BRASIL – Kemenangan kandidat petahana Luiz Inácio Lula da Silva dalam pemilihan presiden (pilpres) Brasil pada 25 Oktober 2026 mengirimkan pesan politik universal, yang melampaui batas Amerika Latin. Di tengah menguatnya populisme sayap kanan, polarisasi politik lokal, dan persaingan geopolitik global, pemilih Brasil kembali memberikan mandat kepada seorang pemimpin yang selama ini menjadi sasaran kritik kalangan konservatif, termasuk karena sikap kerasnya terhadap kebijakan Israel di Gaza.

Lula mengalahkan Flávio Bolsonaro, putra mantan Presiden Jair Bolsonaro, dengan perolehan 51,79 persen suara berbanding 48,21 persen, sebagaimana dilaporkan TRT World & Agencies (26/10/2026). Kemenangan itu memberinya masa jabatan keempat yang tidak berurutan, sekaligus menjadi kebangkitan politik yang signifikan. Lula sebelumnya tertinggal dalam putaran pertama dan tidak ada kandidat yang kalah pada putaran pertama. Dan Lula berhasil membalikkan keadaan pada putaran kedua, sejak pilpres secara langsung di Brasil digelar kembali pada 1989.
Namun, kemenangan tersebut tidak tepat dibaca semata-mata sebagai kebangkitan politik kiri. Seperti diberitakan TIME (26/10/2026), hasil Pilpres Brasil justru memperlihatkan keterbelahan masyarakat pemilih dan tingkat ketidakpercayaan terhadap kedua kandidat. Pada putaran pertama, lebih dari 33 juta warga Brasil, dari sekira 159 pemilih, yang tidak menggunakan hak pilihnya. Tingkat penolakan terhadap kedua kandidat juga cukup tinggi. Dengan demikian, kemenangan Lula lebih mencerminkan kemampuan membangun koalisi pemilih yang lebih luas, daripada kemenangan mutlak ideologi kiri atas kanan.

Mandat Elektoral: Saat Kinerja dan Kesejahteraan Menentukan Pilihan
Di sinilah relevansi konsep demokrasi substantif à la Brasil jelas terlihat. Pemilu bukan sekadar kompetisi politik berbasis popularitas atau pertarungan identitas ideologis. Dalam perspektif retrospective voting, pemilu menjadi mekanisme bagi warga negara untuk mengevaluasi rekam jejak dan kinerja pemerintahan yang sedang berkuasa, sekaligus memberikan penghargaan atau hukuman elektoral berdasarkan penilaian mereka terhadap hasil kebijakan yang telah dicapai (Key, 1966; Fiorina, 1981). Perspektif ini diperkuat oleh teori economic voting, yang menjelaskan bahwa kondisi ekonomi, pendapatan, kesempatan kerja, dan kesejahteraan masyarakat dapat menjadi pertimbangan penting dalam menentukan pilihan politik (Kramer, 1971; Hibbs, 2009).
Menjelang Pilpres Brasil 2026, kondisi sosial-ekonomi menjadi salah satu faktor penting yang membentuk penilaian pemilih terhadap pemerintahan Luiz Inácio Lula da Silva. Selama periode 2023 hingga 2025, ekonomi Brasil tumbuh rata-rata sekitar 3 persen per tahun, sementara tingkat pengangguran turun dari 9,3 persen pada kuartal II 2022, menjadi 5,4 persen pada kuartal II 2026. Angka kemiskinan juga menurun dari 31,6 persen pada 2022 menjadi 23,1 persen pada 2024. Meskipun inflasi, biaya hidup, dan ketimpangan masih membebani sebagian masyarakat, perbaikan sejumlah indikator tersebut memberikan dasar bagi pemilih untuk mengevaluasi kinerja pemerintahan petahana (CRS, 2026).
Dus, dalam perspektif retrospective voting, kemenangan Lula pada putaran kedua dapat ditafsirkan sebagai bentuk penghargaan elektoral terhadap capaian sosial ekonomi yang dinilai positif oleh sebagian pemilih, terutama kelompok berpendapatan rendah. Namun, penilaian tersebut tetap berlangsung di tengah polarisasi politik dan persaingan identitas yang kuat.
Lebih jauh, relasi faktor-faktor tersebut dapat dipahami melalui konsep democratic accountability yang dikembangkan dalam kajian Przeworski, Stokes, dan Manin (1999). Dalam kerangka ini, pemilu tidak hanya berfungsi sebagai sarana memilih pemimpin, tetapi juga sebagai mekanisme bagi masyarakat untuk mengendalikan kekuasaan dan meminta pertanggungjawaban pemerintah atas kebijakan serta hasil penyelenggaraan negara. Oleh karenanya, mandat elektoral tidak semata-mata bertumpu pada popularitas kandidat, tetapi juga berkaitan dengan kemampuan pemerintah memenuhi aspirasi, tuntutan, ekspektasi, dan kepentingan publik.
Dalam konteks Pilpres Brasil 2026, kemenangan Lula dapat dibaca melalui sejumlah kerangka konseptual tersebut. Lula berhasil mengonsolidasikan dukungan melalui isu-isu yang dekat dengan kehidupan sehari-hari masyarakat, seperti penciptaan lapangan kerja, peningkatan upah, pengurangan kemiskinan, perluasan bantuan sosial, dan perlindungan terhadap kedaulatan ekonomi nasional.
Dengan demikian, pilihan pemilih tidak semata-mata ditentukan oleh afiliasi ideologis atau popularitas kandidat, tetapi juga oleh evaluasi terhadap arah kebijakan dan manfaat sosial-ekonomi yang mereka harapkan dari pemerintahan berikutnya atau prospective voting (Watts, 2026; Johnston dkk., 2026).

Kedaulatan Brasil di Tengah Pertarungan Geopolitik Global
Jonathan Watts dalam tulisannya di The Guardian (29/10/2026) menyebut bahwa keberhasilan Lula tidak terlepas dari mobilisasi gerakan sosial, pengorganisasian relawan, dan kemampuan mengubah strategi komunikasi digital. Kampanyenya menjangkau kelompok yang sebelumnya kurang terlibat, termasuk pekerja informal dan masyarakat di kawasan Amazon. Bahkan, Lula berhasil merebut kembali simbol nasional Brasil, warna hijau dan kuning, yang sebelumnya lebih banyak diasosiasikan dengan gerakan Bolsonaro.
Gerakan Bolsonaro atau Bolsonarismo (dalam bahasa Portugis) merupakan fenomena politik sayap kanan Brasil yang berpusat pada figur Jair Bolsonaro. Gerakan ini menghimpun berbagai kelompok konservatif, nasionalis, evangelis, militer, dan pendukung liberalisme ekonomi. Basis ideologinya mencakup konservatisme sosial, antikomunisme, antipetismo, serta kritik terhadap agenda politik kiri. Lebih dari sekadar gerakan personalistik, Bolsonarismo telah berkembang menjadi jaringan politik dan sosial yang tetap memiliki pengaruh meskipun Jair Bolsonaro tidak lagi menduduki kursi kepresidenan (Brancoli, 2024).
Politik, dalam konteks ini, bukan hanya soal siapa yang menguasai negara, melainkan juga siapa yang mampu mengartikulasikan harapan dan tuntutan masyarakat.
Ada dimensi lain juga yang membuat kemenangan ini penting secara geopolitik. Brasil bukan sebuah negara pinggiran. Sebagai kekuatan ekonomi terbesar di Amerika Latin dan anggota BRICS, pilihan politiknya berpengaruh terhadap keseimbangan hubungan internasional, terutama di tengah persaingan pengaruh Amerika Serikat dan China.
Kemenangan Lula, tak pelak menjadi “tamparan” bagi Donald Trump yang berupaya memperluas pengaruh politik sayap kanan di kawasan Amerika Latin. Lula sendiri menolak menempatkan Brasil sebagai sekadar “halaman belakang” Washington. Sikap Lula tersebut menegaskan kembali orientasi politik luar negeri Brasil yang menekankan kedaulatan, multilateralisme, dan ruang diplomasi yang lebih independen (TIME & TRT World, 26/10/2026).
Isu Israel dan Batas Politik Identitas dalam Demokrasi Brasil
Menariknya, isu hubungan Brasil dengan Israel juga memberikan pelajaran tersendiri. The Times of Israel (26/10/2026) secara eksplisit menggambarkan Lula sebagai pemimpin yang anti-Israel, merujuk pada kritik keras dan tuduhannya terhadap operasi militer dan genosida yang dilakukan Israel di Gaza. Sebaliknya, Flávio Bolsonaro dikenal sebagai pendukung Israel dan memiliki kedekatan politik dengan pemerintahan Benjamin Netanyahu. Bahkan, Netanyahu sebelumnya mengundang Flávio ke Israel untuk membangun kembali hubungan bilateral kedua negara. Namun, konfigurasi politik tersebut tidak cukup untuk memenangkan Flávio.

Di sinilah pentingnya membedakan sikap terhadap kebijakan pemerintah Israel dengan sentimen terhadap bangsa atau masyarakat Yahudi (antisemitisme). Kritik Lula terhadap tindakan militer Israel tidak otomatis berarti seluruh pemilih Brasil memiliki sentimen anti-Israel, apalagi antisemitisme.
Sebaliknya, kekalahan Flávio juga tidak dapat ditafsirkan sebagai penolakan publik Brasil terhadap Israel. Belum ada bukti secara terbuka bahwa isu Israel-Palestina menjadi faktor penentu pilihan mayoritas pemilih. Isu-isu persoalan domestik, kesejahteraan, keamanan, dan kedaulatan nasional Brasil masih tampak lebih menonjol.
Pujian para pemimpin dunia memperlihatkan luasnya makna kemenangan tersebut. Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen menyebutnya sebagai kemenangan demokrasi dan multilateralisme. Presiden Meksiko Claudia Sheinbaum bahkan menyatakan bahwa rakyat Brasil telah memenangkan demokrasi (TRT World, 26/10/2026).
Kemenangan Lula tentu bukan akhir dari persoalan. Kongres Brasil masih dikuasai kekuatan konservatif, sementara kepentingan agribisnis dan pertambangan tetap menjadi tantangan bagi agenda sosial dan lingkungan pemerintahannya. Namun, satu hal telah diperlihatkan, bahwa demokrasi yang bekerja tidak harus tunduk pada tekanan geopolitik, afiliasi ideologis, ataupun preferensi kekuatan asing.
Pada akhirnya, rakyat memilih berdasarkan kepentingan dan pertimbangan mereka sendiri. Itulah esensi kedaulatan pemilih.
E.S. Raharjo. Tim Redaksi Total Politik
Referensi:
Adam Przeworski, Susan C. Stokes, dan Bernard Manin (eds.), Democracy, Accountability, and Representation, Cambridge University Press, Cambridge, 1999, https://doi.org/10.1017/CBO9781139175104.
Adriana Carranca, “Lula’s Victory in Brazil Is a Defeat for Trumpism,” TIME, New York, 26 Oktober 2026, https://time.com/article/2026/10/26/lula-brazil-election-victory-bolsonaro-trump-defeat/.
Agencies dan ToI Staff, “In Upset, Brazil’s Anti-Israel Incumbent Lula Defeats Flavio Bolsonaro in Presidential Runoff,” The Times of Israel, Yerusalem, 26 Oktober 2026, https://www.timesofisrael.com/in-upset-brazils-anti-israel-incumbent-lula-defeats-flavio-bolsonaro-in-presidential-runoff/
Congressional Research Service (CRS), “Brazil: Background and U.S. Relations, Report R46236”, 29 Oktober 2026 (update), sub-bagian “Socioeconomic Conditions,”, https://www.everycrsreport.com/files/2026-10-29_R46236_423f4844cafb269256f325c62aa917910f1254d1.html#_Toc244178976
Douglas A. Hibbs, Jr., “Voting and the Macroeconomy,” di dalam The Oxford Handbook of Political Economy, Oxford University Press, Oxford, 2009, hlm. 565–586, https://doi.org/10.1093/oxfordhb/9780199548477.003.0031.
Fernando Brancoli, Bolsonarismo: The Global Origins and Future of Brazil’s Far Right, New Rutgers University Press, Brunswick, 2024, https://doi.org/10.2307/jj.18530848.
Gerald H. Kramer, “Short-Term Fluctuations in U.S. Voting Behavior, 1896–1964,” American Political Science Review, Vol. 65, No. 1, Maret 1971, hlm. 131–143, https://doi.org/10.2307/1955049.
Jonathan Watts, “Brazil’s Victory for the Planet and Democracy: Seven Lessons from Lula’s Win,” The Guardian, London, 29 Oktober 2026, https://www.theguardian.com/world/2026/oct/29/brazil-victory-planet-democracy-lessons-lula-win.
Jake Johnston, Paola Jaimes Santamaria, dan Ivana Vasic-Lalovic, “New Paper Examines Economic and Social Progress in Brazil Since Last Presidential Election,” Center for Economic and Policy Research (CEPR), Washington, D.C., 30 September 2026, https://cepr.net/newsroom/new-paper-examines-economic-and-social-progress-in-brazil-since-last-presidential-election/
Morris P. Fiorina, Retrospective Voting in American National Elections, Yale University Press, New Haven, 1981.
V. O. Key, Jr., The Responsible Electorate: Rationality in Presidential Voting, 1936–1960, Cambridge, Belknap Press of Harvard University Press, Cambridge, Massachusetts, 1966.
TRT World dan Agencies, “Victory for ‘Democracy and Multilateralism’: World Leaders Hail Lula on Brazil Election Win,” TRT World, 26 Oktober 2026, https://www.trtworld.com/article/98b222309918.
