengalaman putrinya yang trauma setelah menemukan ular di kamar mandi darurat.
Sementara itu, Ahmed Awadallah mengungkapkan bahwa satu fasilitas kamar mandi sering kali harus digunakan bersama oleh banyak keluarga, memaksa mereka mengantre dalam waktu lama. Kondisi ini, menurutnya, sangat memberatkan terutama bagi perempuan yang kesulitan menjaga privasi.
Dari sisi teknis, tukang ledeng Mohammad Sharab menjelaskan bahwa krisis ini dipicu oleh berbagai faktor, mulai dari kerusakan infrastruktur air dan sanitasi, pengungsian massal, hingga terbatasnya pasokan material. Warga akhirnya membangun toilet jongkok sederhana yang sulit dibersihkan dan kerap menimbulkan bau tidak sedap.
Tenaga medis memperingatkan dampak serius dari kondisi tersebut. Dokter spesialis penyakit dalam, Dr. Mahmoud Mattar, menyebut penggunaan ruang yang sama untuk mandi dan sanitasi, ditambah buruknya ventilasi, telah memicu peningkatan kasus diare, penyakit kulit, hingga hepatitis.
Ia juga menyoroti dampak lain yang tidak kalah berbahaya, yakni kecenderungan warga mengurangi konsumsi makanan dan air untuk menghindari penggunaan toilet, yang pada akhirnya justru memperburuk kondisi kesehatan.
Senada, konsultan dermatologi dan penyakit menular seksual, Dr. Shafiq Al-Khatib, mengingatkan bahwa lingkungan yang tidak higienis memicu penyebaran serangga pembawa penyakit. Hal ini berpotensi menyebabkan gangguan kulit, alergi, hingga penyakit pencernaan seperti tifus dan disentri.
Para ahli mendesak adanya intervensi segera untuk menyediakan fasilitas sanitasi yang layak, termasuk pembangunan toilet dengan sistem pembuangan yang aman dan tertutup. Tanpa langkah cepat, krisis sanitasi di Gaza dikhawatirkan akan semakin memperparah situasi kesehatan masyarakat yang sudah rentan.
