JAKARTA – Dini hari itu, rakyat Belanda dikagetkan oleh bunyi tembakan-tembakan senjata. Suara itu diiringi oleh dentuman-dentuman bom yang ditembakkan dari moncong meriam atau dijatuhkan dari pesawat di udara.
Di sekeliling mereka, kendaraan-kendaraan lapis baju dan prajurit dengan seragam berwarna abu-abu berbaris dari arah timur.
Pada 10 Mei 1940, rakyat Belanda bangun dengan penuh kesadaran negara mereka baru saja diserbu oleh Nazi Jerman.
Gabungan matra Wehrmacht, angkatan perang Jerman, menyerang mereka dari segala arah. Dan memberikan waktu yang sedikit bagi angkatan perang Belanda untuk merespons.
Sejarah menunjukkan hanya dalam waktu lima hari kepemimpinan militer Belanda menyerah kepada tentara Jerman. Dan pemerintahan serta Ratu Wilhelmina mengungsikan diri ke Inggris.
Tapi berkebalikan dengan respons tentara Belanda yang loyo, Wilhelmina sempat memberikan pidato bersemangat yang berapi-api.
Pada hari yang sama Jerman menyerbu Belanda, Wilhelmina memproklamasikan Vlammend Protest (protes berapi-api kepada Jerman).
Ia memprotes meskipun Belanda bersikap netral dalam konflik Eropa yang baru saja pecah, tentara Jerman tetap saja menyerbu Belanda.
“Tadi malam tentara Jerman tanpa peringatan, menyerang wilayah kita. Kendati janji suci (dari mereka) bahwa netralitas kita akan dihormati selama kita bersikap demikian,” kata Wilhelmina.
Karena itu, Wilhelmina mengutuk tindakan Jerman. “Sekarang saya akan melayangkan protes berapi-api terhadap pelanggaran itikad baik yang tidak terpuji dalam pergaulan antara negara-negara yang terhormat,” sambungnya.
Protes Wilhelmina mendapatkan reaksi yang positif dari publik Belanda dan komunitas internasional. Atas tekadnya yang bulat dalam mempertahankan kedaulatan Belanda, Perdana Menteri Inggris, Winston Churchill akan memanggil Wilhelmina ‘satu-satunya pria jantan di pemerintahan Belanda’, nantinya.
Menariknya, respons positif tidak hanya diterima Wilhelmina dari rekan-rekan sebangsanya dan negara-negara Eropa lainnya yang kontra terhadap ambisi ekspansionis Jerman. Tapi secara mengejutkan, warga jajahan Belanda di Hindia Timur juga memberikan simpati terhadap Wilhelmina.
Peneliti sejarah, Christopher Reinhart, dalam bukunya Mempertahankan Imperium: Gubernur Jenderal Tjarda van Starkenborgh Stachouwer dan Akhir Hindia Belanda menyebut rakyat Hindia Timur memandang Belanda sebagai negara kecil yang dengan berani melawan Jerman yang lebih besar.
Bukan hanya warga Eropa saja, tapi kalangan pribumi juga menunjukkan simpati mereka kepada nasib malang yang menimpa negeri induk Belanda. Bahkan, tokoh-tokoh pergerakan nasional seperti Agus Salim, Tjipto Mangoenkoesoemo, dan Sukarno mengumumkan dukungan mereka kepada Belanda.
“Kondisi ini disebut sebagai Semangat Mei 1940. Karena banyak sekali pejuang kebangsaan bumiputra Hindia Belanda mengubah nada politiknya, dan mulai berusaha untuk berdiri di belakang pemerintah Hindia Belanda,” tulis Reinhart.
Melihat kondisi ini, Gubernur Jenderal Tjarda mengusulkan agar Ratu Wilhelmina dibawa ke Hindia Timur. Gubernur Jenderal percaya langkah tersebut bisa meningkatkan moral dan kesetiaan warga pribumi di Hindia Timur terhadap Belanda.
Tapi, masukan itu ditolak oleh pemerintahan pengasingan Belanda di Inggris. Peneliti Susan Abeyasekere menilai penolakan itu dilandasi dua hal.
Pertama, orang Belanda masih merasakan rasa superioritas kebudayaan yang menempatkan mereka di atas orang-orang pribumi.
Kemudian, ada alasan politik. Belanda tidak mau memberikan kemandirian, atau otonomi lebih bagi Hindia Timur di saat pemerintahannya sendiri sedang dalam pengasingan.
Tjarda menyarankan agar Belanda yang habis kehilangan negeri induknya, mendekatkan diri kepada warga pribumi dengan semangat perluasan kemandirian.
Apabila dilakukan, maka Hindia Timur dalam waktu dekat akan menjadi negara yang bisa mengatur wilayahnya sendiri. Hal itu akan mengakibatkan Belanda tidak memiliki lagi wilayah untuk diperintah.
Gabungan superioritas dan ketidakacuhan pada simpati pribumi, dan keengganan atas kehilangan wilayah untuk diperintah, membuat Belanda menepis rencana mendatangkan Ratu Wilhelmina ke Hindia Timur.
Dengan tidak diterimanya masukan Tjarda, kesempatan Belanda untuk membangun aliansi yang bermakna dengan warga pribumi juga hilang.* (Bayu Muhammad)
