Sekolah yang terpisah dari pangkalan militer
Tim investigasi Aljazeera kemudian menelusuri citra satelit arsip Google Earth sejak 2013 untuk memastikan apakah bangunan tersebut memang bagian dari pangkalan militer.

Hasilnya menunjukkan perubahan struktural besar selama satu dekade terakhir. Pada 2013, area sekolah masih berada dalam kompleks militer yang sama, dengan satu gerbang utama dan menara pengawas. Namun pada 2016 terjadi perubahan besar:
- dinding baru dibangun untuk memisahkan sekolah dari pangkalan militer
- dua menara pengawas dibongkar
- tiga gerbang baru dibuka langsung ke jalan umum

Perubahan tersebut menunjukkan bahwa sekolah secara resmi dipisahkan dari barak militer dan dialihfungsikan menjadi fasilitas sipil mandiri.
Pada 2018, citra satelit menunjukkan tanda-tanda penggunaan sipil yang jelas: mobil warga di pintu masuk, lapangan olahraga anak-anak, serta dinding sekolah yang dicat warna-warni.

Klinik yang tidak terkena serangan
Satu temuan lain dari investigasi ini juga menimbulkan tanda tanya besar. Pada Januari 2025, komandan IRGC Hossein Salami meresmikan Klinik Spesialis Martyr Absalan di kawasan yang sama.
Klinik ini dibangun untuk melayani warga sipil dengan layanan kesehatan seperti pediatri, kebidanan, dan kedokteran gigi. Setelah pembangunan klinik tersebut, kompleks kawasan itu secara efektif terbagi menjadi tiga sektor berbeda:
- Sekolah perempuan Shajareh Tayyebeh
- Klinik Martyr Absalan
- Kompleks militer Sayyid al-Shuhada
Namun dalam serangan 28 Februari, pola yang muncul sangat mencolok. Rudal menghantam pangkalan militer, dan rudal lain menghantam sekolah. Sementara klinik yang berada tepat di antara keduanya tidak tersentuh sama sekali. Hal ini menunjukkan bahwa penyerang kemungkinan menggunakan koordinat target yang sangat presisi.

Pertanyaan yang muncul kemudian: jika intelijen cukup mutakhir untuk menghindari klinik yang baru dibangun setahun sebelumnya, mengapa gagal mengenali sekolah dasar yang sudah dipisahkan dari kompleks militer lebih dari satu dekade?
Dua kemungkinan yang tersisa
Berdasarkan seluruh bukti yang dikumpulkan, investigasi Aljazeera menyimpulkan hanya ada dua kemungkinan utama. Pertama, terjadi kegagalan intelijen serius, di mana data lama digunakan tanpa memperbarui perubahan tata letak kompleks.

Kemungkinan kedua jauh lebih kontroversial: sekolah tersebut memang dianggap sebagai bagian dari sistem militer, sehingga dijadikan target serangan.
Narasi yang dipatahkan
Setelah serangan terjadi, sejumlah akun di platform X menyebarkan klaim bahwa sekolah sebenarnya tidak diserang dari luar, melainkan hancur akibat rudal pertahanan udara Iran yang gagal.

Namun pemeriksaan sumber terbuka menunjukkan bahwa foto yang digunakan dalam klaim tersebut berasal dari Kota Zanjan di Iran barat laut—sekitar 1.300 kilometer dari Minab.
Perbedaan geografis kedua kota juga sangat jelas: Minab merupakan kota pesisir tropis, sedangkan Zanjan berada di wilayah pegunungan yang sering tertutup salju saat musim dingin.
Kesaksian dari Iran
Perwakilan Dewan Koordinasi Serikat Guru Iran, Shiva Amilairad, mengatakan kepada Majalah Time bahwa pihak sekolah sebenarnya telah memutuskan untuk mengevakuasi siswa setelah serangan dimulai.

Namun jarak waktu antara peringatan dan serangan terlalu singkat, sehingga banyak orang tua tidak sempat menjemput anak mereka. Beberapa keluarga bahkan kehilangan lebih dari satu anak dalam tragedi tersebut.
Dengan total korban mencapai lebih dari 160 orang, insiden di Minab kini menjadi salah satu tragedi paling mematikan yang melibatkan fasilitas pendidikan dalam konflik modern—dan sekaligus memunculkan pertanyaan besar yang hingga kini belum terjawab: apakah sekolah itu hanya korban kesalahan perang, atau memang menjadi sasaran yang telah ditentukan sejak awal.*
