JAKARTA – Pippa Norris dalam Critical Citizens: Global Support for Democratic Government (1999) menemukan gejala warga di pelbagai negara demokratis yang memiliki komitmen tinggi pada demokrasi, tetapi sangat kritis terhadap jalannya demokrasi. Fenomena ini ia sebut critical citizens atau warga kritis. Bagi Juan Linz dan Alfred Stepan (1996), keadaan ketika warga tidak puas pada cara demokrasi dijalankan tetapi tetap menganggapnya sebagai sistem politik terbaik justru merupakan salah satu ciri demokrasi yang terkonsolidasi.
Namun belakangan, di pelbagai negara demokratis muncul gelombang ketidakpuasan terhadap jalannya demokrasi, yang sedikit banyak mulai menggerogoti kepercayaan pada sistem politik warisan Athena kuno ini. Studi Roberto Stefan Foa dan Yascha Mounk (2016) di Amerika Serikat menemukan bahwa kepercayaan pada demokrasi di kalangan generasi muda cenderung lebih tipis dibanding generasi yang lebih tua. Mereka menemukan sekitar 72 persen warga AS kelahiran 1930-an menganggap hidup dalam demokrasi itu “esensial”. Di kalangan kelahiran 1980-an, angkanya hanya sekitar 30%. Pola serupa mereka temukan di sejumlah negara demokratis lain seperti Inggris, Belanda, Swedia, Australia, dan Selandia Baru.
Bagaimana dengan Indonesia? Survei terbaru SMRC menunjukkan ada 70 persen warga yang menganggap bahwa walaupun ada kekurangan, demokrasi adalah sistem politik terbaik. Ini menunjukkan iman warga Indonesia pada demokrasi sangat tinggi. Artinya setiap upaya untuk mengurangi porsi demokrasi adalah tindakan yang bertentangan dengan aspirasi umumnya masyarakat Indonesia.

Walaupun komitmen pada demokrasi sangat tinggi, namun evaluasi terhadap pelaksanaannya justru menunjukkan gejala semakin negatif. Data survei SMRC menunjukkan hanya sekitar 40 persen warga yang puas dengan pelaksanaan demokrasi di Indonesia sekarang (Survei SMRC 1-10 Oktober 2026).
Sampai di sini kita bisa melihat bahwa masyarakat Indonesia masuk dalam kategori critical citizens: iman pada demokrasi sangat kuat tapi kecewa dengan pelaksanaannya. Jika sikap ini bertahan, maka konsekuensi dari kekecewaan warga adalah memberikan electoral punishment pada rezim yang sedang berkuasa.

Pertanyaan besarnya adalah sampai kapan warga mampu menjaga iman pada sistem demokrasi jika setiap waktu mereka dikecewakan dengan pelaksanaannya di lapangan? Pertanyaan ini tidak mudah dijawab.
Jawabnya nanti aja. Anda tonton dulu presentasi dan penjelasan survei terbaru SMRC dari Prof. Saiful Mujani mengenai komitmen publik pada sistem demokrasi dan evaluasi kritis warga pada pelaksanannya ini.

Saidiman Ahmad. Program Manager dan Peneliti Senior SMRC (Saiful Mujani Research and Consulting)
Sumber: https://x.com/saidiman/status/2110310317616193910; https://www.youtube.com/watch?v=-Xyrfs8XPBY
