JAKARTA – Sejumlah rilis hasil survei publik dari lembaga survei mencatatkan tingkat kepuasan publik yang berbeda terhadap kinerja pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka sepanjang 2026. Hasil survei Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC), Parameter Politik Indonesia (PPI), Median, dan Poltracking Indonesia menunjukkan tingkat kepuasan (approval rating) publik antara 44,5 persen hingga 65,4 persen.
Survei SMRC yang berlangsung pada 1–10 Oktober 2026 memperlihatkan tingkat kepuasan sebesar 44,5 persen. Angka itu terdiri atas 4,4 persen responden yang menyatakan sangat puas dan 40,1 persen cukup puas. Sebaliknya, 53,4 persen menyatakan kurang puas atau tidak puas, dengan rincian 39,1 persen kurang puas dan 14,3 persen tidak puas. Sebanyak 2,1 persen tidak tahu atau tidak menjawab.

Survei SMRC ini melibatkan 1.213 responden dengan margin of error ±2,9 persen.
Hasil sedikit berbeda muncul dalam survei PPI yang digelar pada 26 September–6 Oktober 2026. Lembaga ini mencatatkan 65,4 persen responden puas terhadap kinerja pemerintahan Prabowo–Gibran, sementara 32,5 persen menyatakan tidak puas. Sebanyak 2,1 persen tidak tahu atau tidak menjawab.

Pada survei yang sama, data PPI mencatatkan tingkat kepuasan khusus terhadap kinerja Presiden Prabowo sebesar 65,2 persen, terdiri atas 2,9 persen sangat puas dan 62,3 persen cukup puas. Sementara 28,1 persen responden menyatakan kurang puas atau tidak puas, sedangkan 6,7 persen tidak tahu atau tidak menjawab. Survei PPI melibatkan 1.200 responden dengan margin of error ±2,83 persen.

Sementara itu, survei Median pada 21 Juli–2 Agustus 2026 mencatat tingkat kepuasan masyarakat sebesar 56,2 persen. Sebanyak 36 persen responden menyatakan kurang puas atau tidak puas, sedangkan 7,8 persen tidak tahu atau tidak menjawab. Survei Median terhadap 1.212 responden tersebut memiliki margin of error ±2,76 persen.

Poltracking Indonesia, melalui survei yang dilaksanakan pada 14–20 Agustus 2026, memperlihatkan sebesar 55,1 persen responden puas dan 40,2 persen tidak puas terhadap kinerja pemerintahan Prabowo-Gibran. Sebanyak 4,7 persen tidak tahu atau tidak menjawab. Survei itu melibatkan 1.220 responden dengan margin of error ±2,9 persen.

Perbedaan hasil tersebut perlu dibaca dengan mempertimbangkan waktu pelaksanaan, rumusan pertanyaan, komposisi kategori jawaban, dan metode masing-masing lembaga. Jumlah responden keempat lembaga relatif berdekatan, yakni sekitar 1.200 orang, sementara margin of error yang dilaporkan berada pada kisaran ±2,76 hingga ±2,9 persen. Karena itu, selisih hasil tidak dapat langsung dijelaskan oleh ukuran sampel semata.
Dari sisi waktu, Median melakukan survei paling awal, disusul Poltracking, kemudian PPI dan SMRC yang periode pengumpulan datanya berdekatan pada akhir September hingga Oktober. Namun, perbedaan waktu saja tidak cukup untuk memastikan bahwa selisih kepuasan mencerminkan perubahan sikap publik, terlebih apabila pertanyaan dan prosedur surveinya tidak identik.
Seluruh survei menunjukkan adanya responden yang puas maupun tidak puas terhadap pemerintahan Prabowo–Gibran, meskipun besarnya dukungan berbeda tajam, dari 44,5 persen pada SMRC hingga sekitar 65 persen pada PPI.
Untuk membandingkan hasil secara setara, diperlukan kesamaan rumusan pertanyaan, kategori jawaban, metode pengambilan sampel, dan periode survei. Tanpa kriteria-kriteria tersebut, perbedaan angka tidak otomatis membuktikan bahwa satu lembaga lebih akurat atau bahwa kepuasan publik telah naik maupun turun.
Sumber: SMRC/PPI/Median/Poltracking Indonesia
