2 months ago
3 mins read

Perang yang Mengacaukan Rencana Energi Eropa

Kilang minyak Saudi Aramco di Ras Tanura tutup usai kena serangan drone. (Foto: Startuptalky)

BRUSSELS — Serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran telah menimbulkan kekacauan di salah satu kawasan terkaya minyak di dunia, dengan dampak luas terhadap pasokan energi global.

Lalu lintas pelayaran nyaris terhenti di Selat Hormuz di Teluk Persia, sebuah jalur sempit yang menjadi titik krusial bagi sekitar seperlima perdagangan minyak dan gas dunia. Kondisi ini membuat pemerintah panik soal rantai pasok dan mencari alternatif.

Lalu, bagaimana dampaknya bagi Eropa? Meski ketergantungan Eropa pada minyak dan gas Teluk Persia lebih kecil dibanding Asia, kawasan ini tetap menghadapi tekanan akibat kenaikan harga dan terjepitnya jalur transit utama. 

Jika konflik berlarut-larut—seperti diperingatkan Presiden AS Donald Trump—situasi ini berisiko berubah menjadi krisis besar. Berikut lima titik rawan energi utama yang perlu diwaspadai Eropa, sebagaimana dilansir situs berpengaruh Politico.

Harga melonjak
Eropa bukan pengimpor besar bahan bakar fosil dari Teluk Persia—kurang dari 10 persen gasnya melalui Selat Hormuz, dan minyaknya pun tak jauh lebih besar. Namun jangan terkecoh: penutupan jalur ini telah menghilangkan porsi besar pasokan global, mendorong harga naik di mana-mana.

Harga gas alam Eropa melonjak sejak perang dimulai, hampir dua kali lipat menjadi €56 per megawatt-jam, per Selasa (3/32026). Gas menyumbang 20 persen bauran energi Eropa dan krusial untuk pemanas, pembangkit listrik, serta industri. Harga yang lebih tinggi akan mengerek tagihan industri dan rumah tangga Eropa, yang sudah menghadapi biaya energi tertinggi di dunia.

Jika berlanjut, industri Eropa diperkirakan akan semakin lantang mengeluhkan menurunnya daya saing. Tekanan terhadap Uni Eropa pun akan meningkat untuk melonggarkan kebijakan iklim seperti Sistem Perdagangan Emisi yang dianggap menambah biaya bagi dunia usaha.

Harga minyak juga naik sejak serangan akhir pekan lalu, meningkat sekitar 10 persen sejak perang dimulai. Meski UE memperoleh sebagian besar minyaknya dari Norwegia dan AS, kenaikan ini tetap akan terasa di harga bahan bakar.

Opsi diversifikasi makin terbatas
Negara-negara Eropa yang dulu sangat bergantung pada bahan bakar fosil Rusia berlomba melakukan diversifikasi sejak invasi Rusia ke Ukraina pada 2022—yang pada praktiknya berarti beralih ke AS, kini pemasok sekitar 60 persen LNG Eropa.

Langkah itu tampak masuk akal hingga Presiden AS Donald Trump tahun lalu mengancam akan merebut Greenland, membuat ketergantungan baru ini terasa berisiko. Pejabat UE sempat mengangkat negara-negara Timur Tengah, Asia Tengah, dan Afrika Utara—seperti Qatar, UEA, Aljazair, dan Azerbaijan—sebagai sumber alternatif.

Namun sejak konflik di Teluk Persia, dua pemasok kehilangan daya tariknya: fasilitas LNG raksasa Qatar (sumber 20 persen pasokan LNG dunia) menghentikan produksi pada Senin (2/3/2026), sementara UEA menutup kompleks gas besar di Irak utara pekan lalu. Pembeli Asia yang terdampak juga berlomba mengamankan pasokan baru.

Ketidakstabilan baru di Timur Tengah juga bisa mempersulit upaya mengakhiri impor gas UE dari Moskow. Hungaria—bersama Slovakia—yang masih mengimpor minyak dan gas Rusia dalam jumlah besar, telah memanfaatkan perang Iran untuk menegaskan pentingnya minyak Rusia.

Cadangan menipis
Penutupan produksi gas Qatar menjadi lebih berbahaya karena cadangan gas Eropa sudah terkuras, turun ke titik terendah dalam empat tahun sekitar 30 persen dari kapasitas maksimum pada Maret, menurut data ENTSOG.

Banyak negara anggota kesulitan memenuhi target penyimpanan UE yang ditetapkan setelah invasi Ukraina 2022, dan suhu dingin musim dingin turut menguras cadangan—terutama di Jerman, yang dilaporkan mendorong penghentian target UE.

Sementara itu, UE mewajibkan negara anggota memiliki cadangan darurat minyak 90 hari. Negara non-UE di Balkan dan Eropa Timur belum sepenuhnya mematuhi target serupa, dengan cadangan minyak rendah hingga nyaris tak ada di negara seperti Albania serta Bosnia dan Herzegovina, menurut laporan Energy Community 2025.

Dengan negara-negara anggota masih menilai arah perang, cadangan strategis gas dan minyak belum dikerahkan, kata pejabat dari sejumlah negara UE. Banyak pejabat tetap optimistis dalam jangka pendek, menyoroti pasokan energi yang lebih terdiversifikasi—terutama LNG dari AS.

Tinggalkan bahan bakar fosil sepenuhnya?
Kelompok pro-energi terbarukan dan iklim cepat menyoroti bahwa Eropa tak akan terancam krisis energi jika seluruh listriknya berasal dari energi terbarukan domestik.

Kepala Iklim PBB Simon Stiell mengatakan, gejolak ini kembali menunjukkan bahwa ketergantungan pada bahan bakar fosil membuat ekonomi, bisnis, pasar, dan masyarakat rentan terhadap setiap konflik atau perubahan kebijakan dagang. 

“Energi terbarukan lebih murah, lebih aman, dan lebih cepat masuk pasar, sehingga menjadi jalur paling jelas menuju keamanan dan kedaulatan energi,” ujarnya.

Meski energi terbarukan kini menghasilkan hampir setengah listrik UE, porsinya dalam bauran energi total masih sekitar 20 persen. Elektrifikasi industri, transportasi, dan pemanas memakan waktu puluhan tahun—bukan solusi instan untuk krisis mendesak.

Namun, konflik Teluk Persia kemungkinan akan memperkuat tren baru: keamanan energi, alih-alih iklim, menjadi argumen utama Eropa untuk memperbesar sektor energi terbarukan.

Masalah kapal tanker
Selat Hormuz berada di bawah tekanan berat selama tiga hari terakhir, dengan pelayaran nyaris terhenti.

“Dalam 15 tahun saya meliput pasar minyak dan pelayaran, ini mungkin peristiwa terbesar yang pernah saya lihat,” kata Matthew Wright, analis angkutan utama di Kpler, membandingkannya dengan Covid dan perang Rusia–Ukraina.

Namun krisis ini, lanjut dia, memiliki dimensi geopolitik yang unik dan berbahaya, dengan masa depan politik Iran yang tidak pasti dan ketegangan kawasan yang meningkat.

“Biasanya, 15–18 juta barel minyak mentah melintas di jalur sempit itu setiap hari—sekitar seperlima konsumsi minyak global. Sekarang turun menjadi hampir nol,” kata Wright.

Kurang dari 10 kapal per hari kini mencoba melintas Hormuz, dengan sedikitnya empat kapal dilaporkan terkena dampak di tengah eskalasi militer regional dan serangan di pelabuhan sekitar.

Raksasa pelayaran Eropa seperti Maersk, Hapag-Lloyd, MSC, dan CMA CGM menangguhkan pelayaran melalui selat itu hingga pemberitahuan lebih lanjut. Mereka mengarahkan kapal ke tempat labuh aman dan mengalihkan rute melalui Tanjung Harapan, Afrika Selatan.

Asuransi juga menjadi kendala penentu. Perlindungan risiko perang sempat ditarik dan kini dipulihkan dengan premi jauh lebih mahal, dengan asuransi badan kapal dan kargo naik 200–300 persen dalam beberapa kasus. Tanpa asuransi, kata Wright, kapal tak bisa berlayar.

Pada Selasa (3/3/2026), Presiden Trump menawarkan pengawalan laut dan asuransi risiko politik bagi kapal tanker minyak dan gas yang melintasi Selat Hormuz. Pengumuman ini menahan reli harga minyak yang telah menambah lebih dari $10 per barel sejak AS dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran pada Sabtu lalu.

Meski begitu, pasar energi tetap gelisah karena aset minyak dan gas utama di Teluk Persia berpotensi menjadi sasaran Teheran.*

Komentar

Your email address will not be published.

Go toTop

Jangan Lewatkan

Iran Tetap Jadi Penghalang Proyek ‘Israel Raya’

Israel ingin memperluas pengaruhnya di Timur Tengah. Kegagalannya mengalahkan Iran

Barghouti Minta Dunia Lindungi Tahanan Palestina

PALESTINA – Seruan agar dunia internasional lebih serius melindungi tahanan Palestina
toto slot situs togel situs togel
toto slot
slot88