6 months ago
4 mins read

Potensi Ekonomi Pasar Karbon

Ratna Juwita Sari. [Foto: Istimewa]

JAKARTA – Pembicaraan mengenai pasar karbon menjadi salah satu topik hangat dalam perhelatan Konferensi PBB untuk Perubahan Iklim (COP-UNFCCC) ke-30 di Belem, Brazil, yang sudah dimulai sejak 10 November lalu. Indonesia yang membuka paviliun khusus sebagai ruang dialog dengan para peserta dan pemangku kepentingan iklim global menegaskan komitmennya untuk berpartisipasi secara proaktif dalam perdagangan karbon sebagai upaya responsif dalam mitigasi dan adaptasi perubahan iklim. Pemerintah Indonesia berpandangan bahwa ada potensi ekonomi yang besar dari perdagangan karbon, baik dari sisi pendapatan negara maupun penciptaan lapangan pekerjaan bagi masyarakat.

Menguatnya mekanisme perdagangan karbon sebagai upaya mitigasi dan adaptasi perubahan iklim tidak melalui proses yang instan. Kesadaran para pemangku kepentingan global bahwa pengelolaan pencemaran melalui skema peraturan (command and control) sudah tertinggal dan cenderung tidak efektif. Oleh karenanya, mekanisme pasar mengemuka sebagai mekanisme pengendalian yang inovatif. Mekanisme pasar sendiri diperkenalkan oleh Ronald H. Coase yang mengatakan bahwa dalam kondisi pareto-optimum, antara pencemar dan yang dicemari akan tercapai melalui satu dari dua cara; pencemar membayar si tercemar agar boleh mencemari, atau tercemar membayar si pencemar agar tidak mencemari.

Dari situlah konsepsi green economics berkembang dalam bentuk pajak sumber daya alam dan pajak polusi. Teorema Coase ini pertama kali diaplikasikan di Amerika Serikat (AS) melalui pembentukan Clean Air Act pada 1990 sebagai bentuk penyempurnaan UU Kebersihan Udara 1970. Dalam regulasi tersebut, pencemar udara sulfur besar, terutama pembangkit listrik, diberikan izin untuk membuang emisi sulfur sampai batas tertentu.

Bagi mereka yang mampu mengurangi emisi hingga di bawah izin yang diberikan bisa menjual alokasi izin mencemari yang tidak terpakai. Sebaliknya, bagi yang melakukan pencemaran di atas izin yang diberikan, harus membeli alokasi izin tersebut. Dari praktik inilah konsepsi perdagangan karbon mengemuka. Para negosiator dari AS menganggap mekanisme pasar sebagai upaya paling efektif dalam negosiasi iklim, di samping juga menunjang dari sisi biaya kepatuhan.

Kalkulasi keuntungan
Indonesia sudah sejak lama menyadari potensi besar dari mekanisme pasar karbon. Keterlibatan Indonesia dalam upaya Reducing of Emissions from Deforestation and Degradation (REDD) sejak 2005 menghasilkan perhitungan bahwa Indonesia adalah penyumbang terbesar emisi tata guna lahan dunia, sekitar 4,5-5,5 miliar ton per tahun. Sumbangan emisi tersebut berasal dari perubahan tata guna lahan dan fungsi ruang, kebakaran hutan, serta perusakan lahan gambut.

Berpijak pada data tersebut, jika setengah dari emisi tersebut bisa dihindari, maka akan ada 2-2,5 miliar ton penurunan emisi setiap tahunnya. Jikalau penurunan emisi tersebut dihargai sebesar US$1-2, maka potensi ekonomi yang dapat diraih sebesar US$2-5 miliar pendapatan negara tambahan untuk Indonesia.

Dari sisi sumber daya alam, Indonesia memiliki modal ekonomi dan sosial yang besar untuk berpartisipasi secara proaktif dalam pasar karbon. Salah satunya adalah kepemilikan dan penguasaan hutan bakau. Hutan mangrove memiliki keunggulan dalam menyerap karbon sebagai satu dari tiga ekosistem karbon biru. Sebaran hutan mangrove Indonesia adalah yang terluas di dunia, sekitar 3,3 juta hektar dan dapat menjadi instrumen penting dalam perdagangan karbon. Secara teknis, mangrove mampu menyerap karbondioksida, kemudian menyimpannya dalam bentuk biomassa atau stok karbon.

Selain itu, mangrove diyakini memiliki kapasitas penyerapan karbon lebih besar tiga hingga lima kali lipat hutan tropis Indonesia. Dengan keunggulan komparatif sedemikian, jika dibuat kalkulasi secara finansial, 100 hektar hutan mangrove dengan kemampuan sekuestrasi sebesar 5 ton per hektar per tahun diproyeksi bisa memperdagangkan 1.835 ton karbondioksida per tahun.

Kebijakan pemerintah
Pemerintah Indonesia di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto menyadari urgensi dan nilai ekonomis besar dari pasar karbon. Maka dari itu, dikeluarkanlah Peraturan Presiden (Perpres) No. 110/2025 tentang Penyelenggaraan Instrumen Nilai Ekonomi Karbon dan Pengendalian Emisi Gas Rumah Kaca Nasional. Dalam perpres ini, terdapat berbagai mekanisme yang mendukung skema perdagangan karbon seperti Result-Based Payment (RBP), Sistem Perdagangan Emisi (SPE), serta Mutual Recognition Arrangement (MRA).

Melalui skema ini, Indonesia sangat siap untuk membangun konektivitas dengan pasar regional dan global dan mekanisme Artikel 6 Paris Agreement. Selain secara regulatif, pemerintah sejak 2023 telah menyelenggarakan jual beli unit karbon yang dilakukan oleh Bursa Karbon Indonesia (IDX Carbon) sebagai bagian dari Bursa Efek Indonesia (BEI). Dengan pengawasan yang ketat dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK), ada dua produk yang dipasarkan, yakni pasar alokasi (allowance market) dan pasar kredit (offset market).

Selain manfaat dari sisi ekonomi, keberadaan pasar karbon akan menjadi perangkat kebijakan pemerintah dalam merangkul masyarakat lokal, khususnya masyarakat adat untuk berpartisipasi aktif dalam pemeliharaan lingkungan, terutama hutan-hutan tempat masyarakat adat tersebut bermukim. Dengan penguasaan hutan hujan tropis terbesar ketiga di dunia setelah Brazil dan Republik Demokratik Kongo, dan tersebar hampir merata dari Sumatera hingga Papua, Indonesia memiliki modal dan bargaining positionyang besar untuk mendapatkan keuntungan ekonomis dari perdagangan karbon.

Potensi ekonomi tersebut tidak terlepas dari kontribusi masyarakat lokal dan adat dalam menjaga hutan-hutan mereka dengan kearifan lokal yang mereka miliki. Oleh sebab itu, sudah semestinya potensi pendapatan negara pemerintah dari pasar karbon dikembalikan lagi ke daerah dan masyarakat untuk pemberdayaan dan pembangunan di daerah. Daerah dan masyarakat akan mendapat keuntungan ganda, yakni lingkungan yang menjadi habitat hidup mereka terpelihara dan ada suntikan finansial bagi kesejahteraan mereka.

Kewaspadaan nasional
Pasar karbon dengan segala mekanisme derivatifnya memang menjanjikan potensi ekonomi yang besar dalam bentuk pendapatan negara. Namun demikian, Indonesia sebagai bangsa dan negara yang masih dikategorikan sebagai negara berkembang (developing countries) tetap perlu memiliki kewaspadaan nasional yang tinggi terhadap semua kebijakan yang ditempuh.

Sudah menjadi habituasi negara-negara maju (North Countries) untuk melakukan kebijakan unilateris-realis yang condong pada kepentingan nasional mereka sendiri. Konseptualisasi dan implementasi pasar karbon tidak sepenuhnya bermuatan mitigasi dan adaptasi perubahan iklim. Seperti halnya konsepsi ekonomi dan industri hijau dalam skala yang lebih besar, pasar karbon adalah instrumen untuk melanggengkan keberlangsungan korporasi-korporasi besar di Amerika dan Eropa. Jika tidak dilandasi oleh kesadaran dan tobat ekologis yang kuat, pasar karbon berpotensi dijadikan sekadar “bantalan-bantalan” untuk meredam pencemaran lingkungan yang mereka lakukan.

Apa yang terjadi dalam sekup global tersebut, juga berpotensi terjadi di level domestik Indonesia. Kebijakan pemerintah untuk berkontribusi dalam penanganan dampak perubahan iklim perlu didasari oleh komitmen yang kuat yang berpijak pada filosofi dasar bahwa manusia harus senantiasa selaras dan menjaga keseimbangan alam. Pendekatan ekosentrisme harus dijadikan sebagai pedoman dalam setiap formulasi kebijakan pemerintah, bukan sebaliknya, mengarusutamakan antroposentrisme dengan mengakomodasi kepentingan para pemodal yang cenderung profit-oriented dan melakukan perusakan terhadap alam.

Komitmen pemerintah juga sudah seharusnya dimanifestasikan dalam bentuk penegakan hukum terhadap para pelaku perusakan alam, penegakan hukum tanpa pandang bulu. Akhirul kalam, partisipasi Indonesia dalam perdagangan karbon adalah sebuah kebutuhan. Namun, partisipasi yang berpijak pada komitmen tulus menjaga alam, tidak sekadar potensi ekonomi, adalah suatu keharusan.*

Hj. Ratna Juwita Sari, Anggota Komisi XII dan Badan Anggaran DPR RI Periode 2024-2029.

Komentar

Your email address will not be published.

Analisis Statistik Lanjutan Mekanisme Eliminasi Simbol Mahjong Ways 2 Dalam Ekosistem Reel Berbasis RNG
Pembacaan Data Temporal dan Pola Sistem Interaktif Kini Dianggap Lebih Presisi dalam Memetakan Aktivitas Digital
Studi Perilaku Digital Terkini Mengungkap Pergeseran Strategi Pengguna dalam Ekosistem Interaktif Modern
Kajian Teoretis Evolusi Grid Mahjong Ways 2 Dalam Pembentukan Kombinasi Melalui Mekanisme Cascading Adaptif
Pendekatan Analitik Terhadap Dinamika Komposisi Reel Mahjong Ways 3 Pada Sistem Distribusi Simbol Adaptif
Tingkat Interaksi Konten Online Terus Meningkat Seiring Kehadiran Starlight Princess
Berbagai Komunitas Digital Mulai Aktif Membahas Tren Mahjong Ways di Era Modern
Aktivitas Online di Larut Malam Semakin Dikaitkan Dengan Meningkatnya Konten Bertema Mahjong
Fenomena Scroll Online yang Kerap Menampilkan Konten Mahjong Ways ke Permukaan
Perubahan Algoritma Platform Digital Membuat Konten Mahjong Ways Semakin Sering Muncul
Pengaruh Strategis Industri Perangkat Lunak Hiburan Terhadap Pertumbuhan Ekonomi Makro Dan Penyerapan Tenaga Kerja di Sektor Digital
Investasi Berkelanjutan Pada Infrastruktur Jaringan Menjadi Kunci Utama Dalam Menjaga Stabilitas Layanan Dan Kepercayaan Konsumen
Dinamika Algoritma Real Time Diklaim Meningkatkan Kompleksitas Pengalaman Bermain Dibanding Sistem Generasi Sebelumnya
Audit Rutin Perangkat Lunak Interaktif Modern Kini Dianggap Krusial Untuk Menjaga Transparansi Dan Kejelasan Sistem Secara Menyeluruh
Sistem Prediktif Berbasis Digital Membantu Pemain Memahami Peluang Lewat Data Real Time yang Terus Berkembang
Evolusi Infrastruktur Interaktif Berbasis Data Statistik Membuka Pengalaman Baru Bagi Para Pengguna Digital Modern
Transformasi Fitur Interaktif Pragmatic Play Dalam Membentuk Pengalaman Game Digital yang Lebih Modern
Ekosistem Platform Digital Mulai Bergeser Setelah Habanero Tampil Lebih Konsisten Dan Stabil
Kajian Mendalam Algoritma Statistik Membantu Mengungkap Struktur yang Lebih Dinamis Pada Ekosistem Digital Modern
Analisis Sistem Adaptif Mahjong Ways Dalam Menyikapi Evolusi Permainan Mesin Kasino di Era Digital
Konsistensi Akses Mahjongways Kasino Online melalui Tinjauan Stabilitas Sistem dan Interaksi Sesi Permainan
Kajian Stabilitas Aksesial Mahjongways Kasino Online terhadap Kestabilan Akses dan Pola Aktivitas Sesi
Tinjauan Akses Grafis Mahjongways Kasino Online dalam Kestabilan Sistem dan Dinamika Respons Teknis Harian
Aksesometri Kestabilan Mahjongways Kasino Online melalui Observasi Respons Akses dan Ritme Sesi Permainan
Stabilometri Akses Mahjongways Kasino Online dalam Evaluasi Kestabilan Sistem dan Respons Aktivitas Harian
Distribusi Hasil Gates of Olympus melalui Observasi Simulasi Data Prediktif dalam Perspektif Analitik Digital Modern
Pola RTP dalam Simulasi Statistik Modern Membuka Arah Baru pada Neural Sintetis Regulatoris
Teknologi Infrastruktur PG Soft Mulai Mencuri Perhatian di Lanskap Hiburan Digital
Peran Besar Data dalam Membentuk dan Memperkuat Mekanisme Inti Game Online Modern
Mahjong Hadir dengan Evolusi Pola yang Jauh Berbeda dari Seri-Seri Sebelumnya
Game Penghasil Saldo DANA
Game Penghasil Saldo DANA
Game Penghasil Saldo DANA
Game Penghasil Saldo DANA
Game Penghasil Saldo DANA
Game Penghasil Saldo DANA
Game Penghasil Saldo DANA
Game Penghasil Saldo DANA
Game Penghasil Saldo DANA
Game Penghasil Saldo DANA
10 Game Penghasil Saldo Dana Gratis yang Sudah Terbukti Membayar dengan Reward Harian Menggiurkan
Rekomendasi Game Penghasil Saldo Dana Gratis Terbaik 2026 dengan Sistem Reward Harian Paling Terkini
Game Penghasil Saldo Dana Gratis Tercepat Cair dan Paling Mudah Dimainkan Siapa Saja Rekomendasi Terbaru
5 Game Penghasil Saldo Dana Gratis Tercepat Cair dengan Cara Main yang Mudah untuk Semua Kalangan
9 Game Penghasil Saldo Dana Gratis Paling Populer dan Terbukti dengan Reward Harian Paling Menguntungkan
Tinjauan Akses Grafis Mahjongways di Kasino Online dalam Kestabilan Sistem dan Dinamika Respons Teknis Harian
Observasi Kestabilan Akses Mahjongways Kasino Online melalui Respons Sesi dan Ritme Permainan Harian
Evaluasi Stabilitas Akses Mahjongways Kasino Online dalam Kestabilan Sistem dan Respons Aktivitas Harian
Observasi Distribusi Hasil Gates of Olympus melalui Simulasi Data Prediktif dalam Perspektif Analitik Digital Modern
Pola RTP dalam Simulasi Statistik Modern yang Membuka Arah Baru pada Neural Sintetis Regulatoris Digital
Go toTop

Jangan Lewatkan

Konstitusionalisme Tata Kelola Energi Nasional

JAKARTA – Keberadaan UUD NRI 1945 yang lahir bersamaan dengan

Refleksi 27 Tahun PKB: Green Party dan Komitmen Transisi Energi

JAKARTA – Sejak 2005, Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) mendeklarasikan diri
toto slot situs togel situs togel
toto slot
slot88