WASHINGTON – Dampak konflik dengan Iran diperkirakan tidak hanya memicu lonjakan harga energi. Penutupan jalur pelayaran di Selat Hormuz berpotensi menimbulkan gelombang inflasi baru yang menjalar ke berbagai sektor industri global, mulai dari semikonduktor, peralatan medis, hingga pupuk pertanian.
Selama ini perhatian dunia lebih tertuju pada dampak penutupan Selat Hormuz terhadap pasokan minyak dan gas dunia. Namun, jalur strategis tersebut juga menjadi rute penting bagi pengiriman helium dan pupuk, dua komoditas vital yang memengaruhi banyak sektor ekonomi. Akibat kapal-kapal yang tertahan di kedua sisi selat, harga kedua komoditas tersebut mulai melonjak.
“Semakin lama situasi ini berlangsung, dampaknya akan semakin serius,” kata Rich Gottwald, CEO Compressed Gas Association, seperti dikutip Politico.
Lonjakan harga ini terjadi di tengah upaya pemerintahan Donald Trump meredam kekhawatiran publik terkait kenaikan biaya hidup. Sementara itu, kalangan Partai Republik khawatir dampak ekonomi dari konflik tersebut dapat memengaruhi peluang politik mereka pada pemilu November mendatang.
Iran kini secara efektif memblokir kapal-kapal yang melintasi Selat Hormuz—jalur yang dilalui sekitar 20 persen pasokan minyak dan gas alam dunia setiap hari. Penutupan ini telah mengguncang pasar energi global dan mendorong harga minyak mentah mendekati 100 dolar AS per barel.
Pemimpin baru Iran, Mojtaba Khamenei, bahkan menegaskan kebijakan tersebut tidak akan segera berubah. Ia menyatakan “tuas pemblokiran Selat Hormuz harus terus digunakan.”
Helium dan Semikonduktor
Selain energi, sekitar sepertiga pasokan helium dan pupuk dunia juga melewati Selat Hormuz. Menurut American Farm Bureau Federation, hampir setengah pasokan urea dunia—pupuk berbasis nitrogen—serta sekitar sepertiga pasokan amonia juga melalui jalur tersebut.
Gangguan pasokan terjadi pada saat banyak negara memulai penanaman musim semi. Data dari The Fertilizer Institute menunjukkan harga urea telah melonjak sekitar 30 persen sejak konflik dengan Iran meningkat.
“Di sisi lain, harga helium di pasar spot bahkan telah melonjak dua kali lipat sejak perang dimulai,” kata Anish Kapadia, CEO AKAP Energy.
Kondisi tersebut diperparah oleh penghentian sementara produksi gas alam cair di Qatar pada awal konflik. Negara itu merupakan salah satu produsen helium terbesar di dunia karena gas tersebut merupakan produk sampingan dari produksi LNG.
Helium sendiri merupakan komponen penting dalam berbagai industri teknologi tinggi. Produsen semikonduktor menggunakan gas ini untuk mencegah reaksi kimia tertentu dalam proses produksi.
Selain itu, mesin MRI di sektor kesehatan juga membutuhkan helium untuk mendinginkan magnet agar dapat berfungsi.
“Banyak hal di dunia tidak bisa berjalan tanpa semikonduktor, dan Anda tidak bisa membuat semikonduktor tanpa helium,” ujar Gottwald.
Gangguan pasokan helium dikhawatirkan akan berdampak luas terhadap produksi berbagai produk teknologi seperti komputer, ponsel pintar, kendaraan, hingga peralatan medis.
Menurut Kapadia, tekanan pada pasar helium bisa berlangsung berbulan-bulan karena fasilitas produksi gas di Qatar mengalami kerusakan akibat konflik. Bahkan jika Selat Hormuz dibuka kembali sekarang, pasar diperkirakan membutuhkan waktu sekitar dua bulan untuk kembali normal.
“Dampaknya sangat besar. Selain itu, helium sangat sulit disimpan dibandingkan minyak atau gas alam,” katanya.
Amerika Serikat saat ini menjadi pemasok helium terbesar dunia, disusul oleh Qatar. Namun seperti komoditas global lainnya, harga pasokan domestik juga akan terdorong naik ketika pasokan internasional terganggu.
Ancaman Lonjakan Harga Pangan
Dampak lain yang mulai terasa adalah pada sektor pertanian. Permintaan pupuk di Amerika Serikat meningkat seiring dimulainya penanaman musim semi. Presiden American Farm Bureau Federation, Zippy Duvall, memperingatkan bahwa petani kini menghadapi tekanan dari dua sisi sekaligus: kenaikan harga solar dan pupuk.
Dalam suratnya kepada Presiden Trump, ia menyebut kondisi tersebut berpotensi memicu inflasi yang lebih luas sekaligus mengancam ketahanan pangan.
“Guncangan rantai pasok ini diperkirakan akan mendorong harga input yang sudah berada pada level tertinggi menjadi semakin mahal, pada saat margin keuntungan petani sudah sangat tipis,” tulisnya.
Sebagian kebutuhan pupuk di Amerika Serikat masih bergantung pada impor. Sekitar 97 persen kalium yang digunakan di negara tersebut berasal dari luar negeri, selain 18 persen nitrogen dan 13 persen fosfat. Tanaman yang paling bergantung pada pupuk musim semi antara lain jagung, kapas, dan gandum.
Duvall bahkan mengingatkan bahwa gangguan pasokan pupuk berpotensi menimbulkan lonjakan harga pangan seperti yang terjadi setelah Invasi Rusia ke Ukraina 2022, ketika inflasi harga makanan global mencapai level tertinggi dalam 40 tahun. Namun kali ini situasinya dinilai lebih sulit karena jalur distribusi utama terhambat.
North Dakota State University Center for Agricultural Policy and Trade Studies mencatat bahwa gangguan pasokan saat ini jauh lebih kompleks.
“Gudang penyimpanan penuh, pabrik berhenti beroperasi, dan produk tidak sampai ke pasar global. Ini adalah bentuk gangguan pasokan yang lebih berat dan hampir tidak memiliki jalan keluar,” tulis lembaga tersebut.*
