DOHA – Donald Trump mengajak negara-negara lain mengirim kapal perang untuk membantu AS menjaga Selat Hormuz tetap aman. Namun, sejauh ini belum ada negara yang setuju, padahal harga minyak makin mahal akibat perang AS-Israel lawan Iran.
Trump berharap negara seperti China, Prancis, Jepang, dan Inggris mau membantu karena mereka juga butuh jalur itu. Ia mengklaim militer Iran sudah tidak berdaya, namun kenyataannya Iran masih bisa memblokir jalur tersebut untuk membalas serangan AS-Israel.
“Mudah-mudahan China, Prancis, Jepang, Korea Selatan, Inggris, dan negara-negara lain yang terdampak oleh pembatasan buatan ini akan mengirim kapal ke kawasan tersebut sehingga Selat Hormuz tidak lagi menjadi ancaman dari sebuah negara yang telah benar-benar dilumpuhkan,” tulis Trump dalam unggahannya di platform Truth Social.
Sementara itu, Menteri Energi AS Chris Wright mengaku telah berdialog dengan beberapa negara yang disebutkan Trump. Dan ia berharap China akan menjadi mitra yang konstruktif dalam membuka kembali Selat Hormuz.
“Namun, negara-negara tersebut sejauh ini belum memberikan janji apa pun,” kata Chris kepada stasiun televisi NBC,Minggu (15/3/2026).
Juru bicara Kedutaan Besar China di AS, Liu Pengyu, menyatakan semua pihak memiliki tanggung jawab untuk memastikan pasokan energi yang stabil dan tidak terhambat. Dan China akan memperkuat komunikasi dengan pihak-pihak terkait demi deeskalasi.

Blokade dan Tekanan Ekonomi
Militer Iran secara efektif memblokir Selat Hormuz sebagai balasan atas serangan AS dan Israel dengan tujuan merusak ekonomi dunia dan menekan Washington di saat harga energi melambung tinggi. Teheran menyatakan Selat Hormuz—yang biasanya dilewati seperlima ekspor minyak global—terbuka untuk semua pihak kecuali AS dan sekutunya.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengatakan bahwa Teheran telah didekati oleh sejumlah negara yang meminta jalur aman bagi kapal mereka. “Namun, keputusan tersebut ada di tangan militer kami,” tegas Abbas kepada jaringan televisi CBS.
Menteri Luar Negeri India S. Jaishankar mengatakan kepada The Financial Times bahwa negosiasi antara New Delhi dan Teheran telah memungkinkan dua kapal tanker gas berbendera India melewati selat tersebut pada Hari Sabtu (14/3/2026).
“Saat ini saya sedang berdiskusi dengan mereka, dan pembicaraan saya telah membuahkan hasil. Ini masih berlangsung… Tentu saja, dari sudut pandang India, lebih baik jika kita berkoordinasi dan mendapatkan solusi,” ujar Jaishankar.
Setidaknya 10 kapal tanker minyak telah terkena serangan dan menjadi sasaran sejak awal konflik pada 28 Februari. Demikian data yang didapat oleh UK Maritime Trade Operations (UKMTO), Organisasi Maritim Internasional (IMO), serta otoritas Irak dan Iran.
Dengan harga minyak mentah yang bertahan di kisaran USD 100 per barel, pejabat pemerintahan Trump bersikeras bahwa semua tanda menunjukkan konflik akan berakhir relatif cepat. Sekitar 1.000 kapal tanker minyak saat ini terdampar dan tidak dapat melewati Selat Hormuz.
Barbara Slavin, peneliti senior di Stimson Center, mengaku sangat meragukan China akan menawarkan kekuatan angkatan laut untuk membantu AS.
“Saya rasa China tidak akan mengirim kapal perang untuk membuka kembali Selat Hormuz. Mereka tidak perlu melakukannya karena minyak Iran mengalir ke China dengan cukup lancar,” kata Slavin kepada Aljazeera. “Iran hanya memblokir pengiriman minyak dari negara-negara yang berafiliasi dengan AS dan Israel.”
‘Biarkan Dia Mengirim Kapalnya’
Prancis sebelumnya menyatakan sedang mengupayakan kemungkinan misi internasional untuk mengawal kapal melewati selat tersebut, namun dengan syarat dilakukan saat situasi memungkinkan, yaitu ketika pertempuran telah mereda.
Menteri Luar Negeri Jerman Johann Wadephul mengaku skeptis dengan rencana tersebut. “Apakah kita akan segera menjadi bagian aktif dari konflik ini? Tidak!” tegas Johann saat diwawancarai televisi ARD.
The Wall Street Journal dalam laporannya yang mengutip pejabat AS yang tidak disebutkan namanya, menyebut pemerintahan Trump berencana untuk mengumumkan—paling cepat pekan ini—bahwa beberapa negara telah setuju untuk membentuk koalisi guna mengawal kapal melewati Selat Hormuz. Aljazeera belum dapat segera memverifikasi laporan tersebut.
Juru bicara Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC), Brigadir Jenderal Ali Mohammad Naini, menantang sesumbar Trump yang menyebut bahwa angkatan laut Iran telah hancur selama perang.
“Bukankah Trump mengatakan bahwa angkatan laut Iran telah dihancurkan? Jika benar demikian, biarkan dia mengirim kapal-kapalnya ke Teluk Persia jika dia berani,” tantang Naini seperti dikutip kantor berita Tasnim.*
