2 years ago
2 mins read

Makna Di Balik Pakaian ‘Heboh’ Sukarno

Presien RI Pertama, Sukarno. (Foto: Quora)

JAKARTA – Sosok Sukarno erat dengan gaya berpakaian yang flamboyan. Dua hal itu seperti berjalan secara beriringan dan tidak bisa dipisahkan. Hingga ketika Presiden Indonesia pertama itu dibicarakan, gaya berpakaiannya juga dibayangkan secara beriringan.

Ketika Sukarno dimunculkan dalam pikiran banyak orang, mereka membayangkannya sedang menggunakan jas yang berwarna putih, berkilau memantulkan cahaya. Atau pakaian bergaya militernya yang lengkap dengan tanda-tanda pengenal pangkat.

Ada banyak yang memujinya, tapi tidak sedikit juga orang yang menganggap perilaku Sukarno itu berlebihan.

Jangankan khalayak umum, beberapa orang terdekat Bung Besar juga pernah mengkritiknya karena itu.

Dilansir dari Historia, salah satunya adalah TB Simatupang yang saat itu menjadi Kepala Staf Angkatan Perang.

“Saya sebagai Kepala Staf Angkatan Perang memakai uniform dan memberikan hormat kepada Bung Karno yang tidak memakai uniform, sehingga dengan demikian masyarakat melihat bukan yang memakai uniform itu tinggi, tapi yang tidak pakai uniform,” kata Simatupang.

Melihat Sukarno, presiden dengan atribut-atribut militer, Simatupang menilainya keterlaluan. Dan lebih baik menggunakan pakaian sipil. Pun itu juga sudah mendatangkan rasa hormat dari rakyat kepada Sukarno.

Namun, sang presiden sulit untuk berpikir, bersikap, dan bertindak biasa-biasa saja. Sejak lama, ia merasa apapun yang diperbuatnya memiliki makna yang lebih besar lagi.

Dalam biografinya, Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia, yang ditulis oleh Cindy Adams, Sukarno menjelaskan keputusannya mengenakan pakaian-pakaian bergaya militer didasari kepada keinginannya mendatangkan kepercayaan dari rakyat.

“Kalau aku berpakaian militer maka secara mental aku berpakaian dalam selubung kepercayaan. Kepercayaan ini (nantinya) pindah kepada rakyat,” kata Sukarno kepada Cindy.

Sebab, Sukarno menilai rakyat Indonesia—yang kepercayaan dirinya rontok setelah dijajah dalam rentang waktu yang panjang—akan memilikinya kembali jika melihat pemimpin mereka tampil gagah perkasa dengan pakaiannya.

“Akan tetapi aku lebih suka memakai uniform setiap muncul di hadapan umum, oleh karena aku menyadari bahwa rakyat yang sudah diinjak-injak kolonialis lebih senang melihat Presidennya berpakaian gagah,” jelas Sukarno.

Itulah alasan di balik kebiasaan Sukarno memakai pakaian-pakaian uniform yang necis dan juga bergaya militer, terutama pada masa-masa akhir kekuasaannya.

Sebenarnya, gaya berpakaian Sukarno merupakan kebiasaannya sejak lama. Sesuatu yang sudah melekat kepada diri Sukarno sejak sebelum Indonesia merdeka.

Masih dalam bukunya Cindy Adams, Sukarno mengaku dirinya pernah mengusulkan agar anggota-anggota Partai Nasional Indonesia (PNI) yang didirikannya pada 1928 memakai seragam. Yaitu, setelan pakaian yang berlengan pendek dan celana panjang, alih-alih mengenakan sarung.

Sama seperti pada masa yang lebih kontemporer, desakan Sukarno itu menemukan pertentangan dari orang-orang di sekitarnya. Tidak sedikit dari mereka yang menilai gaya berpakaian usulan Sukarno jauh dari kepribadian nasional Indonesia. Atau dengan kata lain, tidak sesuai dengan budaya Indonesia.

Pertentangan salah satunya datang tidak lain dari Ali Sastroamidjojo yang mengusulkan agar kader-kader PNI mengenakan sarung saja.

Tapi, Sukarno tetap dengan pendiriannya. Karena, ia merasa pakaian-pakaian kuno seperti sarung dianggap rendah oleh dunia modern, terutama para penjajah.

“Di saat orang Indonesia memakai pantalon (celana), di saat itu pula ia berjalan tegap seperti setiap orang kulit putih. Akan tetapi begitu ia memasangkan lambing feodal (sarung) di sekeliling pinggangnya ia lalu berjalan dengan bungkukan badan yang abadi. Bahunya melentur ke muka. Langkahnya tidak jantan,” kata Sukarno.

Tidak hanya itu, Sukarno juga menilai pakaian-pakaian lama masyarakat Indonesia merusak mentalitas mereka selama ini. “Pada saat itu pun ia bersikap ragu dan sangat hormat dan tunduk (saat bergaya pakaian serupa),” tandas Sukarno.

Bagi Sukarno, pilihan pakaian sangat menentukan mentalitas penggunanya. Dan itu akan turut menentukan sikap dan tindakannya, terutama dalam konteks pergerakan dan revolusi nasional yang terjadi semasa hidupnya.

Ia berpakaian bak seorang jenderal untuk menimbulkan kesan bertanggung jawab. Dan ia berpakaian bak seorang warga Eropa untuk mendatangkan rasa hormat yang layak diberikan kepada seseorang yang pikirannya sudah bebas dari keraguan dan ketertundukan, dan maju.

Keduanya dinilai oleh Sukarno bisa mendatangkan rasa kagum dan hormat dari masyarakat. Untuk beberapa waktu, pendapatnya memang benar.*

Komentar

Your email address will not be published.

Pengalaman Pengguna Game Penghasil Saldo DANA Lebih Cepat Adaptif Dan Efisien Dibawa Oleh Inovasi Teknologi
Pergeseran Mutu Produksi Kosmetik Terdeteksi Lebih Akurat Berkat Aliran Data Langsung
Pengalaman Pengguna Semakin Responsif Adaptif Dan Efisien Berkat Perkembangan Teknologi Modern
Momentum Tetap Terarah Dan Terkendali Dipertahankan Melalui Taktik Mode Pemburu Sic Bo Live
Keputusan Tetap Terukur Dalam Game Online Dipertahankan Melalui Pengelolaan Modal Cerdas
Kapitalisasi Pasar Dan Inovasi Kasino Online Berubah Di Tengah Disrupsi Teknologi Modern
Strategi Baru Untuk Meningkatkan Keunggulan Kompetitif Dibuka Melalui Business Model Canvas Mahjong Ways
Kualitas Sistem Mahjongways Kasino Online Dipahami Melalui Identifikasi Nilai Pembayaran Game Penghasil Saldo DANA
Perspektif Baru Dalam Menganalisis Perkembangan Mahjong Ways Dibuka Melalui Modernisasi Strategi
Kasino Menjadi Studi Sistem Informasi Bagi Mahasiswa Melalui Pelatihan Enterprise Architecture
Mahjongways Kasino Online Dijadikan Acuan Strategi Marketing dalam Lingkungan Pemerintahan
Keamanan Informasi Jadi Fondasi Utama Layanan Konsultasi Kosmetik Berbasis Teknologi
Teknologi Pemantauan Membantu Mengukur Frekuensi Pembayaran secara Lebih Objektif dan Terukur
Kajian Statistik Pola RTP Menyoroti Perkembangan Teknologi Neural Sintetis Regulatoris
Simulasi Statistik Membuka Pendekatan Baru Memahami Mahjong Game Sungai Penuh secara Terukur
Statistik Objektif Membantu Membaca Pola Mahjong Game Sungai Penuh dengan Lebih Rasional
Strategi Mahjong Game Sungai Penuh Makin Terarah melalui Pendekatan Statistik Modern
Pendekatan Data Objektif Membantu Mengkaji Mahjong Game Saldo DANA Sungai Penuh secara Lebih Terstruktur
Mahjong Game Sungai Penuh Dikaji lewat Simulasi Statistik untuk Membaca Pola Aktivitas
Aturan Mahjong Digital dari Dua Kartu Awal hingga Penentuan Rentang Nilai Game Penghasil Saldo DANA
Pendekatan Adaptif MahjongWays Kasino Online Membantu Menjaga Keseimbangan Anggaran Hiburan
Kemunculan Simbol Unik MahjongWays Kasino Online Perlu Dibaca Secara Lebih Rasional
Mahjong Ways Menarik Minat Pemain di Tengah Ketatnya Persaingan Game Digital
Pengaturan Tempo MahjongWays Kasino Online Tidak Menentukan Munculnya Kombinasi Khusus
Starlight Princess Kembali Merebut Perhatian Pemain MBG Berkat Daya Tariknya
Membaca Pola Mahjong Ways dan Tren Permainan Lewat Data Saldo DANA Terbaru
Disiplin Mental MahjongWays Kasino Online Membantu Mencegah Keputusan Finansial yang Terlalu Impulsif
Mengenal Sweet Bonanza sebagai Game Digital Online dengan Tema Manis yang Menarik
Rotasi Awal MahjongWays Kasino Online Bukan Tolok Ukur Kemurahan Sistem Permainan
Menelusuri Strategi Terbaik dalam Bermain Game Penghasil Saldo DANA Secara Lebih Mendalam
Go toTop

Jangan Lewatkan

Tantangan Kualitas Pemimpin Politik Pasca Reformasi

JAKARTA – Pendiri Inisiatif Sabri & Saudara (ISS), Miftah Sabri,

Penjelasan Sukarno tentang Peristiwa Gerakan 30 September

JAKARTA – Peristiwa Gerakan 30 September (G30S) merupakan kejadian yang
toto slot situs togel situs togel
toto slot
slot88