BRASILIA – Kabar duka menyelimuti keluarga aktivis kemanusiaan Global Sumud Flotilla (GSF) Thiago Avila. Ibunya, Teresa Regina de Avila e Silva (63), meninggal dunia di Brasília pada Selasa (5/5/2026) kemarin waktu setempat. Thiago putranya masih berada dalam tahanan Israel tanpa akses komunikasi dengan dunia luar.
Dalam pernyataan resminya, GSF mengecam situasi tersebut sebagai bentuk “kekejaman yang tak terbayangkan”, karena Thiago tidak hanya ditahan, tetapi juga kehilangan kesempatan terakhir untuk berpamitan dengan ibunya.
GSF menyebut, hingga saat ini Thiago bahkan belum mengetahui kabar wafatnya sang ibu. Ia ditahan dalam kondisi isolasi dan tidak diberikan akses komunikasi, sehingga tidak memiliki kesempatan untuk berduka bersama keluarga maupun komunitasnya.
Teresa Regina dikenang sebagai sosok yang kuat dan penuh kasih, yang menghadapi kehidupan dengan keteguhan dan martabat. Di tengah momen terakhirnya, keluarga besar hadir memberikan dukungan, namun Thiago justru terpisah secara paksa akibat penahanan yang dialaminya.
“Ini bukan sekadar kehilangan, tetapi juga perpisahan yang dirampas,” tulis GSF dalam pernyataan resminya.
GSF menilai, kondisi ini mencerminkan praktik yang lebih luas, di mana penahanan digunakan sebagai alat tekanan psikologis dengan memutus hubungan keluarga. Situasi tersebut disebut bukan kasus tunggal, melainkan bagian dari realitas yang telah lama dialami banyak keluarga, khususnya dalam konteks konflik Palestina.
Cerminan Krisis yang Lebih Luas
GSF menegaskan bahwa penderitaan yang dialami Thiago merupakan gambaran dari pengalaman banyak tahanan lainnya, yang terpisah dari keluarga dalam waktu lama, bahkan hingga kehilangan momen penting dalam kehidupan.
Selama puluhan tahun, ribuan keluarga dilaporkan mengalami situasi serupa—orang tua meninggal saat anaknya masih ditahan, atau anggota keluarga tidak dapat hadir dalam momen kelahiran maupun kematian akibat pembatasan yang diberlakukan.
Menurut GSF, kondisi ini menunjukkan adanya pola yang lebih luas terkait perlakuan terhadap tahanan, yang tidak hanya berdampak secara fisik, tetapi juga psikologis dan sosial.
Dalam pernyataannya, GSF kembali menegaskan tuntutan agar Thiago Ávila dan rekannya, Saif Abukeshek, segera dibebaskan tanpa syarat. Organisasi tersebut juga menyerukan dilakukannya investigasi internasional independen atas dugaan pelanggaran hukum dan hak asasi manusia dalam operasi penahanan tersebut.
GSF turut mengutip pernyataan Presiden Brasil, Luiz Inacio Lula da Silva, yang menyebut penahanan Thiago sebagai tindakan yang “tidak dapat dibenarkan”.
Selain itu, komunitas internasional didorong untuk mengambil langkah konkret guna memastikan perlindungan terhadap hak-hak dasar para tahanan, termasuk hak untuk berkomunikasi dengan keluarga.
Meski diliputi duka mendalam, GSF menegaskan bahwa peristiwa ini justru memperkuat komitmen mereka dalam memperjuangkan keadilan. Kisah Teresa Regina disebut akan terus hidup melalui perjuangan putranya dan gerakan solidaritas global.
“Kami mengubah duka ini menjadi kekuatan untuk terus menuntut keadilan dan kebebasan,” demikian pernyataan GSF.
Peristiwa ini kembali menyoroti dimensi kemanusiaan dari konflik yang berlangsung, sekaligus menjadi pengingat akan pentingnya perlindungan hak asasi manusia dalam setiap situasi, termasuk dalam konteks penahanan dan konflik bersenjata.*
