MADINAH — Di tengah lautan manusia yang memadati Masjid Nabawi setiap hari, keberadaan pos layanan jemaah Indonesia menjadi titik penting yang sering kali tak terlihat, tetapi sangat dibutuhkan.
Sektor Khusus Nabawi menyiapkan lima pos pelayanan untuk membantu berbagai persoalan jemaah, mulai dari terpisah rombongan hingga kehilangan sandal.
Kepala Sektor Khusus Nabawi, Muhammad Thoriq, mengatakan lima pos tersebut tersebar di sejumlah pintu strategis Masjid Nabawi.
“Di sektor khusus Nabawi kita menyediakan 5 pos untuk pelayanan jemaah haji. Yang pertama pos 1 di pintu 336 di belakang kita ini, kemudian di pintu 328, lalu di pintu 310 pos 3, kemudian di pintu 365 dan pintu 360,” ujar Thoriq.
Pos-pos itu dijaga berbagai unsur petugas yang memiliki tugas berbeda, namun bekerja dalam satu sistem pelayanan terpadu.
“Petugas yang berada di pos-pos terdiri dari tusi linjam, tusi PKP3JH, dan tusi lansia serta disabilitas,” katanya.
Meski memiliki pembagian tugas masing-masing, Thoriq menegaskan pelayanan di lapangan dilakukan dengan prinsip multitasking. Semua petugas dituntut siap membantu kebutuhan jemaah apa pun kondisinya.
“Semua dibutuhkan jemaah. Kita di sini menerapkan prinsip multitasking. Siapapun yang berada di situ, apakah tusi linjam, tusi PKP3JH, maupun tusi landis, semuanya sama-sama melayani jemaah, apakah jemaah tersebut lansia, disabilitas, dan sebagainya,” jelasnya.
Lupa jalan pulang
Memasuki masa pendorongan jemaah dari Madinah menuju Makkah, sejumlah persoalan disebut mulai berkurang. Kasus jemaah tersasar maupun lupa jalan pulang tidak lagi sebanyak hari-hari awal kedatangan.
“Untuk saat ini permasalahan seperti jemaah tersasar, lupa jalan pulang, kemudian pisah rombongan, alhamdulillah sudah berkurang,” ujar Thoriq.
Namun, ada satu persoalan yang masih menjadi perhatian petugas: jemaah yang nekat tetap datang ke Masjid Nabawi saat masa persiapan keberangkatan, lalu lupa jalan kembali ke hotel.
“Yang kita waspadai adalah jemaah yang saat pendorongan masih ada yang nekat ke Masjid Nabawi. Kemudian setelah itu yang bersangkutan lupa jalan pulang. Nah, ini yang menjadi problem sebenarnya, tetapi sejauh ini persoalan tersebut sangat minimalislah,” katanya.
Selain persoalan tersasar dan terpisah rombongan, ada satu masalah klasik yang ternyata cukup sering terjadi: sandal hilang atau lupa ditaruh di mana. Karena itu, setiap pos layanan kini menyediakan sandal cadangan bagi jemaah.
“Lalu lupa menaruh sendal, sehingga kita di setiap pos-pos selalu menyediakan sandal cadangan untuk para jemaah supaya kaki mereka tidak melepuh, yang kemudian akan merugikan mereka ketika akan melaksanakan ibadah utama haji, yaitu di Armuzna nanti,” ujar Thoriq.
Menurutnya, persoalan kesehatan juga menjadi salah satu keluhan yang paling sering ditemui petugas di lapangan. “Antara lain kesehatan juga memang menjadi keluhan,” katanya.
Persiapan gelombang kedua
Menjelang kedatangan jemaah gelombang kedua, Sektor Khusus Nabawi juga mulai bersiap menghadapi potensi persoalan yang sama. Thoriq menyebut secara umum karakteristik jemaah gelombang pertama dan kedua tidak jauh berbeda.
“Sebenarnya secara umum tidak ada perbedaan khusus antara gelombang satu maupun gelombang kedua. Permasalahannya juga pasti sama, yaitu antara lain lupa jalan pulang, terpisah rombongan, kemudian lupa menaruh sendal, barang-barang yang tercecer, dan sebagainya,” ujarnya.
Di akhir keterangannya, Thoriq mengingatkan jemaah agar mulai menjaga kondisi fisik menjelang fase puncak haji di Armuzna.
“Imbauan kami adalah agar para jemaah mempersiapkan diri sebaik-baiknya, jaga kesehatan, dan tidak memporsir tenaga berlebihan. Karena ibadah pokok nanti di Armuzna itu sangat membutuhkan kekuatan fisik dan kesehatan yang prima.”
