JAKARTA – Ada orang yang begitu lantang mengkritik pemerintah, menyoal akuntabilitas, transparansi, buruknya tata kelola.
Tetapi ketika berhadapan dengan MBG, KDMP, atau kebijakan lain, ia baca sebagai pilihan sosialistik, tiba-tiba pisau kritiknya tumpul.
Tak peduli apakah desainnya benar-benar koheren dengan pijakan sosialisme yang ia yakini.
Cukup karena ia mengenali label “sosial” di sana, maka kritik terhadap perencanaan, tata kelola, dan problem implementasinya dianggap sebagai sikap yang keliru.
Di situlah persoalannya: ideologi berubah dari alat untuk menguji kebijakan menjadi alasan untuk membenarkannya.
Ia bukan lagi bertanya, “Apakah kebijakan ini sungguh mencerminkan prinsip yang kita yakini?”
Melainkan, “Mengapa harus mengkritik, jika tangan kekuasaan sedang merangkul kita?”
Maka kritik pun kehilangan konsistensinya: prinsip yang semestinya menguji kebijakan justru dipaksa membenarkannya.
Yang lebih menyedihkan, ketika inkonsistensi itu datang dari mereka yang seharusnya menjadi penjaga moral.
Tokoh agama mestinya berdiri sedikit menjauh dari kekuasaan, bukan untuk memusuhinya, melainkan agar tetap mampu berkata: ini benar, ini salah.
Sebab kekuasaan membutuhkan cermin, bukan pengeras suara.
Namun cermin yang terlalu lama berada di ruang kekuasaan bisa kehilangan fungsinya—yang semestinya memantulkan kenyataan
pelan-pelan hanya memantulkan apa yang ingin dilihat penguasa.
Dan godaan kekuasaan memang tak selalu berupa uang. Kadang ia datang sebagai penghormatan, atau sekadar perasaan bahwa diri kita akhirnya dianggap penting.
Tak ada yang salah dengan ambisi kekuasaan. Yang berbahaya bukan keinginan untuk meraihnya, melainkan ketika demi kekuasaan seseorang mulai rikuh berkata tidak.
Sebab semakin dekat seseorang dengan kekuasaan, semakin dibutuhkan keberanian moral untuk tetap kritis—tetap mampu berkata benar ketika benar dan salah ketika salah, bahkan kepada tangan yang sedang merangkulnya.
Kritik tanpa konsistensi hanyalah fanatisme yang mengenakan pakaian intelektual.
Agama tanpa keberanian moral mudah berubah menjadi dekorasi kekuasaan.
Indah dipandang, sering dikutip, tetapi tak lagi berfungsi sebagai cermin.
Yudi Latif. Aliansi Kebangsaan
