2 years ago
2 mins read

PKI Goda Pemilih Masyumi dengan Lagu dan Pesta

Kampanye Partai Masyumi pada 1995. (Foto: Gahtena NL)

JAKARTA – Keramaian warga memadati Jalan Sampurna, Surabaya, Jawa Timur, pada bulan September itu. Di antara bangunan-bangunan kolonial megah yang diisi berbagai perusahaan dagang dan bank, orang-orang menjalankan aktivitas sehari-hari.

Sebuah pemandangan yang tidak aneh, malahan lazim di kota besar seperti Surabaya. Kota yang menjadi tempat bersandarnya kapal-kapal penumpang dan barang yang berlayar dari pulau-pulau lainnya di seantero Indonesia. Tidak heran kalau pergumulan orang dan dagangan itu menghasilkan keramaian.

Namun, di balik kesan wajar kehidupan sehari-hari itu, ada perasaan gelisah yang mengaburkan suasana hati orang-orang yang berlalu lalang. Penduduk Surabaya di Jalan Sampurna tengah menghadapi pertarungan yang besar antara Partai Masyumi dan Partai Komunis Indonesia (PKI).

Saat itu, 1955. Dua partai besar itu berkampanye di kawasan sekitar Jalan Sampurna. Masing-masing pihak saling meninggikan diri dan menjatuhkan pihak lain. Propagandisnya berteriak-teriak di atas podium, berbicara semaunya.

Sesekali, kampanye mereka diadakan dalam jarak yang berdekatan. Pemandangan yang mungkin hanya bisa dilihat pada saat itu. Saat revolusi nasional Indonesia masih berlangsung. Serta gelora politik masih panas membara di hati setiap orang yang memanggil dirinya, dan sesamanya dengan kata “Bung”.

Itulah yang direkam dalam surat-surat sarjana asal Amerika Serikat (AS) Boyd R Compton yang dikumpulkan oleh Hamid Basyaib jadi buku dengan judul Kemelut Demokrasi Liberal (2021). Boyd menggambarkan kampanye Masyumi dan PKI itu secara detail.

Seperti burung merak yang ingin memukau sekitarnya, Masyumi dan PKI saling menggulirkan pidato demi pidato untuk merayu kerumunan massa di hadapannya. Dengan harapan mereka bisa meraup suara terbanyak dalam Pemilihan Umum (Pemilu) 1955 yang akan diselenggarakan.

Masyumi memulai kampanyenya dengan langsung masuk kepada inti diadakannya acara. Orator Front Muslim Anti-Komunis—organisasi terafiliasi Masyumi—langsung memuntahkan isi-isi pikirannya. Bagaikan rentetan senapan mesin, kata demi kata dikeluarkan sang orator untuk menunjukkan keunggulan pihaknya dibanding pihak sebelah.

Tampaknya, kampanye Front Muslim Anti-Komunis kali ini sukses. Sebab, hadir di hadapan mereka kerumunan berjumlah ribuan orang. Sementara itu, kampanye PKI yang diselenggarakan tak jauh dari situ baru dihadiri sekian ratus orang.

Keadaan berubah ketika kampanye Front Muslim Anti-Komunis berakhir. Secara mengejutkan, orang-orang yang tadinya menyimak propagandis Front Muslim Anti-Komunis dengan saksama bergegas ke acara kampanye PKI yang belum selesai juga.

Di sana, mereka ingin mencari hiburan. Bukan dari pidato-pidato para propagandis PKI. Namun, dari aneka hiburan yang disajikan oleh kaum merah di kampanye itu.

PKI tidak hanya memberikan pidato tentang partainya, sikap-sikapnya, dan keunggulan-keunggulannya atas politikus-politikus Muslim, tapi mengadakan pertunjukan-pertunjukan rakyat.

“Komunis menampilkan bergiliran ‘partai-partai rakyat’ mereka, lagu-lagu pesta yang meriah, pertandingan tinju, dan teater rakyat (ludruk),” tulis Boyd.

Acara itu semakin dimeriahkan dengan pengkondisian berupa pemasangan atribut-atribut partai, seperti bendera palu arit dan perhiasan lampion di sekitar lapangan tempat kampanye.

Lantas, muncul pertanyaan dalam pikiran Boyd. Alasan apa yang dipunyai para hadirin dalam acara Front Muslim Anti-Komunis sebelumnya. Jawabannya ia dapatkan dari seorang petugas keamanan berusia muda di lingkungan itu.

Boyd menuliskan jawabannya, “Masyarakat setempat hadir hanya karena rasa ingin tahu, dan bersorak-sorai hanya untuk mendorong sang tokoh (orator Front Muslim Anti-Komunis) supaya mengejek lebih tajam.”

Patut diketahui kalau petugas keamanan itu sebenarnya juga merupakan seorang komunis. Jadi keterangannya bisa saja tidak tepat.

Di sini, Masyumi dan PKI memajukan dua gaya berkampanye yang sama sekali berbeda. Masyumi mengedepankan agitasi. Sementara PKI berkreasi dengan menghadirkan hiburan untuk mengisi sela-sela sesi pidatonya yang tidak kalah agitatif sebenarnya.

Namun, keterangan yang diberikan oleh si komunis yang jadi petugas keamanan mungkin ada benarnya. Sekitar 40 kilo meter barat daya Surabaya, di Mojokerto, Boyd juga menemukan kampanye Front Muslim Anti-Komunis yang serupa.

Saat masyarakat ditanyai tanggapannya, mereka juga memberikan komentar yang tidak kalah sinis dengan yang disampaikan oleh petugas keamanan di Surabaya yang Boyd temui.

“Beberapa di antara mereka berkata kepada saya bahwa keagresifan semacam itu ‘tak menenteramkan hati’ dan tak Indonesiawi,” rekam Boyd dalam suratnya bertanggal 29 September 1955 itu.

Boyd sendiri mengobservasi jika acara Front Muslim Anti-Komunis di Mojokerto itu gagal mendatangkan kerumunan. Dan setidaknya seribu orang meninggalkan acara tersebut selama pidato disampaikan.

Pemandangan ini sebetulnya tidaklah asing. Tidak jarang kita melihat partai-partai politik berkampanye dengan cara memberikan hiburan kepada massa yang hadir pada era modern kini. Hal itu bahkan menjadi ‘kekhasan’ yang lekat kepada salah satu pasangan calon (paslon) yang berkontestasi dahulu. Dengan dampak yang signifikan bagi meningkatnya popularitas, jika bukan suara mereka.

Beberapa hal yang mungkin kita lihat beda kini adalah lagu-lagunya, koreografi-koreografinya di atas panggung, dan aktor-aktornya yang mendatangkan tawa kepada para penonton. Yang jelas,  cara itu berhasil mengambil perhatian masyarakat dahulu, dan kini.*

Komentar

Your email address will not be published.

Pengalaman Pengguna Game Penghasil Saldo DANA Lebih Cepat Adaptif Dan Efisien Dibawa Oleh Inovasi Teknologi
Pergeseran Mutu Produksi Kosmetik Terdeteksi Lebih Akurat Berkat Aliran Data Langsung
Pengalaman Pengguna Semakin Responsif Adaptif Dan Efisien Berkat Perkembangan Teknologi Modern
Momentum Tetap Terarah Dan Terkendali Dipertahankan Melalui Taktik Mode Pemburu Sic Bo Live
Keputusan Tetap Terukur Dalam Game Online Dipertahankan Melalui Pengelolaan Modal Cerdas
Kapitalisasi Pasar Dan Inovasi Kasino Online Berubah Di Tengah Disrupsi Teknologi Modern
Strategi Baru Untuk Meningkatkan Keunggulan Kompetitif Dibuka Melalui Business Model Canvas Mahjong Ways
Kualitas Sistem Mahjongways Kasino Online Dipahami Melalui Identifikasi Nilai Pembayaran Game Penghasil Saldo DANA
Perspektif Baru Dalam Menganalisis Perkembangan Mahjong Ways Dibuka Melalui Modernisasi Strategi
Kasino Menjadi Studi Sistem Informasi Bagi Mahasiswa Melalui Pelatihan Enterprise Architecture
Mahjongways Kasino Online Dijadikan Acuan Strategi Marketing dalam Lingkungan Pemerintahan
Keamanan Informasi Jadi Fondasi Utama Layanan Konsultasi Kosmetik Berbasis Teknologi
Teknologi Pemantauan Membantu Mengukur Frekuensi Pembayaran secara Lebih Objektif dan Terukur
Kajian Statistik Pola RTP Menyoroti Perkembangan Teknologi Neural Sintetis Regulatoris
Simulasi Statistik Membuka Pendekatan Baru Memahami Mahjong Game Sungai Penuh secara Terukur
Statistik Objektif Membantu Membaca Pola Mahjong Game Sungai Penuh dengan Lebih Rasional
Strategi Mahjong Game Sungai Penuh Makin Terarah melalui Pendekatan Statistik Modern
Pendekatan Data Objektif Membantu Mengkaji Mahjong Game Saldo DANA Sungai Penuh secara Lebih Terstruktur
Mahjong Game Sungai Penuh Dikaji lewat Simulasi Statistik untuk Membaca Pola Aktivitas
Aturan Mahjong Digital dari Dua Kartu Awal hingga Penentuan Rentang Nilai Game Penghasil Saldo DANA
Pendekatan Adaptif MahjongWays Kasino Online Membantu Menjaga Keseimbangan Anggaran Hiburan
Kemunculan Simbol Unik MahjongWays Kasino Online Perlu Dibaca Secara Lebih Rasional
Mahjong Ways Menarik Minat Pemain di Tengah Ketatnya Persaingan Game Digital
Pengaturan Tempo MahjongWays Kasino Online Tidak Menentukan Munculnya Kombinasi Khusus
Starlight Princess Kembali Merebut Perhatian Pemain MBG Berkat Daya Tariknya
Membaca Pola Mahjong Ways dan Tren Permainan Lewat Data Saldo DANA Terbaru
Disiplin Mental MahjongWays Kasino Online Membantu Mencegah Keputusan Finansial yang Terlalu Impulsif
Mengenal Sweet Bonanza sebagai Game Digital Online dengan Tema Manis yang Menarik
Rotasi Awal MahjongWays Kasino Online Bukan Tolok Ukur Kemurahan Sistem Permainan
Menelusuri Strategi Terbaik dalam Bermain Game Penghasil Saldo DANA Secara Lebih Mendalam
Go toTop

Jangan Lewatkan

Demokrasi Belum Tentu Makmur Sejahtera: Teropong Acemoglu & Robinson

JAKARTA – Ada buku yang selesai dibaca lalu ditaruh kembali

Rocky Gerung: Demokrasi Tidak Boleh Berhenti pada Elektabilitas, itu Mobokrasi!

JAKARTA – Perdebatan mengenai arah pemerintahan, konstelasi politik menjelang 2029,
toto slot situs togel situs togel
toto slot
slot88