TEHERAN — Perang antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran memasuki hari ke-12 dengan eskalasi yang semakin meluas. Pemerintah Iran menyatakan hampir 10.000 lokasi sipil telah menjadi sasaran serangan udara sejak konflik dimulai pada 28 Februari 2026, dengan lebih dari 1.300 warga sipil tewas.
Berdasarkan laporan Aljazeera, serangan terbaru juga menyasar sejumlah fasilitas strategis, termasuk Bandara Mehrabad di ibukota Teheran pada Selasa malam, (10/3/2026).
Di saat yang sama, Teheran meningkatkan serangan balasan terhadap wilayah Israel serta aset militer Amerika Serikat di kawasan Teluk. Eskalasi ini turut mengguncang pasar energi global dan memicu lonjakan harga minyak.
Sementara itu, tekanan politik di Washington semakin meningkat. Sejumlah anggota parlemen menuntut sidang terbuka untuk membahas tujuan perang dan mempertanyakan strategi pemerintah, di tengah meningkatnya korban di pihak militer AS dan investigasi atas serangan yang menewaskan warga sipil.
Korban Sipil dan Serangan di Iran
Pemerintah Iran menuduh pasukan AS dan Israel secara sistematis menyerang fasilitas sipil. Duta Besar Iran untuk PBB Amir Saeid Iravani menuding serangan itu menyasar rumah warga hingga fasilitas kesehatan.
Ledakan besar juga dilaporkan terjadi di kawasan permukiman di pusat Teheran setelah gelombang serangan udara Israel.
Menurut Bulan Sabit Merah Iran, sebuah bangunan hunian hancur akibat serangan dan tim penyelamat masih mencari korban di bawah reruntuhan.
Di sisi lain, Iran meningkatkan serangan balasan. Pasukan Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) meluncurkan gelombang serangan ke-37 dengan menembakkan rudal super-berat Khoramshahr selama lebih dari tiga jam.
Serangan tersebut menargetkan kota-kota Israel seperti Tel Aviv, Haifa, dan Yerusalem, serta pangkalan militer Amerika Serikat di Erbil, Manama, dan Bahrain.
Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth sebelumnya memperingatkan bahwa Hari Selasa akan menjadi hari “paling intens” dalam operasi militer tersebut. Sedikitnya delapan distrik di Teheran dilaporkan diserang dan ledakan terdengar di sejumlah kota lain di Iran.
Di tengah situasi perang, Kepala Kepolisian Iran Ahmad-Reza Radan juga memperingatkan bahwa siapa pun yang mendukung musuh negara tidak lagi akan dianggap sebagai demonstran, melainkan sebagai musuh negara.
Sementara itu, Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization) memperingatkan potensi fenomena “hujan hitam” beracun setelah serangan terhadap depot bahan bakar Iran. Asap tebal dari kebakaran fasilitas minyak bercampur dengan awan hujan dan berpotensi menghasilkan endapan yang tercemar zat berbahaya.

Ketegangan Meluas di Kawasan Teluk
Eskalasi konflik juga merembet ke negara-negara Teluk. Pasukan pertahanan Arab Saudi menyatakan berhasil mencegat gelombang drone dan rudal balistik Iran yang diarahkan ke wilayah timur kerajaan serta Pangkalan Udara Pangeran Sultan (Prince Sultan Air Base).
Sementara itu, militer Qatar melaporkan berhasil mencegat serangan rudal baru yang mengarah ke negara tersebut. Pemerintah di Doha bahkan mengeluarkan peringatan ancaman tinggi dan meminta warga tetap berada di rumah.
Di Uni Emirat Arab (UAE), sistem pertahanan udara dilaporkan berhasil mencegat 26 drone Iran, meskipun sembilan di antaranya jatuh di wilayah negara tersebut. Empat ledakan keras juga dilaporkan terdengar di Bahrain setelah sirene darurat berbunyi.
Di tengah meningkatnya ketegangan, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio melakukan komunikasi dengan Menteri Luar Negeri Saudi Faisal bin Farhan Al Saud untuk memperkuat pertahanan kawasan dari serangan Iran.
Sementara itu, Menteri Negara Urusan Luar Negeri Qatar Mohammed bin Abdulaziz Al-Khulaifi menyerukan de-eskalasi konflik dan mendesak Iran serta Amerika Serikat kembali ke meja perundingan.
Dampak konflik juga dirasakan sektor energi. Kilang minyak raksasa Ruwais di UAE menghentikan operasi sebagai langkah pencegahan setelah serangan drone. Selain itu, Operasi Perdagangan Maritim Inggris (UK Maritime Trade Operations) melaporkan dua kapal—kapal curah dan kapal kargo—terkena proyektil tak dikenal di dekat Dubai dan di Selat Hormuz.
Tekanan Politik di Amerika Serikat
Di Washington, tekanan terhadap pemerintah meningkat. Anggota Partai Demokrat di Senat AS menuntut digelarnya sidang publik setelah pengarahan tertutup pemerintah dinilai tidak menjelaskan secara jelas tujuan dan durasi perang.
Menurut Pentagon, sekitar 140 tentara AS terluka dan tujuh tewas sejak dimulainya operasi militer Operation Epic Fury.
Juru bicara Gedung Putih Karoline Leavitt menyatakan Amerika Serikat telah menyerang lebih dari 5.000 target di Iran yang terkait dengan program rudal dan nuklir.
Namun militer AS juga tengah menyelidiki serangan terhadap sebuah sekolah perempuan di Iran yang menewaskan sekitar 175 siswi, setelah muncul bukti foto yang menunjukkan kemungkinan rudal AS menjadi penyebabnya.
Selain itu, Pusat Komando AS (United States Central Command) melaporkan telah menghancurkan 16 kapal Iran yang diduga digunakan untuk menebar ranjau di sekitar Selat Hormuz.
Di tengah eskalasi konflik, lebih dari 43.000 warga Amerika telah dievakuasi dari Timur Tengah melalui penerbangan komersial dan penerbangan khusus Departemen Luar Negeri.
Situasi di Israel
Media Israel melaporkan semua rudal Iran yang ditembakkan berhasil dicegat, meski sirene serangan udara berbunyi di Tel Aviv dan wilayah tengah negara tersebut.
Namun hubungan antara Washington dan Tel Aviv dilaporkan sempat memanas. Situs berita Axios menyebut pemerintah AS tidak puas dengan serangan Israel terhadap infrastruktur energi Iran dan meminta operasi semacam itu tidak dilakukan tanpa persetujuan Washington.
Di sisi lain, direktorat keamanan siber Israel menyatakan telah mendeteksi puluhan upaya Iran meretas kamera keamanan di negara itu untuk tujuan spionase.
Utusan Khusus AS Steve Witkoff dijadwalkan mengunjungi Israel pekan depan untuk membahas koordinasi lanjutan operasi militer.

Konflik Meluas ke Lebanon dan Irak
Ketegangan juga meningkat di Lebanon. Pasukan Israel dilaporkan mengebom sebuah bangunan hunian di pusat Beirut, menyebabkan kebakaran dan kerusakan parah.
Pejabat Lebanon menyebut sedikitnya 570 orang tewas sejak awal pekan, termasuk 19 korban dalam serangan udara pada Rabu (11/3/2026).
Iran juga menuntut penyelidikan di Dewan Keamanan PBB setelah serangan Israel di Beirut menewaskan empat diplomat Iran, yang oleh Teheran disebut sebagai aksi teror. Menurut PBB, konflik tersebut telah memaksa lebih dari 667.000 orang mengungsi di Lebanon.
Sementara itu di Irak, pemerintah menegaskan negaranya tidak boleh dijadikan basis peluncuran serangan setelah beberapa wilayah terkena serangan udara. Kawasan Kurdistan, yang menampung pangkalan militer AS, juga menjadi target serangan Iran.*
